Adra Soraya Ramadani (5), warga Jalan Baru Ancol Selatan RT 10/6 No 30 Sunter Agung, Tanjungpriok, Jakarta Utara, yang juga adik kandung Puguh Dwi Yanto (23), meninggal dunia akibat positif flu burung pada Senin (16/1). Puguh yang lebih dulu meninggal dunia karena positif flu burung pada Sabtu (7/1) malam, dalam kesehariannya memelihara unggas jenis burung merpati disekitar tempat tinggalnya, dan juga pernah memegang burung merpati yang sudah sakit dan berhubungan langsung dengan burung yang sudah mati di selokan.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emmawati mengatakan Adra Soraya Ramadhani yang merupakan adik kandung Puguh, meninggal dunia akibat positif flu burung pada Senin (16/1). "Hasil tes terakhir yang dilakukan Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan menyatakan Adra positif flu burung," kata Dien, Jumat (20/1).
Menurutnya, Adra sempat dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur dan gejala flu dan demam tak kunjung sembuh. "Hasil tes selama tiga kali terhadap sampel darah Adra menyatakan negatif flu burung, sehingga Adra dikeluarkan dari ruang isolasi karena hasil tes itu. Tetapi, terjadi kenaikan level dan Adra pun kembali ke ruang isolasi untuk menjalani tes yang sama," ujarnya.
Menurutnya, Adra sempat dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur dan gejala flu dan demam tak kunjung sembuh. "Hasil tes selama tiga kali terhadap sampel darah Adra menyatakan negatif flu burung, sehingga Adra dikeluarkan dari ruang isolasi karena hasil tes itu. Tetapi, terjadi kenaikan level dan Adra pun kembali ke ruang isolasi untuk menjalani tes yang sama," ujarnya.
Ditambahkannya, masa inkubasi virus berbeda-beda. Di beberapa kasus, kata dia, kepadatan virus berbeda-beda. "Ada banyak faktor yang mempengaruhi," katanya. Namun, kata Dien, pasca meninggalnya Puguh, Adra langsung dirawat layaknya pasien penderita H5N1.
Ditambahkannya, pihaknya juga telah memberikan Tamiflu kepada orang-orang yang sering kontak langsung dengan Puguh dan juga menyemprotkan disinfektan dirumah korban. "Kami juga telah memusnahkan unggas-unggas yang menjadi sumber penyakit di sekitar rumah Puguh," terangnya.
Sementara itu, Sriyati (48) orang tua Adra saat ditemui wartawan, menjelaskan Adra yang sebelumnya dinyatakan suspec flu burung, meninggal karena penyakit lain, yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD). "Kata dokter di RS Persahabatan dia meninggal dunia akibat mengidap penyakit DBD. Adra meninggal hari Senin (16/1) pukul 02.00 WIB dini hari di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta," ucap Sriyati.
Dijelaskannya, kondisi Adra sempat membaik setelah keluar dari ruang isolasi. "Dia berada selama 4 hari di di ruang isolasi. Setelah dinyatakan negatif flu burung, Adra dipindahkan ke ruang perawatan biasa," jelasnya.
Selama dirawat diruang inap, lanjut Sriyati, kondisi Adra membaik. Namun, setelah 2 hari berada di ruang rawat inap, kondisinya malah kembali menurun drastis. "Badannya panas tinggi, dan dokter langsung membawanya ke ruang ICU, pada hari Jumat 13 Januari 2012 jam 14.30 WIB sore. Kondisinya terus menerus menurun selama 3 hari, dan akhirnya meninggal pada Senin (16/1)," kata dia.
Anak keempat dari pasangan Sriyati (48) dan Maryono (53), dimakamkan di tempat pemakaman umum Budi Dharma semper Timur Cilincing Jakarta Utara. "Dia dikubur dekat makam kakaknya Puguh. Itu memang permintaan kami," ungkapnya.
Tetangga korban yang tidak ingin disebutkan namanya, menambahkan dirinya mempertanyakan meninggalnya adik kandung Puguh tersebut akibat penyakit DBD. Sebab, pada saat jenazahnya dibawah kerumah korban, jenazahnya berada didalam peti mati seperti jenazah Puguh saat berada dirumah korban. "Kalau memang penyakit DBD, kenapa harus memakai peti mati," tandasnya.
