![]() |
| Ilustrasi motor masuk jalan tol. [Google] |
Polisi Tangkap Enam Dalang Motor Terobos Jalan Tol
Limbah Baliho Bahayakan Pengguna Jalan Umum
Kiat Warga Ancol Cegah Banjir
Sejumlah sampah baik yang dilingkungan maupun di saluran air dibersihkan. Diharapkan dengan cara seperti ini lingkungan terasa bersih, nyaman dan asri. Dalam setiap aksi bersih-bersih itu dipimpin langsung oleh Lurah Ancol, Supeno.
Salah seorang warga yang turut kerja bakti dalam kesempatan itu, Sukarna, menuturkan, kegiatan kerja bakti yang dilaksanakan oleh warga selain menjaga kebersihan lingkungan agar terjaga dari segala jenis penyakit.
“Kegiatan kerja bakti ini juga dapat dijadikan sebagai sarana saling mengenal antara warga satu dengan yang lainnya,"tambah Sukarna.
Lurah Ancol, Supeno menuturkan, kegiatan kerja bakti yang rutin dilaksanakan selain untuk menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta Utara khususnya Kelurahan Ancol peduli lingkungan yang bersih dan nyaman, juga sebagai ajang silahturuhmi.
“Upaya kerja bakti ini dilakukan atas keinginan warga yang ingin wilayah tetap terjaga bersih,ungkap mantan Wakil Luran Ancol tersebut.
Puluhan Gubuk di Kolong Jembatan Ditertibkan
Gubuk liar yang berdiri di kolong-kolong jembatan itu ternyata bukan hanya dimanfaatkan menjadi tempat tinggal para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), namun juga dijadikan lokasi prostitusi.
"Sejak kemarin sore hingga pagi hari ini kami melakukan penertiban terhadap 51 gubuk liar yang ada di tiga kolong jembatan. Gubuk itu ternyata bukan hanya dijadikan tempat tinggal PMKS, namun juga disewakan dengan harga Rp 10 ribu per hari," kata Yusuf Madjid, Camat Pademangan, Kamis (29/1).
Ketiga lokasi kolong jembatan yang ditertibkan adalah, Jembatan Kerapu di Jalan Kerapu, Jembatan Ekor Kuning di Jalan Ekor Kuning dan Jembatan Kunir di Jalan Kunir.
Yusuf menilai, keberadaan puluhan gubuk di kolong jembatan membuat tiga lokasi tersebut menjadi kumuh serta mengotori Kali Pakin.
Penertiban yang mulai digelar sejak Rabu (28/1) sore hingga Kamis (29/1) pagi itu melibatkan 100 petugas gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, Polri dan Sudin Kebersihan.
Yusuf menyebutkan, untuk mengantisipasi kembali dimanfaatkannya tiga kolong jembatan itu menjadi hunian, pihaknya menerjunkan 10 personel Satpol PP untuk melakukan patroli setiap harinya.
"Kami juga akan berkoordinasi dengan RT/RW setempat untuk melakukan pengawasan," tutur Yusuf.
Sumber : http://beritajakarta.com/read/7910/Puluhan_Gubuk_di_Kolong_Jembatan_Ditertibkan
Pulang Belanja, Ayu Kecopetan di Atas Angkot
Pademangan 3 Tergenang
Kakak Beradik Tewas Terlindas Truk
Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor dengan truk trailer
hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa kembali terjadi di ruas jalan
Jakarta Utara. Kali ini, kakak beradik, Stenli Kenedi (12) dan Jofan
Jonatan (6) meninggal dunia setelah terlindas truk trailer B 9254 SU
saat melintas di Jl Raya Cakung Cilincing, Jakarta Utara, Senin (8/12).Reklame Raksasa di Tol Wiyoto Wiyono Dibongkar
Sebuah reklame setinggi 15 meter milik PT Citra Marga Nusaphala Persada
(CMNP) yang berdiri di atas jalan tol Wiyoto Wiyono KM 15.150, Kelurahan
Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, dibongkar Suku Dinas Pengawasan dan
Penertiban Bangunan (P2B) setempat.
Reklame raksasa tersebut diketahui tidak memiliki Rencana Tata Letak
Bangunan (RTLB) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Pembongkaran itu
sendiri dilakukan sejak Kamis (4/12) hingga Jumat (5/12) sekitar pukul
03.00.
Kepala Seksi Penertiban Sudin P2B Jakarta Utara,
Isbandi mengatakan, reklame dengan lebar 6 x 12 meter setinggi 15 meter
itu tidak memiliki izin. Sehingga keberadaannya menyalahi Perda Nomor 7
tahun 2010 tentang Perizinan Bangunan.
"Reklame itu memang
tidak memiliki RTLB dan IMB. Kami sudah berkali-kali memberikan
peringatan kepada pemilik reklame tapi tidak digubris," kata Isbandi,
Jumat (5/12).
Isbandi berharap, penertibkan ini bisa menjadi shock therapy bagi pemilik reklame lain untuk mematuhi peraturan tentang pemasangan reklame.
Sumber : http://beritajakarta.com/read/6719/Reklame_Raksasa_di_Tol_Wiyoto_Wiyono_Dibongkar#.VIOsOsng6KE
Ribuan Nasabah KJK - PEMK di Jakut Beralih ke Rentenir
PADEMANGAN - Tidak ada kepastian peminjaman dana bergulir melalui sejumlah Koperasi Jasa Keuangan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kelurahan (KJK - PEMK) di sejumlah tempat di Jakarta Utara membuat anggota koperasi beralih kembali ke rentenir. Hal ini sangat disayangkan mengingat koperasi yang notabenenya dapat mengakomodir kebutuhan pedagang kecil kini satu-persatu mulai mengundurkan diri dan memanfaatkan jasa rentenir."Enam bulan lagi koperasi kami akan mengalami kebangkrutan. Penyebabnya karena UPDB Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan DKI Jakarta belum juga mencairkan dana, semantara masyarakat sudah banyak yang menanti. Kami tidak dapat mencegah masyarakat yang beralih pada rentenir meski kami sangat menyayangkan," kata Djoko Sulantip, Ketua KJK-PEMK Papanggo.
Petugas Bongkar 70 Bangunan di Atas Saluran Pademangan
Atap Kelas Ambrol, Seorang Siswa Terluka
PADEMANGAN - Karena rapuh Dimakan rayap, plafon ruang kelas IV Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05 Pademangan Barat, di Jalan. Satria I, Pademangan Barat, Pademangan, Jakarta Utara ambrol, Selasa (26/11).
Meski tidak ada korban jiwa saat plafon seukuran 3×4 tersebut jatuh sekitar pukul 11.00 , tetapi akibat peristiwa ini membuat panik pelajar yang ketika itu melakukan aktifitas belajar mengajar.
Seorang siswa kelas IV, Wahyu Susanto,9, luka-luka di kepalanya akibat tertimpa atap hingga benjol. Akibatnya atas kejadian itu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dihentikan dan siswa dievakuasi keluar dari kelas.
Salah seorang wali murid siswa kelas IV, Siti Salama,47 mengatakan dirinya ke sekolahan ini bermaksud ingin menjemput anaknya. Saat menunggu itulah dia mengatahui adanya plafon di kelas tersebut ambrol.
“Anak saya Rahmat Putra,9, tiba-tiba keluar dari ruang kelas dan berlari menghampiri saya sambil nangis histeris sambil berteriak-teriak temannya tertimpa atap. Dia bilang Wahyu tertimpa atap kelas,” ujarnya.
Mendengar aduan itu, Siti langsung bergegas menuju kelas dan melihat plafon bagian depan kelas dekat pintu masuk rubuh. “Saat itu Wahyu berada di depan pintu, tertimpa plafon yang rubuh. Kami bersama-sama guru langsung menolongnya,” katanya.
Kepala Seksi Sarana dan Prasana Sudin Dikdas Jakarta Utara, Saeful, mengatakan sebelum terjadinya plafon sekolahan ini ambruk, pihaknya sudah mengusulkan untuk melakukan rehab terhadap sekolah tersebut. Namun, meski dua kali di usulkan hingga saat ini belum menerima anggaran untuk melaksanakan rehab.
“Jika tahun ini keluar akan kami rebah, dan jika tidak keluar kita tindak lanjuti pada 2014 nanti. SDN 05 Pagi Pademangan Barat, ini dibangun sejak tahun 1962 dengan luas lahan sekitar 850 M2. Bangunan gedung sekolahan ini di renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2008 lalu,” ujarnya.
Diakui oleh Saeful memang sekolahan ini perlu secepatnya direhab. Bahkan pada Minggu (17/11) lalu sebelum atap di kelas IV abrol pihaknya juga memperbaiki dan mengganti atap kelas V, yang rusak. Beruntung saat kejadian itu sekolah sedang libur sehingga tidak ada korban. Penyebab ambrolnya plafon ini dikarenakan dimanakan rayap dan termakan usai.
Pedagang ITC Mangga Dua Laporkan Koppas Madu ke Polda
Kekisruhan di ITC Mangga Dua terus berlanjut. Pedagang di pusat
perbelanjaan itu melaporkan Koperasi Pedagang Pasar Mangga Dua (Koppas
Madu) ke Direskrimum Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Utara karena
diduga melakukan penggelapan dana pembayaran tagihan listrik, air, dan
service charge. Pedagang menuntut pertanggungjawaban Koppas Madu dan
segera mengembalikan uang tagihan yang terlanjur disetor ke rekening
koperasi tersebut.Dalam laporan ke Polda Metro Jaya Nomor TBL/2837/VIII /2013/PMJ/Dit Reskrimum, Jefry, salah seorang pedagang mengaku telah membayar tagihan listrik, air, dan service charge pada tanggal 21 Agustus 2013 lalu. Jefry menyetorkan uang ke rekening Koppas Madu karena ada selebaran yang dikirimkan oleh Koppas Madu kepada para pedagang. Dalam selebaran itu, pedagang diminta untuk membayar tagihan listrik air dan service charge ke rekening BNI atas nama Koppas Madu yang mengklaim sebagai pengelola sah.
Jefry, yang ikut melaporkan penggelapan dana menceritakan nasib sial yang dialami dirinya bersama rekan-rekan sesama pedagang, Senin (9/9). Awalnya, Jefry sering mendapat surat ajakan untuk membayar tagihan listrik, air, dan service charge ke Koppas Madu. Oleh koperasi itu, para pedagang diiming-imingi bakal mendapat tagihan yang lebih murah dan lebih aman.
Ia pun sempat santai-santai saja karena merasa sudah membayar ke pengelola yang sah. Namun, Jeffry kaget ketika tiba-tiba awal bulan listrik diputus. "Habis kami bingung. Dikirimi surat terus-menerus dan menyatakan seolah-olah mereka pengurus yang sah berdasarkan pertemuan di Novotel, Juli. Saya kan sibuk dan tidak ada waktu mengeceknya, akhirnya saya bayar ke Koppas Madu," ucap pedagang tas di ITC Mangga Dua Lantai Dasar, Blok A No 25 ini.
Merasa tertipu, dia pun mendatangi kantor Koppas Madu dan menyerahkan bukti pembayaran. Namun hingga sekarang uangnya tak kunjung kembali seperti dijanjikan. "Jawabannya ntar sok ntar sok terus. Di kantornya juga cuma ada satu karyawan," ujar Jefry.
Nasib serupa juga dialami Antony. Berawal dari surat pemberitahuan yang disebar berkali-kali oleh Koppas Madu. Antony pun termakan rayuan koperasi palsu tersebut. Begitu aliran listrik diputus, dia tersadar. "Totalnya sekitar dua jutaan. Saya merasa dibohongi karena begitu saya cek ternyata saya termasuk orang yang belum melakukan pembayaran," kata pedagang di lantai dasar Blok B-54 ini.
Alasan Antony mau membayar ke Koppas Madu karena terpengaruh ajakan teman-temannya. "Kemudian, banyak banget surat edaran, mulai Juli. Saya jadi bingung dan termakan bujuk rayuan. Mereka (Koppas Madu pimpinan Haida dan Suresh-red) mengklaim sebagai pengelola yang sah. Lagipula siapa yang nggak terpengaruh diiming-imingi tagihan lebih murah atau pakai tarif lama," tutur pedagang tas ini
Antony pun meminta agar Koppas Madu segera mengembalikan uang miliknya dan pedagang-pedagang lain yang telanjur membayar. "Saya sudah tagih, mereka tak bisa menjawab," ujarnya.
Pantauan di lapangan Senin (9/9), pengelola ITC Mangga Dua tetap kooperatif dengan tetap menyalakan air dan listrik. Berdasarkan data di kantor pengelola ITC Mangga Dua lantai 6, dari 3.700 pedagang di ITC Mangga Dua, hanya sekitar 300 pedagang atau 10 persen yang menolak membayar tagihan listrik, air, dan service charge. (bjc)
Dua Orang Tewas Nenggak Miras Oplosan
Sementara, satu orang lainnya, Ray Setiawan masih kritis dan dalam perawatan intesnif di ICU Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara. Diketahui, korban tewas setelah menenggak miras jenis gingseng."Dua korban ini meninggal setelah meminum miras jenis gingseng di warung yang sama," kata Kapolsek Pademangan Kompol Andri Ananta, Jumat (23/8/2013). Korban tewas dan kritis ini membeli miras dari warung milik Robet Sudrajat (55) di kawasan Jalan Budi Mulia, RT 14/13, Pademangan Barat, Pademangan, Jakarta Utara. Kini Robet ditetapkan sebagai tersangka dan ia masih dalam pemeriksaan polisi.Dari warung tersangka, polisi menyita sejumlah dirigen arak dan botol miras jenis gingseng oplosan yang siap jual. Selain itu, polisi juga mengamankan uang tunai hasil penjualan miras oplosan sebesar Rp112 ribu.
Kapolsek mengatakan, pelaku meracik miras dengan cara mencampurkan air PAM, alkohol 70 persen, pasta kue, dan perasa sintetik, berupa rasa pisang, jeruk dan nangka. "Seluruh campuran itu dimasukan ke jeriken ukuran 30 liter dan didiamkan selama satu hari. Akhirnya minuman tersebut menjadi gingseng," katanya lagi.
Andri menjelaskan, terungkapnya korban tewas karena miras oplosan berawal dari informasi warga setempat. Polisi yang mengetahui itu langsung menyelidikinya. "Laporan yang baru kami terima ada tiga korban, satu tewas. Kita masih mendalami kasus ini dan mendata korbannya," kata Andri.Lebih lanjut, Andri mengatakan, Supriyadi, tewas usai menenggak miras pada Sabtu (17/8). Saat itu, rekannya, Alfarizi diminta oleh korban lainnya Ray Setiawan untuk membeli minuman ginseng di warung milik tersangka, seharga Rp50 ribu. Dan korban mendapat satu botol ukuran 1,5 liter ginseng.
"Korban yang bernama Ray masuk rumah sakit Senin (19/8) dan sampai sekarang masih dalam kondisi kritis," katanya.Tersangka Robert kepada wartawan mengaku, sudah 11 bulan menjual racikan gingsengnya. Ia membeli alkohol dari toko kimia dan meraciknya dengan air pam yang sudah dijual. Satu jamu gelas biasa dijual Rp7.000.
"Walaupun namanya gingseng tapi nggak pake gingseng. Diganti dengan pasta berbagai rasa," kata Robert.Dia mengaku, tidak tahu pasti jumlah pelanggannya. Tetapi setiap hari memang ada saja yang membeli. Meski demikian, dia sendiri belum pernah meminum racikan yang dijualnya. Dari penjualan itu dia mengaku tidak begitu mendapat penghasilan besar.
"Awalnya saya suka minum. Iseng-iseng meracik, akhirnya menjual," katanya yang awalnya jualan jamu seduh sasetan.Robert dijerat dengan pasal 146 ayat 2 jo pasal 140 Jo pasal 86 ayat 2 UU.RI No.18 thn 2012 tentang pangan, subsider pasal 136 Jo pasal 75 ayat 1 UU. RI No. 18 tahun 2012 tentang pangan dan atau pasal 196 jo pasal 98 ayat 2 dan 3 UU. RI no. 36 th 2009 tentang kesehatan dan atau Pasal 204 KUHPidana dengan ancaman pidana di atas 5 tahun.
Pengendara Keluhkan Jalan RE Martadinata Jadi Tempat Penurunan Pasir
"Harus ekstra hati-hati bila melintasi lokasi dimana banyak truk yang menurunkan pasir. Sebab pasirnya kerap berserakan ke jalan membuat kami kuatir terpeleset," kata Sumarno, 42, salah seorang pengendara di Jalan RE Martadinata, Kamis (27/6/2013).
Pria yang mengaku bekerja di perusahaan swasta di kawasan Pluit itu, berharap pemerintah kota Jakarta Utara dapat mengambil tindakan penertiban. "Kalau perlu tempat tambal ban dan pedagang kaki lima yang ada di pinggir jalan juga di berikan arahan supaya tidak ada lagi truk yang parkir seenaknya," harap dia.
Ucapan senada juga di katakan, wibowo, 34. Dirinya mengaku sempat melihat pengendara motor yang terpeleset di depan tempat penurunan pasir Jalan RE Martadinata. "Kalau hujan jalan jadi licin, kalau panas jadi berdebu. Kami yang menggunakan jalan jadi terancam," ujarnya.
Pantauan jakartautara.co di Jalan RE Martadinata tepatnya antara perlintasan kereta api hingga jembatan terdapat sejumlah lokasi penurunan pasir. Selain itu di sepanjang lokasi tersebut juga ada beberapa tempat tambal ban dan bengkel bagi truk dan para pedagang kaki lima. Aktivitas penurunan pasir dari truk ke tepi jalan juga kerap dilakukan dan menurut sumber hannya beberapa hari pasir habis karena langsung diangkut kembali untuk melayani pembelinya. Setelah itu datang lagi truk yang lain menurunkan dan begitu seterusnya.
Korban Ancol, Mulyana: Seperti Ada Dorongan Kamu Bisa!
3 Tahun Tidak Beroperasi Pompa Kampung Bandan Dipertanyakan
| Rumah pompa Jalan Lodan Raya |
Pasalnya, warga mempertanyakan keberadaan rumah pompa di Kampung Bandan yang berada di Jalan Lodan Raya tidak pernah di operasionalkan. Padahal jarak pompa Ancol dan pompa Lodan Raya tidak seberapa jauh.
"Bila pompa di Jalan Lodan Raya di operasionalkan setidaknya dapat mengurangi beban air rob kawasan Pademangan. Untuk apa ada pompa yang masih baru tetapi tidak pernah di gunakan," kata Krismanto, warga Ancol, Selasa (18/6/2013).
Ia menyanyangkan keberadaan pompa Jalan Lodan Raya yang telah di bangun sejak tahun 2011 dengan menghabiskan biaya puluhan miliar namun manfaatnya tidak di rasakan warga Jakarta. "Setahu saya sejak dibangun belum pernah digunakan. Kami berharap Dinas PU DKI Jakarta dapat memfungsikan pompa Jalan Lodan Raya. Jangan didiamkan saja nanti pompa yang masih baru itu malah rusak," tandasnnya.
Sementara itu, Dudung penjaga rumah Pompa di Jalan Lodan Raya, Jakarta Utara mengakui pompa tersebut di bawah wewenang Dinas PU DKI Jakarta. "Tiga pompa di sini masih baru dan tidak ada yang rusak. Kami belum dapat operasionalkan karena belum ada perintah dari Dinas," kata pria yang tidak memperkenankan media masuk kelokasi tersebut.
Camat : Siagakan Enam Posko Kesehatan Korban Banjir Pademangan
Keenam posko tersebut tersebar di masing-masing puskesmas dan lapangan Maspion. posko ini menyediakan tenaga medis buat warga yang terserang penyakit akibat banjir air laut yang menggenangi pemukiman warga.
"Saat ini kita sudah siapkan beberapa lokasi posko kesehatan, termasuk juga posko pengungsian jika memang nantikan dibutuhkan" kata Muhammad Effiskal didampingi Lurah M.Iqbal Pademangan Barat dan Tulus Harjo Lurah Pademangan Timur.
Ditambahkan Muhammad Iqbal ada 25 orang warga yang mengungsi di posko Maspion namun setelah air surut mereka balik kerumah masing-masing. Namun buat warga yang terserang penyakit untuk secepatnya di bawa ke posko kesehatan yang sudah disiapkan, begitu juga logistik pihaknya juga sudah mensiagakannya.
Agus 34, warga RW 4 Pademangan Barat membenarkan bahwa banyak warga di wilayahnya yang terendam banjir terserang penyakit gatal-gatal dan diare. Ia berharap Pemerintah untuk melakukan door to door ke rumah warga mengingat rumah warga jaraknya jauh dari puskesmas. " Memang Puskesmas membuka posko layanan , tapi jarak dari tempat kami tinggal sangat jauh, kalau bisa petugas yang melakukan pengecekan ke wilayah warga yang terkena banjir" tuturnya
Warga Minta Kolong Tol Pademangan Timur di Tertibkan
Siswa Sedang Try Out, Atap SDN Pademangan Ambruk
Pembangunan Apartemen di Pademangan Akibatkan Puluhan Rumah Warga Rusak










