Pemerintahan    Pendidikan    Kesehatan    Pariwisata    Perhubungan    Pelabuhan    Dukcapil    Damkar    PU Jalan    PU Air    LMK    KBN    PKK    BPN    PMS    P2B    Tokoh   

Polisi Tangkap Enam Dalang Motor Terobos Jalan Tol

Ilustrasi motor masuk jalan tol. [Google]
POLRES - Kepolisian Resort (Polres) Metropolitan Jakarta Utara, Senin (14/12) berhasil menangkap 6 orang yang terlibat langsung dalam aksi ratusan anggota komunitas motor yang konvoi memasuki  jalan tol melalui Pintu Tol Ancol Timur, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Ke-6 pelaku itu diketahui merupakan para pentolan atau otak dari penghasutan para ratusan pengendara sepeda motor ‎lainnya yang melintasi Tol Wiyoto Wiyono pada Minggu (13/12) lalu sekitar Pukul 04.00 WIB.

Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Susetio Cahyadi, mengatakan pihaknya sudah melakukan penangkapan terhadap 6 pesepeda motor yang melintasi jalan tol di wilayah hukum Polres Metro Jakarta Utara.

"Ya, memang benar otak-otak pelakunya sudah kita tangkap semalam, ada enam ‎orang, ya ratusan pengendara motor itu tidak akan masuk kalau tidak karena ke-enam orang ini, penggeraknya ini kita tangkap dan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya," ujar Susetio, Senin (14/12) kepada Suara Pembaruan.

Ia mengaku sudah membentuk tim untuk menangkap pelaku penerobosan akses masuk Jalan Tol sejak Minggu (13/12) siang lalu dengan melakukan apel di depan RS Puri Media, Kelurahan Sungai Bambu‎, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara yang merupakan tempat seorang korban peluru nyasar dirawat.

"Seluruh anggota saya kumpulkan dan saya minta kepada mereka untuk menangkap otak-otak pelaku penerobosan Jalan Tol dalam waktu paling lama 1x24 jam, d‎an akhirnya mereka berhasil menangkap ke-6 orang itu tadi malam," tambah Susetio.

Menurut Susetio terkait penerobosan ‎itu para pengendara sepeda motor itu akan dijerat dengan Undang Undang RI Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kepada seluruh pengendara sepeda motor yang melakukan konvoi di Jalan Tol Wiyoto Wiyono dan kepada ke-6 master mind akan dikenakan Pasal 160 ayat 1 KUHP tentang Penghasutan‎.

‎"Pelanggaran-pelanggaran seperti ini rupanya sudah dibiarkan oleh Polres selama bertahun-tahun dan belum ada penindakan tegas, makanya semalam sudah saya perintahkan anggota tangkap mereka semua dan kumpulkan sehingga bisa dilakukan pembinaan dan sanksi kepada masing-masing individu," lanjutnya.

Lebih lanjut, Susetio juga meminta kerja sama dengan PJR Polda Metro Jaya, Satlantaswil Jakut, serta pihak operator jalan tol untuk bekerja sama memberantas tindakan-tindakan premanisme yang melanggar aturan dan hukum yang berlaku.

"Ini memalukan institusi Polri secara keseluruhan, bukan hanya wilayah Jakarta Utara saja, makanya saya harap setiap instansi tidak menganggap hanya dirinya yang berwenang melakukan penindakan di Jalan Tol‎, kita harus koordinasi bersama untuk mencegah aksi serupa terulang kembali," tutup Susetio. 

Sebelumnya ratusan pesepeda motor menerobos Tol Wiyoto Wiyono dari Pintu Masuk Ancol, dan akhirnya keluar pada Pintu Masuk Tol Plumpang. Meski sudah dikejar oleh anggota PJR yang mengejar dan melakukan tembakan peringatan, tapi para pesepeda motor itu tetap cuek dan terus berkendara di atas jalan Tol.

Justru tembakan peringatan yang dilakukan oleh anggota PJR mengenai seorang pengendara ojek yang ada di bawah kolong tol. (sp.beritasatu.com/ju)

Limbah Baliho Bahayakan Pengguna Jalan Umum

PADEMANGAN - Limbah baliho kontruksi pipa besi mangkrak di tepian jalan Lodan Raya, Pademangan Jakarta Utara. Barang rongsokan itu sangat membahayakan baik pengendara motor, sepeda maupun pejalan kaki, pemilik baliho maupun Pemerintah Kota Jakarta Utara diharapkan dapat menertibkannya sebelum ada korban. (red)

Kiat Warga Ancol Cegah Banjir

Warga dan aparat Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara setiap Minggu pagi rutin melaksanakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungannya.

Sejumlah sampah baik yang dilingkungan maupun di saluran air dibersihkan. Diharapkan dengan cara seperti ini lingkungan terasa bersih, nyaman dan asri. Dalam setiap aksi bersih-bersih itu dipimpin langsung oleh Lurah Ancol, Supeno.

Salah seorang warga yang turut kerja bakti dalam kesempatan itu, Sukarna, menuturkan, kegiatan kerja bakti yang dilaksanakan oleh warga selain menjaga kebersihan lingkungan agar terjaga dari segala jenis penyakit.
“Kegiatan kerja bakti ini juga dapat dijadikan sebagai sarana saling mengenal antara warga satu dengan yang lainnya,"tambah Sukarna.

Lurah Ancol, Supeno menuturkan, kegiatan kerja bakti yang rutin dilaksanakan selain untuk menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta Utara khususnya Kelurahan Ancol peduli lingkungan yang bersih dan nyaman, juga sebagai ajang silahturuhmi.

 “Upaya kerja bakti ini dilakukan atas keinginan warga yang ingin wilayah tetap terjaga bersih,ungkap mantan Wakil Luran Ancol tersebut.

Puluhan Gubuk di Kolong Jembatan Ditertibkan

Pembenahan serta penataan kota terus dilakukan pihak Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Salah satu sasaran penertiban adalah gubuk liar yang berada di kolong-kolong jembatan di wilayah tersebut.

Gubuk liar yang berdiri di kolong-kolong jembatan itu ternyata bukan hanya dimanfaatkan menjadi tempat tinggal para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), namun juga  dijadikan lokasi prostitusi.
"Sejak kemarin sore hingga pagi hari ini kami melakukan penertiban terhadap 51 gubuk liar yang ada di tiga kolong jembatan. Gubuk itu ternyata bukan hanya dijadikan tempat tinggal PMKS, namun juga disewakan dengan harga Rp 10 ribu per hari," kata Yusuf Madjid, Camat Pademangan, Kamis (29/1).
Ketiga lokasi kolong jembatan yang ditertibkan adalah, Jembatan Kerapu di Jalan Kerapu, Jembatan Ekor Kuning di Jalan Ekor Kuning dan Jembatan Kunir di Jalan Kunir.
Yusuf menilai, keberadaan puluhan gubuk di kolong jembatan membuat tiga lokasi tersebut menjadi kumuh serta mengotori Kali Pakin.
Penertiban yang mulai digelar sejak Rabu (28/1) sore hingga Kamis (29/1) pagi itu melibatkan 100 petugas gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, Polri dan Sudin Kebersihan.
Yusuf menyebutkan, untuk mengantisipasi kembali dimanfaatkannya tiga kolong jembatan itu menjadi hunian, pihaknya menerjunkan 10 personel Satpol PP untuk melakukan patroli setiap harinya. 
"Kami juga akan berkoordinasi dengan RT/RW setempat untuk melakukan pengawasan," tutur Yusuf.

Sumber :  http://beritajakarta.com/read/7910/Puluhan_Gubuk_di_Kolong_Jembatan_Ditertibkan

Pulang Belanja, Ayu Kecopetan di Atas Angkot

Ayu Niviati (19), warga Keramat Jaya, Koja, Jakarta Utara menjadi korban pencopetan di atas mobil angkutan kota (angkot). Dia mengaku terkejut saat mendapati dompetnya telah raib di dalam tasnya.
 
Ayu mengungkapkan, peristiwa itu bermula saat dirinya dan kekasihnya, Andi (22), baru saja pulang berbelanja di kawasan Mangga Dua, dengan menaiki angkot M15 menuju Ancol.

Pada saat bersamaan, pelaku yang diketahui Asep Supriadi (34), membuntutinya dan ikut naik ke angkot.

"Saya curiga dengan seorang yang di samping saya, dia tergesa-gesa hendak turun. Setelah saya kebingungan kehilangan dompet dia langsung bergegas turun," terang Ayu saat ditemui di Mapolsek Pademangan, Jakarta Utara, Kamis (18/12/2014).

Sadar dirinya telah menjadi korban pencopetan, Ayu langsung meneriaki pelaku. Pacar korban, Andi kemudian mengejar pelaku.

"Saat di Jalan RE Martadinata sebelum Ancol pelaku berhasil ditangkap oleh Andi (pacar Ayu) dengan dibantu warga" ungkapnya.

Beruntung, polisi yang sedang berpatroli langsung mengamankan pelaku sehingga berhasil lolos dari amukan massa.

Kapolsek Pademangan, Kompol Benny menjelaskan, pelaku nekat melakukan aksinya dikarenakan tidak memiliki uang lantaran sudah lama menganggur.

"Pelaku sudah lama kehilangan pekerjaannya, sehingga nekat mencopet," terang Kompol Benny.
Pelaku diancam Pasal 363 KUHP tentang tindak pidana Pencurian dengan ancaman di atas lima tahun penjara.

Sumber : http://news.okezone.com/read/2014/12/18/338/1081188/pulang-belanja-ayu-kecopetan-di-atas-angkot

 

Pademangan 3 Tergenang

, hujan deras sebentar saja membuat daerah pademangan 3 tergenang, karena saluran yg tdk berfungsi

Kakak Beradik Tewas Terlindas Truk


ilustrasi_orang_meninggal.jpgKecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor dengan truk trailer hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa kembali terjadi di ruas jalan Jakarta Utara. Kali ini, kakak beradik, Stenli Kenedi (12) dan Jofan Jonatan (6) meninggal dunia setelah terlindas truk trailer B 9254 SU saat melintas di Jl Raya Cakung Cilincing, Jakarta Utara, Senin (8/12).
 

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebelum kejadian, Stenli dan adiknya Jofan dibonceng sang ayah, Sofyan Lesmana (39) yang mengendarai sepeda motor Yamaha Vega bernopol B 3303 TDO. Selain Stenli dan Jofan, turut juga Wiliam Saputra (3) dan Noval Raihan (9) yang dibonceng dalam satu motor oleh sang ayah yang tercatat sebagai warga Jl Pademangan Timur IV, Gg 14, No 1, RT 11/08, Pademangan Timur, Pademangan.  

Awalnya, ayah dan keempat anaknya itu melaju beriringan dengan truk trailer yang dikemudikan Asim Ashari (21) dari arah Cakung menuju Cilincing. Namun, setibanya di Kebon Baru, Semper Barat, sang ayah yang hendak mendahului truk dari lajur kiri justru tergelincir dan jatuh lantaran kondisi jalanan yang tidak begitu mulus. 

Tragisnya lagi, pengendara dan penumpang motor justru jatuh ke lajur kanan dimana di saat yang bersamaan tengah melaju truk trailer yang dikemudikan Asim hingga melindas para korban. Alhasil, Stenli dan Jofan langsung tewas di lokasi kejadian dengan kondisi kepala pecah. Sementara sang ayah dan dua anaknya yang lain langsung dilarikan ke RSUD Koja. Hingga berita ini diturunkan, ketiga korban yang dirawat di RSUD Koja masih dalam kondisi kritis. 

Kanit Lantas Polsek Cilincing, AKP Iskandar mengatakan, kecelakaan terjadi diduga karena sepeda motor yang dikendarai korban tergelincir hingga terjatuh. Kemudian, dari saat yang hampir bersamaan melintas truk trailer hingga melindas para korban.

"Karena tergelincir motor terjatuh ke kanan. Pada saat itu juga roda depan sebelah kiri trailer melindas pembonceng sepeda motor," ujar Iskandar, Senin (8/12).

Kedua kendaraan yang terlibat kecelakaan serta sopir truk trailer saat ini sudah diamankan di Satwil Lantas Polres Jakarta Utara.

Sumber : http://beritajakarta.com/read/6778/Kakak_Beradik_Tewas_Terlindas_Truk
 

Reklame Raksasa di Tol Wiyoto Wiyono Dibongkar

Reklame Raksasa di Tol Wiyoto Wiyono Ditertibkan 
Sebuah reklame setinggi 15 meter milik PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) yang berdiri di atas jalan tol Wiyoto Wiyono KM 15.150, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, dibongkar Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) setempat.
Reklame raksasa tersebut diketahui tidak memiliki Rencana Tata Letak Bangunan (RTLB) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Pembongkaran itu sendiri dilakukan sejak Kamis (4/12) hingga Jumat (5/12) sekitar pukul 03.00. 
Kepala Seksi Penertiban Sudin P2B Jakarta Utara, Isbandi mengatakan, reklame dengan lebar 6 x 12 meter setinggi 15 meter itu tidak memiliki izin. Sehingga keberadaannya menyalahi Perda Nomor 7 tahun 2010 tentang Perizinan Bangunan.
"Reklame itu memang tidak memiliki RTLB dan IMB. Kami sudah berkali-kali memberikan peringatan kepada pemilik reklame tapi tidak digubris," kata Isbandi, Jumat (5/12).
Isbandi berharap, penertibkan ini bisa menjadi shock therapy bagi pemilik reklame lain untuk mematuhi peraturan tentang pemasangan reklame. 

Sumber : http://beritajakarta.com/read/6719/Reklame_Raksasa_di_Tol_Wiyoto_Wiyono_Dibongkar#.VIOsOsng6KE

Ribuan Nasabah KJK - PEMK di Jakut Beralih ke Rentenir

PADEMANGAN - Tidak ada kepastian peminjaman dana bergulir melalui sejumlah Koperasi Jasa Keuangan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kelurahan (KJK - PEMK) di sejumlah tempat di Jakarta Utara membuat anggota koperasi beralih kembali ke rentenir. Hal ini sangat disayangkan mengingat koperasi yang notabenenya dapat mengakomodir kebutuhan pedagang kecil kini satu-persatu mulai mengundurkan diri dan memanfaatkan jasa rentenir.

"Kami sebenarnya sudah lama tidak berhubungan dengan rentenir atau bank keliling namun mau bagaimana lagi kami butuh modal untuk usaha. Sementara menunggu pinjaman dana dari koperasi yang ada di kelurahan belum juga di cairkan," kata Ny. Siti, 43, salah seorang warga Pademangan kepada jakartautara.co, Minggu (27/4/2014).

 "Hampir satu tahun kami menunggu pinjaman koperasi tetapi belum juga dapat. Bahkan ada yang lebih dari satu tahun. Kabarnya dari atas belum menurunkan dananya di koperasi Kelurahan," tambahn dia.

Kondisi tersebut dibenarkan pengurus KJK PEMK Pademangan Barat, Mulyono. Menurutnya kini koperasi yang di kelolanya mengalami kemunduran bahkan terancam bangkrut.  "Kami nyaris tidak lagi dapat beroperasi karena Dinas Koperasi DKI Jakarta belum juga menggulirkan dananya. Ratusan  nasabah kami pun sudah banyak yang mengambil dana simpanannya dan mereka memilih minjam dana pada rentenir," ucapnya.

Hal yang serupa juga dialami pengurus KJK PEMK Ancol, KJK PEMK Sungai Bambu, KJK PEMK Papanggo dan sejumlah KJK lainnya di Jakarta Utara. Mereka tidak mengelak bila kini ribuan anggota Koperasi di Jakarta Utara telah beralih ke rentenir.

"Enam bulan lagi koperasi kami akan mengalami kebangkrutan. Penyebabnya karena UPDB Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan DKI Jakarta belum juga mencairkan dana, semantara masyarakat sudah banyak yang menanti. Kami tidak dapat mencegah masyarakat yang beralih pada rentenir meski kami sangat menyayangkan," kata Djoko Sulantip, Ketua KJK-PEMK Papanggo. 


Petugas Bongkar 70 Bangunan di Atas Saluran Pademangan



PADEMANGAN TIMUR - Sedikitnya 70 bangunan di atas saluran Jalan Pademangan V, RW 08 Kelurahan Pademangan Timur, Pademangan, Jakarta Utara di bongkar paksa petugas gabungan, Selasa (3/12/2013). Penertiban bangunan yang di pimpin Wakil Camat Pademangan Yudhi Dwi Dharma berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Sekitar 200 petugas gabungan yang terdiri dari unsur Pol PP, Polisi, TNI, tokoh masyarakat dan RT/RW serta unit kecamatan terkait mulai melakukan aksinya hingga siang hari.


"Sebelumnya pemilik bangunan yang berada diatas saluran telah kami berikan surat edaran. Jumlahnya ada 78 orang namun bangunannya sekitar 70," kata Yudhi didampingi Kasi PU Tata Air Kecamatan Pademangan, Dodi 
Firmansyah. 

Dikatakannya, penertiban bangunan di saluran sepanjang kurang lebih 1KM dengan lebar 3 meter juga bertujuan sebagai tindak lanjut dari intruksi gubernur (Ingub) Nomor 36 Tahun 2013 tentang refungsionalisasi saluran, waduk, kali dan sungai.

"Kami menindaklanjuti intruksi gubernur. Apalagi saat ini akan musim penghujan tidak boleh saluran terhambat," ucapnya. 

Namun, meski begitu, kata Yudhi, pihaknya telah melakukan sosialisasi terhadap warga. "Alhamdulillah warga mengerti bahkan banyak warga yang membongkar bangunannya sendiri dan memberikan minum petugas kami," jelasnya. 

"Kami berharap warga tidak lagi mendirikan bangunan apapun di atas saluran dan dapat merawat saluran dari kebersihan dan sampah. Sebab bila petugas kami ingin menormalisasi saluran akan kesulitan bila masih banyak bangunannya," timpal Dodi, Kepala Seksi PU Air Pademangan.

Sementara itu, Slamet, 40, salah seorang warga RW 08 Pademangan Timur mengaku pasrah bangunanya di bongkar petugas. "Ya tidak apa-apa kami pasrah saja karena bangunan kami hanya atap saja, bukan untuk kamar. Kami tidak sempat membongkar sendiri," akunya.

Atap Kelas Ambrol, Seorang Siswa Terluka

PADEMANGAN - Karena rapuh Dimakan rayap, plafon ruang kelas IV Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05 Pademangan Barat, di Jalan. Satria I, Pademangan Barat, Pademangan, Jakarta Utara ambrol, Selasa (26/11).

Meski tidak ada korban jiwa saat plafon seukuran 3×4 tersebut jatuh sekitar pukul 11.00 , tetapi akibat peristiwa ini membuat panik pelajar yang ketika itu melakukan aktifitas belajar mengajar.

Seorang siswa kelas IV, Wahyu Susanto,9, luka-luka di kepalanya akibat tertimpa atap hingga benjol. Akibatnya atas kejadian itu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dihentikan dan siswa dievakuasi keluar dari kelas.

Salah seorang wali murid siswa kelas IV, Siti Salama,47 mengatakan dirinya ke sekolahan ini bermaksud ingin menjemput anaknya. Saat menunggu itulah dia mengatahui adanya plafon di kelas tersebut ambrol.

“Anak saya Rahmat Putra,9, tiba-tiba keluar dari ruang kelas dan berlari menghampiri saya sambil nangis histeris sambil berteriak-teriak temannya tertimpa atap. Dia bilang Wahyu tertimpa atap kelas,” ujarnya.

Mendengar aduan itu, Siti langsung bergegas menuju kelas dan melihat plafon bagian depan kelas dekat pintu masuk rubuh. “Saat itu Wahyu berada di depan pintu, tertimpa plafon yang rubuh. Kami bersama-sama guru langsung menolongnya,” katanya.

Kepala Seksi Sarana dan Prasana Sudin Dikdas Jakarta Utara, Saeful, mengatakan sebelum terjadinya plafon sekolahan ini ambruk, pihaknya sudah mengusulkan untuk melakukan rehab terhadap sekolah tersebut. Namun, meski dua kali di usulkan hingga saat ini belum menerima anggaran untuk melaksanakan rehab.

“Jika tahun ini keluar akan kami rebah, dan jika tidak keluar kita tindak lanjuti pada 2014 nanti. SDN 05 Pagi Pademangan Barat, ini dibangun sejak tahun 1962 dengan luas lahan sekitar 850 M2. Bangunan gedung sekolahan ini di renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2008 lalu,” ujarnya.
Diakui oleh Saeful memang sekolahan ini perlu secepatnya direhab. Bahkan pada Minggu (17/11) lalu sebelum atap di kelas IV abrol pihaknya juga memperbaiki dan mengganti atap kelas V, yang rusak. Beruntung saat kejadian itu sekolah sedang libur sehingga tidak ada korban. Penyebab ambrolnya plafon ini dikarenakan dimanakan rayap dan termakan usai.

Pedagang ITC Mangga Dua Laporkan Koppas Madu ke Polda


Kekisruhan di ITC Mangga Dua terus berlanjut. Pedagang di pusat perbelanjaan itu melaporkan Koperasi Pedagang Pasar Mangga Dua (Koppas Madu) ke Direskrimum Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Utara karena diduga melakukan penggelapan dana pembayaran tagihan listrik, air, dan service charge. Pedagang menuntut pertanggungjawaban Koppas Madu dan segera mengembalikan uang tagihan yang terlanjur disetor ke rekening koperasi tersebut.

Dalam laporan ke Polda Metro Jaya Nomor TBL/2837/VIII /2013/PMJ/Dit Reskrimum, Jefry, salah seorang pedagang mengaku telah membayar tagihan listrik, air, dan service charge pada tanggal 21 Agustus 2013 lalu. Jefry menyetorkan uang ke rekening Koppas Madu karena ada selebaran yang dikirimkan oleh Koppas Madu kepada para pedagang. Dalam selebaran itu, pedagang diminta untuk membayar tagihan listrik air dan service charge ke rekening BNI atas nama Koppas Madu yang mengklaim sebagai pengelola sah.

Jefry, yang ikut melaporkan penggelapan dana menceritakan nasib sial yang dialami dirinya bersama rekan-rekan sesama pedagang, Senin (9/9). Awalnya, Jefry sering mendapat surat ajakan untuk membayar tagihan listrik, air, dan service charge ke Koppas Madu. Oleh koperasi itu, para pedagang diiming-imingi bakal mendapat tagihan yang lebih murah dan lebih aman.

Ia pun sempat santai-santai saja karena merasa sudah membayar ke pengelola yang sah. Namun, Jeffry kaget ketika tiba-tiba awal bulan listrik diputus. "Habis kami bingung. Dikirimi surat terus-menerus dan menyatakan seolah-olah mereka pengurus yang sah berdasarkan pertemuan di Novotel, Juli. Saya kan sibuk dan tidak ada waktu mengeceknya, akhirnya saya bayar ke Koppas Madu," ucap pedagang tas di ITC Mangga Dua Lantai Dasar, Blok A No 25 ini.

Merasa tertipu, dia pun mendatangi kantor Koppas Madu dan menyerahkan bukti pembayaran. Namun hingga sekarang uangnya tak kunjung kembali seperti dijanjikan. "Jawabannya ntar sok ntar sok terus. Di kantornya juga cuma ada satu karyawan," ujar Jefry.

Nasib serupa juga dialami Antony. Berawal dari surat pemberitahuan yang disebar berkali-kali oleh Koppas Madu. Antony pun termakan rayuan koperasi palsu tersebut. Begitu aliran listrik diputus, dia tersadar. "Totalnya sekitar dua jutaan. Saya merasa dibohongi karena begitu saya cek ternyata saya termasuk orang yang belum melakukan pembayaran," kata pedagang di lantai dasar Blok B-54 ini.

Alasan Antony mau membayar ke Koppas Madu karena terpengaruh ajakan teman-temannya. "Kemudian, banyak banget surat edaran, mulai Juli. Saya jadi bingung dan termakan bujuk rayuan. Mereka (Koppas Madu pimpinan Haida dan Suresh-red) mengklaim sebagai pengelola yang sah. Lagipula siapa yang nggak terpengaruh diiming-imingi tagihan lebih murah atau pakai tarif lama," tutur pedagang tas ini

Antony pun meminta agar Koppas Madu segera mengembalikan uang miliknya dan pedagang-pedagang lain yang telanjur membayar. "Saya sudah tagih, mereka tak bisa menjawab," ujarnya.

Pantauan di lapangan Senin (9/9), pengelola ITC Mangga Dua tetap kooperatif dengan tetap menyalakan air dan listrik. Berdasarkan data di kantor pengelola ITC Mangga Dua lantai 6, dari 3.700 pedagang di ITC Mangga Dua, hanya sekitar 300 pedagang atau 10 persen yang menolak membayar tagihan listrik, air, dan service charge. (bjc)



Dua Orang Tewas Nenggak Miras Oplosan

PADEMANGAN-Korban tewas akibat minuman keras (miras) oplosan kian meraja lela. Setelah 16 orang tewas di Kemayoran, Jakarta pusat, kini dua warga Pademangan, Jakarta Utara, Supriyadi (39) dan Mulyadi alias Charles, meregang nyawa.

Sementara, satu orang lainnya, Ray Setiawan masih kritis dan dalam perawatan intesnif di ICU Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara. Diketahui, korban tewas setelah menenggak miras jenis gingseng."Dua korban ini meninggal setelah meminum miras jenis gingseng di warung yang sama," kata Kapolsek Pademangan Kompol Andri Ananta, Jumat (23/8/2013). Korban tewas dan kritis ini membeli miras dari warung milik Robet Sudrajat (55) di kawasan Jalan Budi Mulia, RT 14/13, Pademangan Barat, Pademangan, Jakarta Utara. Kini Robet ditetapkan sebagai tersangka dan ia masih dalam pemeriksaan polisi.Dari warung tersangka, polisi menyita sejumlah dirigen arak dan botol miras jenis gingseng oplosan yang siap jual. Selain itu, polisi juga mengamankan uang tunai hasil penjualan miras oplosan sebesar Rp112 ribu.

Kapolsek mengatakan, pelaku meracik miras dengan cara mencampurkan air PAM, alkohol 70 persen, pasta kue, dan perasa sintetik, berupa rasa pisang, jeruk dan nangka. "Seluruh campuran itu dimasukan ke jeriken ukuran 30 liter dan didiamkan selama satu hari. Akhirnya minuman tersebut menjadi gingseng," katanya lagi.

Andri menjelaskan, terungkapnya korban tewas karena miras oplosan berawal dari informasi warga setempat. Polisi yang mengetahui itu langsung menyelidikinya. "Laporan yang baru kami terima ada tiga korban, satu tewas. Kita masih mendalami kasus ini dan mendata korbannya," kata Andri.Lebih lanjut, Andri mengatakan, Supriyadi, tewas usai menenggak miras pada Sabtu (17/8). Saat itu, rekannya, Alfarizi diminta oleh korban lainnya Ray Setiawan untuk membeli minuman ginseng di warung milik tersangka, seharga Rp50 ribu. Dan korban mendapat satu botol ukuran 1,5 liter ginseng.

"Korban yang bernama Ray masuk rumah sakit Senin (19/8) dan sampai sekarang masih dalam kondisi kritis," katanya.Tersangka Robert kepada wartawan mengaku, sudah 11 bulan menjual racikan gingsengnya. Ia membeli alkohol dari toko kimia dan meraciknya dengan air pam yang sudah dijual. Satu jamu gelas biasa dijual Rp7.000.

"Walaupun namanya gingseng tapi nggak pake gingseng. Diganti dengan pasta berbagai rasa," kata Robert.Dia mengaku, tidak tahu pasti jumlah pelanggannya. Tetapi setiap hari memang ada saja yang membeli. Meski demikian, dia sendiri belum pernah meminum racikan yang dijualnya. Dari penjualan itu dia mengaku tidak begitu mendapat penghasilan besar.

"Awalnya saya suka minum. Iseng-iseng meracik, akhirnya menjual," katanya yang awalnya jualan jamu seduh sasetan.Robert dijerat dengan pasal 146 ayat 2 jo pasal 140 Jo pasal 86 ayat 2 UU.RI No.18 thn 2012 tentang pangan, subsider pasal 136 Jo pasal 75 ayat 1 UU. RI No. 18 tahun 2012 tentang pangan dan atau pasal 196 jo pasal 98 ayat 2 dan 3 UU. RI no. 36 th 2009 tentang kesehatan dan atau Pasal 204 KUHPidana dengan ancaman pidana di atas 5 tahun.

Pengendara Keluhkan Jalan RE Martadinata Jadi Tempat Penurunan Pasir

PADEMANGAN - Sejumlah pengendara motor maupun mobil yang mengarah Ancol mengeluhkan dengan maraknya tempat turunnya pasir dari truk besar di jalan RE Martadinata, Jakarta Utara. Pasalnya, truk-truk besar yang menurunkan pasir di lokasi tersebut memakan bahu jalan selain itu pasir-pasir yang berserakan di jalan juga mengancam keselamatan pengendara motor.

"Harus ekstra hati-hati bila melintasi lokasi dimana banyak truk yang menurunkan pasir. Sebab pasirnya kerap berserakan ke jalan membuat kami kuatir terpeleset," kata Sumarno, 42, salah seorang pengendara di Jalan RE Martadinata, Kamis (27/6/2013).
 
Ia mengaku hampir setiap hari melintasi jalan tersebut. Bahkan, katanya, bila hari sabtu dan minggu banyak truk-truk besar yang menurunkan pasir di pinggir jalan. "Saya sih heran saja banyak truk yang menurunkan pasir di jalan namun tidak ada tindakan. Padahal itukan mengganggu ketertiban umum dan pengguna jalan," ungkapnya.

Pria yang mengaku bekerja di perusahaan swasta di kawasan Pluit itu, berharap pemerintah kota Jakarta Utara dapat mengambil tindakan penertiban. "Kalau perlu tempat tambal ban dan pedagang kaki lima yang ada di pinggir jalan juga di berikan arahan supaya tidak ada lagi truk yang parkir seenaknya," harap dia.

Ucapan senada juga di katakan, wibowo, 34. Dirinya mengaku sempat melihat pengendara motor yang terpeleset di depan tempat penurunan pasir Jalan RE Martadinata. "Kalau hujan jalan jadi licin, kalau panas jadi berdebu. Kami yang menggunakan jalan jadi terancam," ujarnya.

Pantauan jakartautara.co di Jalan RE Martadinata tepatnya antara perlintasan kereta api hingga jembatan terdapat sejumlah lokasi penurunan pasir. Selain itu di sepanjang lokasi tersebut juga ada beberapa tempat tambal ban dan bengkel bagi truk dan para pedagang kaki lima. Aktivitas penurunan pasir dari truk ke tepi jalan juga kerap dilakukan dan menurut sumber hannya beberapa hari pasir habis karena langsung diangkut kembali untuk melayani pembelinya. Setelah itu datang lagi truk yang lain menurunkan dan begitu seterusnya.

Korban Ancol, Mulyana: Seperti Ada Dorongan Kamu Bisa!

ANCOL - Mulyana salah seorang korban yang diduga keracunan gas di area kerja tempat pengelolaan air laut menjadi air bersih PT Tirta Sea Water Reverse Osmosis Plant di kawasan wisata Ancol, Pademangan, Jakarta Utara mengaku seperti ada dorongan bahwa dirinya bisa selamat. 

"Saya seperti ada yang mendorong dan suara kamu bisa, kamu bisa," kata Mulyana saat di temui jakartautara.co di ruang rawat RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, Kamis (20/6/2013).

Lajang, 23 Tahun, asal Garut bekerja sebagai operator PT Tirta menceritakan kronologis pristiwa yang merenggut 4 jiwa dan 5 orang lainnya di rawat di rumah sakit. Bermula ia dengan teman sekerjanya Purnama membuka intek dalam sebuah bak untuk menampung air laut. 

"Awalnya kami tidak mencium bau apapun. Saya dan Purnama menjalankan pekerjaan seperti biasa. Sekitar Jam 16.30 (kemarin sore) Purnama membuka intek lebih dulu dan saya membantunya. Intek untuk menampung air laut dan masih tersisa beberapa baut lagi saya di suruh Purnama naik keatas bak lebih dulu dan Purnama mengikutinya. Purnama sempat memberikan konci dan kacamata renang kepada saya tetapi setelah saya balik badan purnama sudah ada di bawah lagi, dia terjatuh," ungkapnya.

Mulyana, katanya, tanpa pikir panjang bermaksud menolong Purnama dengan turun kembali kebawah, saat itu ia mulai merasakan bau seperti belerang. "Saat itu ada bos saya (Miftahudin) bermaksud menolong juga namun bos saya juga ikut jatuh. Saya bermaksud menolong keduanya, saya tarik bos saya meski saya sempat tenggelam, karena air laut mulai terisi setengah dalam bak penampungan. Namun Purnama badannya seperti tidak lagi bergerak dan menyangkut sesuatu," katanya.   

Saat itulah, kata dia, seperti ada dorongan dan seruan. "Saya seperti terdorong untuk menolong keduanya dan seruan kamu bisa, kamu bisa, menolong dan menyelamatkan diri saya. Tetapi, pada kondisi itu badan saya juga mulai lemah, pandangan saya mulai tidak jelas," tuturnya seraya sedih tak dapat menolong teman dan bosnya.

"Saya naik keatas dalam keadaan lemas, saya juga melihat rekan saya Surya berada di atas pipa namun begitu saya lihat kembali Surya sudah tidak ada juga. Dan saya di tolong oleh Sunaryo langsung di bawa kerumah sakit ini (Sulianti Saroso)," ucapnya.

Setelah itu, Mulyana baru mengetahui kabar 3 orang teman kerja meninggal dan seorang bos di tempatnya bekerja. Dan dia juga baru mengetahui bahwa tiga orang lainnya di rawat di rumah sakit Satyanegara. "Alhamdulillah saya masih selamat, tapi saya juga turut prihatin atas nasib teman dan bos saya. Saya berharap dengan kejadian ini perusahaan tempat kami bekerja lebih memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan pekerjaanya," imbuh dia. 

Sementara itu, Sunaryo, 44, yang juga di rawat di ruang yang sama dengan Mulyana, mengaku pristiwa itu berlangsung begitu singkat. "Saya berada di atas menolong mas Mul, saya juga sempat mencium baunya seperti belerang dan langsung di dada terasa sesak dan kepala pusing. Saya sendiri tidak tahu kalau di bawah ternyata ada orang," akunya.

3 Tahun Tidak Beroperasi Pompa Kampung Bandan Dipertanyakan

Rumah pompa Jalan Lodan Raya
PADEMANGAN - Banjir yang melanda kawasan Pademangan, Jakarta Utara beberapa hari lalu terindikasi karena tiga pompa Ancol mengalami kerusakan. Meskipun saat ini satu pompa sudah di aktifkan dan di bantu pompa portabel dari unit terkait namun warga masih belum puas.

Pasalnya, warga mempertanyakan keberadaan rumah pompa di Kampung Bandan yang berada di Jalan Lodan Raya tidak pernah di operasionalkan. Padahal jarak pompa Ancol dan pompa Lodan Raya tidak seberapa jauh.

"Bila pompa di Jalan Lodan Raya di operasionalkan setidaknya dapat mengurangi beban air rob kawasan Pademangan. Untuk apa ada pompa yang masih baru tetapi tidak pernah di gunakan," kata Krismanto,  warga Ancol, Selasa (18/6/2013).

Ia menyanyangkan keberadaan pompa Jalan Lodan Raya yang telah di bangun sejak tahun 2011 dengan menghabiskan biaya puluhan miliar namun manfaatnya tidak di rasakan warga Jakarta. "Setahu saya sejak dibangun belum pernah digunakan. Kami berharap Dinas PU DKI Jakarta dapat memfungsikan pompa Jalan Lodan Raya. Jangan didiamkan saja nanti pompa yang masih baru itu malah rusak," tandasnnya.

Sementara itu, Dudung penjaga rumah Pompa di Jalan Lodan Raya, Jakarta Utara mengakui pompa tersebut di bawah wewenang Dinas PU DKI Jakarta. "Tiga pompa di sini masih baru dan tidak ada yang rusak. Kami belum dapat operasionalkan karena belum ada perintah dari Dinas," kata pria yang tidak memperkenankan media masuk kelokasi tersebut.

Camat : Siagakan Enam Posko Kesehatan Korban Banjir Pademangan

PADEMANGAN- Untuk memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat korban banjir di Pademangan Barat dan Timur yang tekena penyakit gatal-gatal maupun diare, pihak kecamatan membuka 6 posko pelayanan kesehatan.

Keenam posko tersebut tersebar di masing-masing puskesmas dan lapangan Maspion.  posko ini menyediakan tenaga medis buat warga yang terserang penyakit akibat banjir air laut yang menggenangi pemukiman warga.

"Saat ini kita sudah siapkan beberapa lokasi posko kesehatan, termasuk juga posko pengungsian jika memang nantikan dibutuhkan" kata Muhammad Effiskal didampingi Lurah M.Iqbal Pademangan Barat dan Tulus Harjo Lurah Pademangan Timur.

Ditambahkan Muhammad Iqbal ada 25 orang warga yang mengungsi di posko Maspion namun setelah air surut mereka balik kerumah masing-masing. Namun buat warga yang terserang penyakit untuk secepatnya di bawa ke posko kesehatan yang sudah disiapkan, begitu juga logistik pihaknya juga sudah mensiagakannya.

Agus 34, warga RW 4 Pademangan Barat membenarkan bahwa banyak warga di wilayahnya yang terendam banjir terserang penyakit gatal-gatal dan diare. Ia berharap Pemerintah untuk melakukan door to door ke rumah warga mengingat rumah warga jaraknya jauh dari puskesmas. " Memang Puskesmas membuka posko layanan , tapi jarak dari tempat kami tinggal sangat jauh, kalau bisa petugas yang melakukan pengecekan ke wilayah warga yang terkena banjir" tuturnya

Warga Minta Kolong Tol Pademangan Timur di Tertibkan


PADEMANGAN TIMUR - Warga Pademangan Timur berharap kolong tol yang berada di lingkungan RW 10 Kelurahan Pademangan Timur, Pademangan, Jakarta Utara segera di tertibkan. Pasalnya, kolong tol selama ini hanya di gunakan sekelompok orang untuk usaha penampungan barang bekas, besi tua, warung, parkir mobil dan tempat billiard. 

"Kami melihatnya semerawut padahal berada di tengah kota dan dekat dengan kantor kelurahan. Seharusnya di lakukan penataan agar lebih bermanfaat bagi masyarakat luas," ujar Kris, 40, salah seorang warga Pademangan, Senin 20 Mei 2013. 

Menurutnya, dirinya lebih setuju bila kolong tol di jadikan taman maupun sarana olahraga. Bila, perlu, katanya di buatkan tempat untuk anak-anak bermain edukatif. "Dari pada kelihatan kumuh dan semerawut lebih baik di gunakan yang lebih baik. Apalagi kolong tol itu merupakan akses masuk bagi masyarakat Pademangan Timur. Masa baru masuk wilayah Pademangan Timur kelihatan kumuh," jelasnya. 

lebih jauh di katakannya, lokasi kolong tol Pademangan Timur berada di tengah kota antara kemayoran dan Ancol. "Sayangnya lokasi tersebut banyak dimanfaatkan untuk kegiatan usaha seperti penampungan barang bekas dan besi tua, serta lainnya," ucapnya. 

Ditempat terpisah, pengelola tol Cawang Tanjung Priok-Pluit PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) sendiri sesungguhnya sangat mendukung keinginan warga dan rencana Gubernur DKI Jakarta Jokowi yang ingin menertibkan bangunan liar di kolong tol tersebut. 

Menurut Direktur operasional PT CMNP Suarmin Tioniwar, CMNP bersama Pemda DKI Jakarta sempat beberapa kali melakukan penertiban kolong tol. Namun, setelah di tertibkan bangunan kembali bermunculan. "Tidak jarang penghuni kolong tol menutup pipa pembuangan air diatasnya sehingga jalan tol jadi tergenang," kata Suarmin seperti di kutip Poskota (20/5/2013).

Suarmin mengaku tidak tahu persis berapa jumlah penghuni kolong tol mulai dari Sungai Bambu, Warakas, Papanggo, Pademangan Timur, Pademangan Barat hingga Pluit. Namun yang pasti, kata dia, jumlah mereka setiap saat terus bertambah sehingga lingkungan semakin kumuh. 

Siswa Sedang Try Out, Atap SDN Pademangan Ambruk

PADEMANGAN BARAT - Pelajar kelas enam yang sedang melakukan try out untuk persiapan ujian nasional mendadak di kejutkan dengan suara ambruk atap genteng gedung SDN Pademangan Barat 05 Pagi, Jakarta Utara. Karuan saja peristiwa yang terjadi, Jumat (22/3/2013) lalu membuat panik peserta try out dan guru pengajar setempat. 

Sekolah yang berdomisili di Jalan Satria I RT 03 RW 01 Kelurahan Pademangan Barat, Pademangan, Jakarta Utara bukan kali itu saja mengalami ambruk atap. Sebelumnya sekitar tiga bulan lalu atap sekolah tersebut juga mengalami hal yang sama. "Atap diruang kelas V ambruk saat siswa sedang try out. Kami semua jadi kuatir karena sebelumnya atap kelas III yang telah menjadi kantin juga ambruk sampai kebawah," ungkap Andi, salah seorang wali murid, di lingkungan  SDN Pademangan Barat 05, Senin 25 Maret 2013.

Ia mengaku para guru sudah menjelaskan kepada anak didiknya agar selalu hati-hati saat belajar di ruang kelas. "Anak-anak kalau mendengar suara atap akan ambruk jangan panik ya.., tapi segera ngumpet di kolong meja masing-masing," ucap Andi menirukan seruan guru kelas anaknya.  

Kondisi sekolah itu, menurutnya, sudah cukup parah dan sangat mengkuatirkan. Ia berharap Dinas Pendidikan DKI Jakarta segera melakukan perbaikan, sebelum ada korban yang berjatuhan di sekolah itu. "Kami sebagai orang tua sangat kuatir, kami minta pemda segera melakukan perbaikan sebelum sekolah tersebut di gunakan untuk ujian nasional. Kami tidak ingin peserta ujian akan terganggu konsentrasinya sehingga berdampak pada nilai ujian," harapnya. 

Informasi yang dihimpun jakartautara.co, sekolah tersebut tahun 2009 telah di rehab yang menghabiskan biaya APBD DKI Jakarta Rp 1,2 M. Namun, kini kondisi SDN Pademangan Barat 05 Pagi terutama pada atap genteng, banyak yang kropos. Siswa, guru, dan wali murid pun mengeluhkan sekolah tersebut dan berharap segera mendapatkan perhatian yang serius.

 

 

Pembangunan Apartemen di Pademangan Akibatkan Puluhan Rumah Warga Rusak


PADEMANGAN BARAT - Pembangunan apartemen yang direncanakan 36 lantai  di Pademangan dianggap menjadi penyebab kerusakan puluhan rumah warga. Kerusakan rumah warga banyak terjadi di RT 10 dan RT 11/RW11 Kelurahan Pademangan Barat, Pademangan, Jakarta Utara.

Upaya perbaikan rumah warga yang belum maksimal atas proyek apartemen itu membuat warga setempat resah. "Kami seperti di bodohi padahal kami menjadi korban, rumah kami banyak yang retak. Padahal kami telah susah payah membangun rumah sendiri namun sekarang mengalami kerusakan," ucap Ny.Siti, 40, salah seorang warga RT 10/11 Pademangan Barat, Senin 25 Maret 2013.

Ia mengaku rumahnya yang berlantai dua itu mengalami retak hingga beberapa centi meter dengan ketinggian yang memusingkan dirinya. "Kerusakannya sejak tiang pancang apartemen ini diterapkan, sekitar Bulan Agustus (2012). Sudah ada orang dari proyek yang memfoto-foto kerusakan rumah kami namun belum ada perbaikan. Kami ingin rumah kami di kembalikan utuh seperti semula," tandasnya.

Ibu rumah tangga itu, menjelaskan, bahwa sekitar 80 warga dan pengurus sempat bertemu dengan pelaksana apartemen, beberapa waktu lalu. "Kami pernah di pertemukan namun belum juga ada kepastian. Kalau rumah yang rusak banyak, ada disini, disana jumlahnya puluhan. Hingga kini belum ada kabar perbaikan darinya, kami bingung menanyakan kepengurus juga tidak mendapatkan kepastian yang jelas," akunya.

Hal yang sama juga di alami rumah kediaman Ny. Rahma. "Sejak kerusakan sudut rumahnya yang retak hingga sekarang belum di perbaiki. Pintu warung kami jadi tidak bisa di kunci karena posisinya bergeser dari semula. Terpaksa kami gunakan rante untuk menutup warung kami," katanya juga berharap ada pergantian.

Sementara itu, tokoh masyarakat Pademangan Barat, Santosa, mengaku prihatin atas kejadian yang menimpa kerusakan sejumlah rumah warga. Ia juga mengaku rumah kosnya di RT 11/11 mengalami hal yang serupa. "Jarak proyek apartemen ke pemukiman warga tidak lebih dari 30 meter dengan rencana pembangunan 36 lantai tentu saja pembangunan itu membawa dampak yang merugikan masyarakat. Kami akan pertanyakan sejauh mana amdal-nya dan keseriusan perusahaan dalam mengurai permasalahan di masyarakat," jelasnya.

Jangan hanya mencari keuntungan belaka, kata dia, perusahaan harus cepat merespon jangan sampai memicu emosional warga. Sudah menjadi resikonya Karena pembangunan apartemen berada di tengah lingkungan penduduk Pademangan Barat. "Kami akan perjuangkan agar pihak apatemen mau mengganti kerugian rumah warga. Bila hal itu tidak juga dilakukan tidak tertutup kemungkinan massa akan mengadakan aksi demo," ketusnya. 

 
 
Copyright © 2014 JAKARTA UTARA. All Rights Reserved. Powered by Lintas Daerah
Template by Creating Website and Kang Lintas