Pemerintahan    Pendidikan    Kesehatan    Pariwisata    Perhubungan    Pelabuhan    Dukcapil    Damkar    PU Jalan    PU Air    LMK    KBN    PKK    BPN    PMS    P2B    Tokoh   

Vivi Pelajar Si Pengupas Kerang! Ingin Dapat KJP

Marunda- Vivi sosok pelajar berusia 16 tahun ini harus banting tulang menjadi pengupas kerang hijau di pesisir pantai Marunda. Dengan bekerja sambilan ini, upah yang ia dapat bisa di tabung serta membeli keperluan kebutuhan sekolahnya.
Dirinya sangat berharap kepada Pemda DKI Jakarta untuk bisa mendapatkan Kartu Jakarta Pintar ( KJP). Tapi sayang usulannya untuk mendapatkan KJP tak tercapai sebab ia bersekolah di SMK Marunda yang masuk di dalam wilayah Bekasi, Jawa Barat.
"Saya sudah mengajukan ke kantor Kelurahan kemudian dikasih surat keterangan, tetapi sampai di Sekolah ternyata sekolah kami masuk wilayah Bekasi dan tak tercatat sebagai KJP" kata Vivi.
Namun vivi tidak lantas kecewa, ia tetap semangat untuk mengejar cita-citanya hingga ke perguruan tinggi." saya ingin sekolah sampai bangku kuliah mas! meski harus menyambi menjadi pengupas kerang" ujar vivi yang bercita-cita ingin jadi penulis.
Ditambahkannya, setelah pulang dari sekolah ia langsung mendatangi bos pemilik kerang hijau yang tak jauh dari rumah.Dalam seharian ia bisa mengupas kerang sebanyak 10 kg. Setiap satu kilonya ia dibayar sebesar Rp 2.500. "Uang yang saya dapat ini selain ditabung juga untuk beli keperluan sekolah seperti buku dan sepatu" kata Vivi.
Ia juga meminta kepada Pemda DKI Jakarta untuk memperhatikan anak-anak nelayan yang ada di pesisir pantai Marunda. Sebab tempa tinggal anak-anak nelayan ini berada persis dibelakang Rusun Marunda. Vivi juga heran anak-anak yang tinggal di Rusun Marunda itu lebih banyak menerima fasilitas dan bantuan. Padahal ia juga merupakan anak-anak Jakarta.
" terkadang saya juga bingung kenapa mereka justru banyak diberikan bantuan sementara kami tidak! Ini tidak adil" cetusnya.

Ahmad Sahroni 'Si Anak Priok' Saatnya Berjuang


TANJUNG PRIOK - Banyak wajah baru calon 'penghuni' Senayan. Mulai dari orang terkenal (selebritis) hingga yang tadinya bukan siapa-siapa. Berikut pemaparan salah seorang Calon Legislatif (Caleg) DPR RI Dapil 3 (Tiga) yang 'berhasl' ke Senayan seperti di kutip jakartautara.co pada Poskota Senin 28 April 2014. 


Tidak pernah diprediksi kalau Ahmad Sahroni mantan 'sopir tembak' mampu menembus perolehan suara 48.231 suara yang akan mengantarnya ke Senayan menduduki kursi DPR RI. Hasil real count yang dirilis KPU Jakarta Utara menetapkan Caleg Partai Nasional Demokrat (NasDem) Ahmad Sahroni meraih suara terbanyak dari seluruh Caleg yang bertarung di Jakarta Utara. 


AHMAD SAHRONI

Ahmad Sahroni yang akrab disapa Roni ini, menjadi anggota DPR bukan untuk gagah-gagahan atau numpang hidup dengan gaji yang tinggi sebagai anggota parlemen. Tujuan dia untuk memperjuangkan kepentingan rakyat banyak, terutama rakyat kecil. 

"Visi saya ingin menjadikan wakil rakyat khususnya didapil saya. Saya akan berbuat yang terbaik buat masyarakat dan akan memperjuangkan kepentingan mereka," ujar Roni dengan nada pelan dan bermakna. 

Partai pembawa perubahan melalui gerakan restorasi itu mempercayakan kepada anak priok ini bertarung dan meraih kemenangan. Dia berada di Dapil III (Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu) Dengan Nomor Urut Satu. 

"Alhamdulillah, Tuhan memberikan jalan kepada saya. Kini saatnya saya berjuang demi rakyat dan memberikan kemenangan buat Partai NasDem yang pasti akan membawa perubahan bagi bangsa ini," kata mantan 'sopir tembak' itu. 

MERASA YAKIN
Sebelum pileg digelar Roni merasa yakin dirinya akan mendapatkan kursi di Senayan. Kepada beberapa wartawan Roni sempat mengatakan. "Hanya denga merem (memejamkan mata), satu kursi pasti saya dapatkan," katanya saat itu sambil bergurau. 

Ternyata, apa yang diucapkan itu bukan pepesan kosong. Roni kini telah menjawab optimismenya itu. Tetapi apa yang diraihnya itu bukan faktor kebetulan belaka, karena Roni begitu dikenal konstituennya. Sebab, sejak kecil Roni mengenyam hidup susah dan meraih sukses di Tanjung Priok yang dikenal sebagai daerah keras. Roni bahkan sangat bangga dikenal sebagai 'Anak Priok'. 

"Saya bukan sombong tapi saya menunjukkan bahwa kader NasDem itu sudah kaya sebelum menjadi Anggota DPR," ucap Roni. 

BUKAN BUAT HARTA
Roni mempertegas kehadirannya di Senayan kelak, bukan untuk mengumpulkan harta dan status. "Kalau mau cari keuntungan, untuk apa jadi wakil rakyat, mending jadi pengusaha yang lebih menjanjikan. Pendapat perbulannya bisa miliaran," paparnya. 

Roni tidak ingin seperti penyelenggara negara lain yang mencari kekayaan dari jabatannya. Roni ingin seperti pejabat Amerika serikat, kaya dulu sebelum duduk menjadi anggota parlemen. "Kalau di Amerika, mereka kaya dulu sebelum menjadi pejabat. Bukan terbalik, jadi pejabat dulu baru kaya. Itu namanya mencari keuntungan dari jabatan," tegas Presiden Ferrari Owners Club Indonesia (FOCI) itu. 

Kesuksesan Roni dengan dua rumusan, yakni doa dan usaha. Lewat perjalanan panjangnya yang berliku namun itu tak membuatnya putus asa. Dia bekerja keras dan tetap berani bermimpi. "Dulu diusir-usir orang. Jadi, sekarang ngak jadi orang kaya yang sombong," ucapnya sambir tersenyum. 

Suami Feby Belinda yang berdomisili di Jalan Swasembada Timur XXII No.52 Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara itu selalu bersilaturahmi dengan warga Tanjung Priok. 

Meski sudah menjadi pengusaha terpandang, Roni tetap dikenal sosok yang ramah. "Saya akan konsekuen dan konsisten membantu mereka jika memang saya benar-benar terpilih menjadi anggota DPR. Mereka ternyata bisa memahami dan rela tanda tangan berkomitmen untuk memilih saya," kata pemilik Grup perusahaan PT Ruwanda Satya Abadi itu.  (bersambung)

Lulus Ujian Paket Lela Ingin Kerja dan Kuliah

Lela (kanan)
KOJA - Peserta ujian paket C, Lela Badriyah, 17, seorang warga Koja, mengaku tidak kecil hati. Meski natinya ia hanya memiliki ijasah paket C setara dengan ijasah SMA/Sederajat dirinya merasa lebih percaya diri menatap masa depan dan cita-citanya.

Dara kelahiran 14 April 1997 mengikuti ujian paket C karena sebelumnya putus sekolah reguler. Berbekal informasi yang ia peroleh dari temannya Lela mendaftar dan selanjutnya menjadi salah seorang siswa ujian paket C yang di gelar Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Utara, di SMPN 136, Koja, Jakarta Utara. 

Selama tiga hari Lela mengikuti ujian ia membekalinya dengan belajar dan berdoa. Meski tidak seperti ujian sekolah reguler namun semangatnya untuk belajar terus ditekuni apalagi gadis berkerudung itu ingin melanjutkannya sampai perguruan tinggi.

"Saya ikut ujian paket hanya tiga hari mulai tanggal 14 sampai dengan 16 April 2014. Sama dengan Ujian Nasional SMA/Sederajat. Saya tidak kecil hati dan tetap optimis karena ijasah paket C juga di-sah-kan pemerintah dan diakui swasta. Yang penting sekarang saya bisa lulus," ucap Lela saat berbincang-bincang dengan jakartautara.co, Kamis (17/4/2014).

Putri lima bersaudara asal Bekasi, Jawa Barat, selama ujian paket tinggal di rumah orang tua asuhnya, H.Muhamad Amin, di Jalan Simpang Lima Semper, Koja, Jakarta Utara. "Kalau nanti saya lulus, saya akan mencari kerja. Kerja apasaja di perusahaan swasta yang penting halal dan upahnya setimpal. Minimal upah UMR biar bisa membantu keluarga dan membiayai rencana kuliah saya," kata Lela melirik Universitas Gajah Mada. 

Gadis berkulit putih dengan tinggi 155 CM itu, sudah bertekat memperbaiki status sosialnya dengan mengenyam bangku kuliah. "Saya ingin sekali kuliah, saya ingin mengagkat derajat keluarga. Menjadi wanita karir yang bermanfaat bagi keluarga dan sanak saudara serta lingkungan terdekat, mungkin itu yang saya harapkan. Yang penting berusaha dan saya tetap berdoa," tuturnya. 

Ia mengaku bersyukur karena tidak lama lagi akan mendapatkan ijasah setara SMA. Dengan ijasah itu ia akan manfaatkan sebaik-baiknya. "Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Mumpung belum terlambat, mumpung masih sendiri, kalau sudah rumah tangga kan agak sulit mau bekerja dan kuliah," tutupnya, tersenyum manis.

BHR Caleg Golkar : Melalui Sosial Media Bisa Bertanya Jawab Pada Masyarakat

CILINCING- Bang Haji Reza (BHR) atau Reza Eko Prasetyo salah satu Caleg Partai Golkar nomor urut 8 dari Dapil II (Cilincing, Koja, Kelapa Gading dan Pulau Seribu) ini terus mendapatkan dukungan dari masyarakat khususnya generasi muda melalui media sosial Facebook atau dikenal Pesbuker "Dukung Reza".

Berbagai komentar di berikan kepada Ketua Karang Taruna Jakarta serta mantan Ketua KNPI Jakut ini agar beliau bisa menjadi wakil rakyat yang amanah dan siap untuk memikul aspirasi warga. Diantaranya"Kami siap mendukung BHR, Jangan lupa mereka yang sudah memilih kamu, Berikan yang terbaik buat generasi muda, Jadi wakil Rakyat harus siap di kritik' dan lainnya.

Reza Eko Prasetyo atau BHR saat dikonfirmasi menjelaskan,upaya dialog dan perbincangan melalui sosial media salah satu upaya untuk mendengarkan aspirasi maupun masukan masyarakat bagi dirinya yang akan mengikuti Pemilihan Calon legislatif DPRD DKI Jakarta pada Pemilu 9 April 2014 nanti.

"Insya Allah, jika memang masyarakat, siapa saja baik kalangan remaja, pemuda, ormas, orang tua dan lainnya yang mempercayai dirinya menjadi wakil rakyat akan saya jalankan sesuai dengan apa yang sudah janjikan pada kampanye nanti" ujarnya.

Ia juga meminta kepada remaja atau kaula muda di Jakarta Utara untuk terus berkarya dan membangun inovasi serta ide-ide yang dapat membangun Kota Jakarta Utara untuk disampaikan kepadanya. Agar jika memang Allah SWT menghendaki dirinya menjadi wakil rakyat maka amanah itu akan selalu dijaga.

"Jika nanti saya dipercaya,maka amanah itu harus kita jaga dan dipertanggung jawabkan" tegasnya.

Luncurkan buku, Pendukung Ahmad Sahroni Penuhi GRJU

TANJUNG PRIOK - Peluncuran buku biografhy Ahmad Sahroni, yang bertema "Anak Priok Meraih Mimipi" di Gelanggang Remaja Jakarta Utara, Selasa (1/10/2013) malam di penuhi pendukung dan simpatisan. Pasalnya, Ahmad Sahroni, selain dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses ia juga dikenal sebagai calon legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Nasional Demokrat (NasDem).

Pantauan jakartautara.co di lokasi peluncuran buku tersebut ribuan pendukung dan simpatisan Ahmad Sahroni memenuhi gedung dan halaman GRJU. Yang lebih menarik lagi puluhan mobil mobil mewah sekelas Ferari dan BMW di parkir di halaman GRJU sehingga banyak mencuri perhatian massa maupun pendukung Ahmad Sahroni. 

Peluncuran buku Ahmad Sahroni yang di saksikan Ketua umum Partai NasDem Surya Paloh, berjalan meriah dengan sejumlah aksi hiburan panggung. Selain itu puluhan petugas baik unsur Kepolisian dan TNI siaga melakukan pengamanan jalannya acara tersebut.

Alpi, 45, salah seorang pengurus lingkungan di Kebon Bawang mengatakan sangat terkesan dengan sosok Ahmad Sahroni. "Beliau seorang pengusaha yang sukses meniti karirnya dari bawah, dari tidak punya apa-apa menjadi punya apa-apa dan tidak sombong. Dia berjiwa sosial sangat tinggi dan mau dekat dengan masyarakat," akunya.

Sementara itu, Ahmad Sahroni kepada sejumlah awak media mengaku perjalanan karirnya di dunia usaha berawal dari nol. "Saya dulu pernah menjadi tukang ojek, tukang semir dan tukang ojek payung. Kehidupan saya dulu sangat prihatin namun saya terus berusaha dan berdoa," ucapnya. 

Bahkan, GRJU yang hampir seluruh tempat dan fasilitasnya di sewa dalam peluncuran bukunya, mempunyai kenangan tersendiri. "Dulu saya mau masuk kolam renang sini (GRJU) tidak sanggup membayar. Saya hanya berdiri di pojok padahal biaya masuk hanya 300 rupiah," kenang Sahroni didampingi istri dan ibundanya.

"Anak Priok" yang kini sudah jauh berbeda dari masa lalunya bercita-cita ingin memajukan lingkungan dan masyarakat khususnya Tanjung Priok dan Jakarta Utara. "Kalau di dunia usaha saya hanya memikirkan kesejahteraan karyawan dan keluarga. Namun pilihan saya ingin menjadi wakil rakyat di DPR agar lebih dari itu. Lingkungan dan masyarakat umum menjadi prioritas saya dan bila saya terpilih nanti saya akan sungguh-sungguh mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat," tuturnya.

Pemko Dan Warga Jakut Turut berduka Kepergian Habib Munzir Tokoh Majelis Rasullulah.

Jakarta Utara- Munzir bin Fuad Al-Musawa atau lebih dikenal dengan Habib Munzir Al-Musawa (lahir di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, 23 Februari 1973 – meninggal di Jakarta, 15 September 2013 pada umur 40 tahun) adalah pimpinan Majelis Rasulullah.Ia meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada hari Minggu 15 September 2013 pukul 15.30 WIB.Kabar duka tersebut disampaikan oleh kakaknya, Habib Nabil Almusawa melalui akun twitter pribadinya.

Beliau juga sangat dikenal dekat oleh masyarakat Jakarta Utara dalam melakukan siar,pengajian,dzikir, dan dakwahnya di wilayah Jakarta Utara. Beliau juga pendiri sekaligus pemimpin Majelis Rasullullah “Adinda Habib Munzyr meninggal, mhn maafkan kesalahannya n mhn doanya..” Begitu tulis @nabiel_almusawa.

Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Utara berserta jajarannya mengucapkan bela sungkawa atas kepergian tokoh dan juga pemimpin majelis Rasullullah. Bambang Sugiono Walikota Jakarta menuturkan sosok Habib Munzyr seorang ulama yang selalu mensiarkan agama dengan mengajak kepada umat islam untuk berbuat kebajikan tidak kepada sesama umat islam tetapi kepada umat yang lain sesuai ajaran Rasullullah SAW, dan kegiatan Majelis Rasullullah sudah beberapa kali di adakan di halaman kantor Walikota dan ditengah-tengah pemukiman di Jakarta Utara. " Semoga Allah SWT menerima amal dan ibadahnya  dan dimasukkan dalam surgaNya Allah SWT. Serta buat keluarga yang ditinggalkan diberi Ketabahan dan kesabaran, Amiin Yaa Rabbal Alammin" ujar Bambang Sugiono melalui SMS singkatnya.

Begitu juga disampaikan Dedi Iskandar Pendiri lSM Matra Jakarta juga mengucapkan rasa belasungkawanya. Ia menilai sosok Habib Munzyr patut menjadi contoh dan perjuangannya dalam melakukan dakwah sera doa dan dzikirnya. "Semoga Allah SWT memberikan tempatnya di surga, dan kami akan selalu mengenang siar yang ia lakukan di wilayah Jakarta Utara" kata Dedi Iskandar.

Sahroni SH : Ingin Menciptakan Kalibaru Menjadi Lingkungan Manusiawi dan Bermartabat

Bagi Sahroni, SH Lurah Kalibaru, Cilincing Jakarta Utara  jabatan sebagai lurah yang ia jalankan sekarang ini merupakan amanah yang meski di jalankan dan dipertanggung jawabkan dalam menjalankan tugas keseharian di masyarakat. Sebab lurah merupakan penyelenggara kegiatan pemerintahan, pembangunan, kemasyarakatan dan ketertiban umum di lingkungan wilayah kelurahan. Dalam struktur organisasi pemerintahan daerah, lurah merupakan bagian dari Perangkat Daerah Kabupaten atau Kota dibawah camat. Lurah diangkat dan diberhentikan oleh gubernur. Bisa dikatakan, lurah merupakan pemimpin yang menjadi ujung tombak pelaksanaan pembangunan kewilayahan di lingkungan pemerintahan daerah.

"Jadi selain kita harus memberikan pelayanan prima dan pengabdian kepada masyarakat, juga loyalitas kepada pucuk pimpinan harus tetap terjaga sehingga saling bersinergis" kata Sahroni SH, alumnus Universitas Krisna Dwi Payana itu.

Guna mendukung program Gubernur Jokowi-Ahok maka program yang harus diwujudkan adalah bagimana membangun lingkungan di Kalibaru menjadi lingkungan yang bersih,indah dan rapi dan menjadikan lingkungan yang manusiawi dan bermartabat. "Artinya sekarang ini usulan perbaikan lingkungan yang datangnya dari masyarakat harus secepat direalisasi sehingga dapat langsung dirasakan masyarakat" tuturnya.

Agar dapat mengetahui persis persoalan di masyarakat dan menjadi program kerja kelurahan, maka harus banyak turun ke lapangan atau mendatangi langsung ke masyarakat.

"Apa yang disampaikan Pak Gubernur ! lurah sebaiknya lebih mendekatkan diri pada masyarakat yang dipimpinnya agar mengetahui apa saja persoalan-persoalan yang membelenggu sehingga dapat dicari jalan keluar/solusi pemecahan masalahnya,bahkan perencanaan dalam membuat program kerja" kata Sahroni Pria Kelahiran Jakarta 03 Juli 1963 itu.

Bagi Sahroni, segudang pengalamannya karier dari pegawai PNS biasa hingga meniti karier menjadi lurah menjadi pengalaman untuk bisa menterjemahkan dalam menjalankan tugas kesehariannya sebagai abdi masyarakat.

"Kalau Pekerjaan kita jalankan dengan ikhlas, jujur, tegas, dan mementingkan kepentingan masyarakat diatas kepentingan pribadi, Insya Allah pasti jalankan akan mudah dan lancar" ujarnya.

Bio Data Lurah Kalibaru

Nama                      : Sahroni Zein
Tempat/Tgl Lahir    ` : Jakarta, 03-07-1963
Jabatan                     : Lurah Kalibaru
Agama                      : Islam

Riwayat Pendidikan     : SD Islamiyah Sunter Jaya tahun 1976
                                   SMP Islamiyah Sunter Tahun  1980
                                   SMAN 5 Jakarta tahun  1983
                                    Univ. Krisna Dwi Payana tahun  1998
Nama Istri                     : Rohana

Jumlah Anak                  : Tiga (3)

Jabatan Karier Di Pemerintahan:

Tahun 2002 menjadi Kasie Pemerintahan di Kel Penjaringan
Tahun 2005 menjadi Sekertaris Lurah Pluit
Tahun 2007 menjadi Wakil Lurah Kamal Muara
Tahun 2009 menjadi wakil Lurah Pademangan Barat
Tahun 2011 menjadi Wakil Lurah Pademangan Timur
Tahun 2012 menjadi Lurah Kalibaru

Tahun 2013 saat seleksi terbuka Camat Lurah oleh Jokowi, iapun dipercayai kembali memimpin kelurahan Kalibaru.

Lurah Tugu Utara : Bangun Kesadaraan Masyarakat Tidak 'EGP' Pada Lingkungan

KOJA- Pengalaman adalah guru yang paling berharga, itulah yang selalu dijalankan oleh sosok Mulyadi Kepala Kelurahan Tugu Utara dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pamong masyarakat. Buatnya jabatan sebagai lurah adalah amanah. Dan amanah itu harus dijalankans sesuai dengan aturan yang berlaku.Dengan segudang pengalaman sebagai pamong diawali dari ia menjadi Kaur Trantib pada tahun 1995 di kelurahan Papanggo. Kemudian iapun dipercaya menjadi Sekertaris Lurah pada tahun 1996. kariernya sebagai abdi masyarakat dan kepercayaan Pemda DKI Jakarta padanya iapun dipercayai menjadi Wakil Lurah Sunter Agung pada tahun 2000 lalu jadi wakil lurah Warakas pada tahun 2005. Barulah pada tahun 2010, Pemerintah Kota Jakarta Utara memberikan mandat menjadi lurah Warakas pada tahun 2010. Bahkan pada seleksi terbuka di era kepemimpinan Jokowi-Ahok tahun 2013 ini dirinya dipercaya untuk memimpin kelurahan di Tugu Utara kecamatan Koja Jakarta Utara.

"Semua itu harus dimulai dari bawah, dengan bekal pengalaman kita akan memahami apa tugas dan tanggung jawab kita duduk sebagai pamong masyarakat" kata Mulyadi Pria Kelahiran Solo, 5 Nopember 1960 itu.Baginya amanah di era pembangunan Jakarta Baru ini lurah atau pamong dituntut harus turun ke bawah, dekat dengan masyarakat bahkan harus siap menjadi pelayan masyarakat.

Oleh karena itulah ia ingin membangun masyarakat yang dipimpinnya tidak 'EGP' (emang gue pikirin) pada lingkungannya. Tetapi bagimana masyarakatnya punya kepedulian lingkungan yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri. "Yaa caranya kita sebagai pemimpin harus cepat tanggap dan reaksi bertindak dalam segala persoalan lingkungan. Jika itu telaksana maka masyarakatpun akan menghargai tugas kita sebagai pamong" kata Muyadi yang pernah bertugas sebagai petugas di kantor Dinas Kebersihan DKI Jakarta saat mengawali kariernya sebagai PNS.


Kini iapun harus berupaya agar Kelurahan Tugu Utara yang dihuni sekitar 79.577 jiwa (26.681 KK) yang tersebar di 214 RT dan 19 RW bisa mewujudkan program Jakarta Baru yakni bagiamana membangun masyarakat yang bermartabat, membangun kampung kumuh menjadi kampung yang tertata dan manusiawi serta memberikan pelayanan prima maksimal kepada masyarakatnya.

"Yaa sebagai abdi masyarakat, dan pejabat lingkungan kita harus memberikan yang terbaik, karena setiap langkah yang kita ambil ini harus berbuah yang dapat memajukan lingkungan yang kita pimpin" ujarnya.

Penulis : Bian Dan Yani.

Tak Rela Melihat Warga Miskin Bersedih!

Nursawati M Bsc Sosok tokoh perempuan di Jakarta Utara ini dikenal dekat oleh warga Jakarta maupun di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Sungai Bambu, Tanjung Priok Jakarta Utara.  Setiap hari ia selalu mendatangi warga-warga tak mampu di pemukiman kumuh guna mendengar jeritan maupun aspirasinya.Karena itu ia bertekad ingin memperjuangkan dan membantu sebisa dirinya agar warga yang tak mampu atau miskin itu tidak bersedih apalagi tak digubris aspirasinya. "Saya tak rela melihat jika masih ada warga yang tak mampu atau miskin meratapi kehidupannya, oleh karena itu saya sering turun ke bawah" tungkasnya. Dijelaskan, Nursawati, baginya perjalan hidup ini adalah bagaimana bisa berbuat kebajikan atau keikhlasan dalam membantu siapa saja yang memang membutuhkannya.Bahkan ia pernah rela untuk mengantarkan warganya berobat di tengah malam agar bisa tertolong. Begitu juga berbagai pertolongan kebutuhan lainnya.

"Bagi saya menolong itu jangan pernah pamrih, menolong itu harus ikhlas dan jangan setengah-setengah. Apalagi itu menyangkut warga tak mampu" tutur perempuan kelahiran Porsea 10 Maret 1960. Apalagi menurutnya Gubernur DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Jokowi ini merupakan figur yang selalu mendengarkan aspirasi warga dari kalangan bawah.

Kini Nursawati ingin menampakan kakinya untuk lebih maju selangkah lagi untuk bisa membela warga tak mampu ini ke tingkat eksekutif, agar suara-suara mereka bisa terakomodir.Maka dirinya juga akan memberanikan dirinya untuk mencalonkan menjadi wakil rakyat. Melalui forum inilah ia bertekad agar suara-suara masyarakat bawah bisa diperjuangkannya.

Soksi Jakut Santuni 30 Anak Yatim Piatu

Cilincing- Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia ( Soksi) Jakarta Utara menggelar bakti sosial memberikan santunan kepada 30 anak Yatim Piatu di Lingkungan warga Semper Barat.

Menurut Ketua Soksi Jakarta Utara H.Reza Eko Prasetyo SE menjelaskan kegiatan sosial ini merupakan salah satu program organisasi Soksi menyangkut kepedulian sosialnya kepada masyarakat di Jakarta Utara.
"ini sudah menjadi program kerja kami untuk membantu masyarakat dalam kepedulian sosial dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat" ujarnya.

Pemberian santunan dilaksanakan di kantor Soksi Jakut Jalan Sungai Citanduy I RT 12/1 Semper Barat, Cilincing Jakarta Utara.Soksi adalah organisasi masyarakat yang didalamnya terdiri dari karyawan,pengusaha, elemen kepemudaan dan tokoh masyarakat.Tujuannya adalah membangun kesejahteraan masyarakat untuk maju dan makmur. Selain melakukan kegiatan sosial, juga ada kegiatan kewirausahawan dan penyedian ambulance bagi warga tak mampu yang membutuhkannya. Soksi di Jakarta Utara saat ini telah memiliki 1.000 anggota yang tersebar di 6 kecamatan Di Jakarta Utara. ( Bian)

Harus Menjadi Motivator Warga Untuk Pembangunan Lingkungan

H.Cholid Mawardi

Sosok tokoh masyarakat Betawi ini memberikan pencerahan maupun ide untuk membangun masyarakatnya maju dan intelektual. Menurutnya ketokohan itu bukannya sekedar untuk mencari popularitas melainkan bagiamana menjaga ketokohan karena kepercayaan masyarakat kepadanya. Karena itu, ia selalu memberikan ruang publik bagi warganya guna menampung keluhan maupun usulan yang bertujuan untuk memajukan lingkungannya. "Bagi saya ketokohan merupakan amanah yang harus dipegang kokoh, sebab disitulah sikap peduli dan tanggung jawab harus di wujudkan, agar masyarakat bisa terayomi" kata H.Cholid Mawardi yang juga menjabat sebagai Ketua RW 2 Sukapura.

Ditambahkan H.Cholid, sebagai pemuda betawi iapun berupaya agar Warga Betawi sebagai tuan rumah bisa menunjukkan bahwa orang betawi menerima siapa saja, mengedepankan kerukunan dan silahtuhrami untuk menjaga lingkungannya maju,aman dan nyaman. Tak heran jika warga di lingkungannya ini selalu rukun, menjaga toleransi serta memberikan sumbangsihnya dalam program pembangunan lingkungan.

"Kalau semua kita lakoni dengan sikap terbuka dan saling menerima, Insya Allah pencapaiannya akan berjalan baik" kata H.Cholid Lelaki kelahiran Jakarta 15/5/1965 ini. Bahkan Iapun selalu melakukan silahtuhrami kepada warganya untuk menjaga kebersamaan dan persatuan.

Sabar Menghadapi Keinginan Warga

Bagi Senja 40, sosok ketua RT 10/5 Semper Barat, Cilincing ini punya kiat untuk selalu bisa dipercayai oleh warganya. Termasuk waktu luangnya untuk mengurus apa keinginan warganya. Iapun rela untuk jika dibutuhkan warga saat malam hari.


"Kami ini dipilih oleh warga, dan harus siap untuk jadi pelayan masyarakat,makanya saat warga membutuhkan kami maka tak perlu ditolak" tutur Senja.

Ditambahkan Senja, Kuncinya adalah menjaga kesabaran dan mengapresiasi apa yang diinginkan warga. Begitu juga dalam menyelesaikan persoalan warga, dengan kepala dingin, tidak gegabah serta tak berpihak. "Dalam setiap menyelesaikan persoalan kami selalu gunakan musyawarah. Begitu juga jika warga menginginkan kami untuk membantu maka kami harus lakukan" ujarnya. Bahkan kata Senja, saat warga sedang sakit di tengah malam, iapun rela untuk bangun mengantarkan si warganya ke rumah sakit. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan warga kepadanya sebagai pemimpin warga

Kartini Sekarang Harus Berani Perjuangkan Hak Perempuan

CILINCING- Jumisih 26, perempuan kelahiran Pati, 28 Nopember 1988 ini tak pernah lelah dan capek untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan yang berstatus sebagai buruh perempuan di Kawasan Berikat Nusantara (KBN). Keberaniannya maupun kekritisannya untuk menyampaikan kebenaran dan keadilan selalu ia sampaikan untuk membela teman-teman buruh yang kerap kali tak pernah mendapatkan pembelaan.Upaya perjuangannya ia tunjukkan seperti bernegoisasi, unjuk rasa turun ke jalan hingga ia harus menyampaikan aspirasi rekan-rekannya ini ke Istana Negara.

"Kartini zaman sekarang ini adalah bagimana kita harus menunjukkan keberanian dalam membela dan memperjuangkan hak-hak kaum perempuan atau buruh perempuan yang kerap kali di abaikan" tutur Jumisih saat diminta keterangannya oleh JakartaUtara.Co.

Menurutnya, masih banyak teman-teman buruh perempuan yang acak kali dilakukan semena-mena saat bekerja, pelecehan, kekerasan verbal hingga harus dibayar upah murah saat bekerja.Karena itulah ia bersama rekan-rekannya tak berhenti berjuang untuk membela kebenaran dan keadilan."setiap kali kami bertemu dengan para buruh, selalu mengajak agar teman-teman mau berorganisasi.Karena akan banyak pengetahuan yang bisa didapatkannya" sahutnya.

Jumisih, juga meminta kepada pemerintah maupun instansi terkait di moment hari kartini ini agar tidak lagi menyepelekan atau melakukan tindak semena-mena kepada hak perempuan. Karena keberadaan sudah diatur dalam UU. Termasuk untuk menyelesaikan kasus-kasus kekerasan terhadap kaum perempuan agar cepat diselesaikan.

Jadi Caleg PKB, Tokoh Masyarakat Tanah Merah Akan Lindungi Minoritas


KOJA - Ketua Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu (FKTMB) Jakarta Utara, Mohamad Huda secara resmi telah mendaftarkan diri sebagai calon legislatif DPRD DKI Jakarta dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Berangkat dari ketertarikannya untuk melindungi kaum minoritas serta memperbaiki sistem pemerintahan yang bersih bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, Huda siap maju sebagai caleg DPRD DKI Jakarta dengan Daerah Pemilihan (Dapil II) Jakarta Utara. Meliputi daerah Koja, Cilincing, Kelapa Gading dan Pulau Seribu.

“Alasan mendasar kenapa saya bertekat maju sebagai caleg dalam pemilu 2014 pemilu adalah momentum sebagai pengejawantahan dari sistem demokrasi dimana rakyat berhak memilih dan dipilih, karena saya befikir saat ini momentum yang penting dan harus gunakan sebaik mungkin,” ujarnya kepada wartawan, Jumat 19 April 2013.

Seperti di lansir penaOne.com, Huda menjelaskan, kenapa dirinya tertarik mencalonkan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Menurutnya PKB selalu berkomitmen dan melindungi hak- hak kaum minoritas. Serta berkomitmen untuk Membela yang benar dan tetap konsisten untuk meneruskan ide dan pemikiran Gus Dur.

“PKB merupakan partai yang lahir di era Reformasi 1998 dimana salah satu pendirinya almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kita kenal sebagai Bapak Bangsa sekaligus Mantan Presiden RI,” terangnya.

Selain itu, lanjut dia, PKB merupakan partai muda yang konsisten dan berkomitmen untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, menegakkan kedaulatan rakyat, dan mewujudkan pemerintahan yang demokratis. “Sebagai partai yang bersih dan terpercaya, melaksanakan pembangunan nasional untuk kemakmuran rakyat tanpa membedakan suku, agama, ras ataupun golongan,” tandasnya.

Menurutnya, pemilu 2014 adalah momentum yang tepat bagi pemuda dalam mengambil peran strategis dan ikut sebagai caleg yang nantinya akan terlibat secara aktif dalam mentukan kebijakan dalam pemerintah yang akan datang.

Pemerintahan yang akan datang banyak diisi oleh pemuda, lanjut Huda, pemilu juga memberikan ruang bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali untuk menggunakan haknya dalam menentukan pilihan. “Pemilu adalah sarana atau ruang partisapasi publik dalam menentukan masa depan bagi perjalanan pemerintah yang akan datang,” pungkasnya. 

Mengangkat Derajat Buruh Untuk Sejahtera

Thomas Aquino B,SH sosok aktivitis buruh di KBN tak pernah menyerah dan pantang mundur untuk membela hak dan kepentingan buruh yang hingga kini nasibnya masih setengah hati diperhatikan oleh Pemerintah. Dan iapun kerap memperjuangkannya meski harus berhadapan dengan aparat keamanan saat turun ke jalan.

"Memang saat ini perjuangan belum selesai, namun kami akan terus membela nasib  buruh yang hingga kini hidupnya masih sengsara dan miskin" kata Thomas pria kelahiran Ende 7 Maret 1969. Ditambahkan Thomas, ia lebih memilih jalur buruh karena masyarakat buruh ini butuh orang-orang berani untuk dibela,apalagi mereka sudah banyak menyumbangsih devisa bagi negara ini.

"Banyak pelanggaran yang kerap terjadi di buruh, namun mereka selalu kesulitan untuk melapornya, untuk itulah kami ingin membelanya supaya haknya tidak diabaikan" jelas Thomas.

Thomas yang juga merupakan Ketua SBSI 92 ini berharap kedepannya, nasib buruh tidak lagi dipinggirkan, buruh merupakan pekerja yang harus dinilai manusiawi serta keinginanya untuk menciptakan pola pikir buruh yang kritis dan pandai.

Ingin Mengubah Kesenjangan Sosial di Kelapa Gading

Sebagai tokoh masyarakat dan juga Ketua LMK di Kelapa Gading Barat, Said Syafaat Adam 64, sosok figur masyarakat ini berupaya menciptakan perubahan kesenjangan sosial di masyarakat Kelapa Gading Barat. Oleh karenanya ia membangun program-program pemberdayaan masyarakat untuk membantu warga Gading Barat yang tidak mampu. Dan manfaatkannya tidak ada diantara warga kelapa gading barat perbedaan lantaran kesenjangan sosial "Yang paling utama kami perbuat adalah bagimana menciptakan kepedulian bagi warga yang mampu kepada mereka yang tidak mampu" kata Said Syafaat Adam pria kelahiran Ternate, 5 Juni 1949 itu.

Meski usianya sudah lanjut, tetapi perjuangannya kepada orang tak mampu patut ditiru. Di Kelapa Gading Barat ini ada 13 RW yang merupakan kawasan pemukiman elite dan perumahan, dan 3 RW sederhana serta 3 RW kumuh miskin.

Maka iapun mengajak warga yang mampu untuk menanamkan kepeduliannya berbuat kepada yang tak mampu supaya tidak ada kesenjangan sosial bagi warga di Gading Barat. Berbagai program ia bangun bersama ketua RW maupun tokmas di kawasan pemukiman elite untuk menumbuhkan kepedulian bersama"Sudah banyak kami membuat program bakti sosial dan kepedulian lainnya kepada mereka yang tak mampu. Hingga kini tak ada lagi kesenjangan sosial di wilayah" tuturnya.

Tangani Masalah Kriminalitas Lingkungan Dengan Musyawarah

Sumarno Bsc, salah seorang tokoh masyarakat di Kebon Bawang, Tanjung Priok Jakarta Utara sangat dikenal dekat oleh warganya. Terlebih lagi ia dipercayai untuk menjadi sosok ketua RT 5/11 Kebon Bawang selama 30 tahun. Ini menandakan kepercayaan masyarakat kepadanya betul-betul harus dijaga.

Sebagai pamong di level bawah, berbagai persoalan di masyarakat memang banyak ragamnya. Dari persoalan kecil menjadi rumit hingga bisa menjadi persoalan besar. Jika tidak ditangani dengan kepala dingin, sabar dan ikhlas mungkin akan mudah terpacing emosi.

"Banyak persoalan yang muncul di wilayah, namun yang kerap menimbulkan masalah ketika ada masalah kriminalitas lingkungan, untuk itu perlu ketauladan dan kepala dingin untuk menyelesaikannya" kata pria kelahiran Belawan 25 Februari 1957.

Namun baginya persoalan kriminalitas di lingkungan sejak ia memimpin selalu bisa diselesaikan di meja perundingan dan musawarah. " Kalau semua persoalan dilakukan di meja perundingan dan kepala dingin pasti mudah diselesaikan" ujarnya

Sisca Herawati - Kasudin PU Tata Air Jakarta Utara



Sering Dimaki Warga Gara-gara Banjir

Impian Sisca Herawati dalam merengkuh kesuksesan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ya, wanita kelahiran Cirebon ini harus melalui berbagai ujian sebelum akhirnya dipercaya sebagai Kepala Sudin Pekerjaan Umum (PU) Tata Air Jakarta Utara. Bahkan, Sisca pun kerap menjadi sasaran kekesalan warga yang memaki-maki dirinya lantaran banjir yang menggenagi rumah mereka. Namun dengan tekad yang kuat, serta berbagai upaya pendekatan persuasif, Sisca pun terus melakukan normalisasi kali maupun saluran air demi meminimalisir timbulnya genangan serta banjir yang menghantui warga.  

Sebelum berkarier di Pemprov DKI Jakarta, wanita kelahiran Cirebon, 4 Mei 1960 ini pernah melakoni sejumlah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meski terlahir dari keluarga yang berada, namun kesuksesan yang dirintis Sisca dimulainya dari nol. "Alhamdulillah, saya tidak pernah hidup dalam kesulitan. Tapi bukan berarti saya bangga dengan harta orang tua. Saya memulainya dari nol. Saya juga bisa mersakan bagaimana orang menderita. Saya orangnya tegas dan tidak ada yang saya takuti. Karena sepanjang saya benar, saya berani, tapi kalau salah, saya tidak akan berani," ujar Sisca kepada beritajakarta.com, Rabu (19/12).

Sejak tamat SMA di SMAN 1 Cirebon pada tahun 1980, Sisca langsung melanjutkan pendidikannya dengan diterima menjadi mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB). Tahun 1985, Sisca pun menamatkan pendidikannya di ITB dengan menyandang gelar sarjana muda. Lulus dari ITB, tanpa pikir panjang, Sisca langsung memutuskan merantau ke Jakarta. Nasib baik pun berpihak pada dirinya. Ya, Sisca diterima menjadi Staf Perencanaan Bidang Proyek Khusus Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta pada tahun itu juga dengan status sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS). 

Nasib baik terus memayunginya. Di tahun 1986, Sisca akhirnya diangkat menjadi PNS hingga akhirnya pada tahun 2003 menduduki posisi penting yakni menjadi Kepala Seksi (Kasie) Sudin PU Tata Air Jakarta Selatan. Kariernya pun terus melesat. Pernah menduduki Kasie Perencanaan Sudin PU Tata Air Jakarta Pusat dan Kasie Perencanaan Sudin PU Tata Air Jakarta Utara, Sisca kemudian diambil sumpahnya menjadi Kepala Sudin PU Tata Air Jakarta Utara sejak Mei 2012 hingga kini.  

Selama itu, Sisca pun terus menyelesaikan pendidikannya dengan melanjutkan kuliah S1 di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) tamat tahun 2002. Di tempat yang sama, ia pun kembali menyelesaikan studi S2. Lalu di tahun 2007, Sisca melanjutkan kuliah S3 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan lulus pada tahun 2010. "Selama itu pula saya mencuri-curi waktu untuk kuliah. Karena semakin tinggi pendidikan kita, tentu akan semakin mudah meraih impian kita," katanya.

Selama mengabdi sebagai PNS di lingkungan Pemrov DKI Jakarta, anak ke-6 dari 7 bersaudara ini sering mendapati pengalaman pahit seperti dimaki-maki oleh warga yang rumahnya kebanjiran. Meski begitu, putri pensiunan TNI ini tidak putus asa dan selalu berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada warganya. Ya, pihaknya terus bekerja keras dengan berusaha mengurangi banjir maupun genangan yang biasa timbul terutama saat musim penghujan. Salah satunya dengan menormalisasi kali maupun saluran air serta menertibkan keberadaan bangunan liar yang berdiri di atas saluran air. 

"Mereka bilang, PU kerjanya ngapain aja, tidur apa gimana? karena rumah saya banjir. Padahal, saran kami tidak didengar warga. Mereka banyak mengkritik pemerintah, tapi mereka sendiri yang bangunannya menutupi saluran air akan kita dibongkar, mereka tidak mau. Jadi butuh kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Jangan hanya mengkritik saja, karena peran serta masyarakat itu sangat penting dalam mengatasi banjir," ucap ibu dari Rafika Tiwi ini.

Karena itu, visi misinya menjabat Kepala Sudin PU Tata Air Jakarta Utara, Sisca ingin menyadarkan masyarakat bahwa kali itu fungsinya untuk pembuangan air hujan dan bukan pembuangan kotoran manusia maupun sebagai tempat sampah. "Kalau airnya biru, bersih dan di sekitar kali ditanami pohon hijau, itu kan bisa sehat dan membawa rezeki. Tapi saya mulai dari diri saya sendiri sebelum ke orang lain. Jadi, saya nggak bisa cuma duduk di kantor menunggu laporan dari teman-teman, tapi harus datang ke lapangan sendiri seperti yang dicontohkan Pak Gubernur Jokowi," ucapnya.

Selain itu, istri dari Hidayat ini pun harus berhadapan dengan kontraktor nakal yang meminta kepada dirinya untuk dimenangkan dalam suatu proyek. "Kontraktor kadang mengintimidasi agar proyeknya diatur, tapi saya tidak bisa melakukan hal ini. Jadi ini juga tantangan buat saya, karena semuanya harus sesuai prosedur. Apalagi zaman sekarang minta proyek, ini kan nggak benar. Pokoknya semua harus transparan," tegas Sisca.

Tak hanya itu, dirinya pun merasa bangga karena menjadi salah satu tim yang merumuskan keberadaan Banjir Kanal Timur KBT. Saat itu, kenang Sisca, dirinya berserta tim diminta membuat presentasi yang dibacakan Kepala Bappeda DKI Jakarta di hadapan Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Sutiyoso. "Saya bangga karena bersama rekan-rekan lainnya dipercaya Kepala Dinas PU untuk membuat presentasi di hadapan Gubernur Sutiyoso. Untuk membuat presentasi itu saya pernah menyusuri KBT yang berjarak 23,5 kilometer dengan berjalan kaki. Ini tentu menjadi kebanggaan saya. Apalagi saat ini KBT terbukti efektif mengurangi banjir di beberapa wilayah di Jakarta Timur dan Jakarta Utara," kenang Sisca.

Turun Bersama Warga Untuk Melihat Persoalan

Impian Sisca Herawati dalam merengkuh kesuksesan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ya, wanita kelahiran Cirebon ini harus melalui berbagai ujian sebelum akhirnya dipercaya sebagai Kepala Sudin Pekerjaan Umum (PU) Tata Air Jakarta Utara. Bahkan, Sisca pun kerap menjadi sasaran kekesalan warga yang memaki-maki dirinya lantaran banjir yang menggenagi rumah mereka. Namun dengan tekad yang kuat, serta berbagai upaya pendekatan persuasif, Sisca pun terus melakukan normalisasi kali maupun saluran air demi meminimalisir timbulnya genangan serta banjir yang menghantui warga.   

Sebelum berkarier di Pemprov DKI Jakarta, wanita kelahiran Cirebon, 4 Mei 1960 ini pernah melakoni sejumlah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meski terlahir dari keluarga yang berada, namun kesuksesan yang dirintis Sisca dimulainya dari nol. "Alhamdulillah, saya tidak pernah hidup dalam kesulitan. Tapi bukan berarti saya bangga dengan harta orang tua. Saya memulainya dari nol. Saya juga bisa mersakan bagaimana orang menderita. Saya orangnya tegas dan tidak ada yang saya takuti. Karena sepanjang saya benar, saya berani, tapi kalau salah, saya tidak akan berani," ujar Sisca kepada beritajakarta.com, Rabu (19/12).

Sejak tamat SMA di SMAN 1 Cirebon pada tahun 1980, Sisca langsung melanjutkan pendidikannya dengan diterima menjadi mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB). Tahun 1985, Sisca pun menamatkan pendidikannya di ITB dengan menyandang gelar sarjana muda. Lulus dari ITB, tanpa pikir panjang, Sisca langsung memutuskan merantau ke Jakarta. Nasib baik pun berpihak pada dirinya. Ya, Sisca diterima menjadi Staf Perencanaan Bidang Proyek Khusus Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta pada tahun itu juga dengan status sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS).   

Nasib baik terus memayunginya. Di tahun 1986, Sisca akhirnya diangkat menjadi PNS hingga akhirnya pada tahun 2003 menduduki posisi penting yakni menjadi Kepala Seksi (Kasie) Sudin PU Tata Air Jakarta Selatan. Kariernya pun terus melesat. Pernah menduduki Kasie Perencanaan Sudin PU Tata Air Jakarta Pusat dan Kasie Perencanaan Sudin PU Tata Air Jakarta Utara, Sisca kemudian diambil sumpahnya menjadi Kepala Sudin PU Tata Air Jakarta Utara sejak Mei 2012 hingga kini.  

Selama itu, Sisca pun terus menyelesaikan pendidikannya dengan melanjutkan kuliah S1 di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) tamat tahun 2002. Di tempat yang sama, ia pun kembali menyelesaikan studi S2. Lalu di tahun 2007, Sisca melanjutkan kuliah S3 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan lulus pada tahun 2010. "Selama itu pula saya mencuri-curi waktu untuk kuliah. Karena semakin tinggi pendidikan kita, tentu akan semakin mudah meraih impian kita," katanya.

Selama mengabdi sebagai PNS di lingkungan Pemrov DKI Jakarta, anak ke-6 dari 7 bersaudara ini sering mendapati pengalaman pahit seperti dimaki-maki oleh warga yang rumahnya kebanjiran. Meski begitu, putri pensiunan TNI ini tidak putus asa dan selalu berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada warganya. Ya, pihaknya terus bekerja keras dengan berusaha mengurangi banjir maupun genangan yang biasa timbul terutama saat musim penghujan. Salah satunya dengan menormalisasi kali maupun saluran air serta menertibkan keberadaan bangunan liar yang berdiri di atas saluran air.  

"Mereka bilang, PU kerjanya ngapain aja, tidur apa gimana? karena rumah saya banjir. Padahal, saran kami tidak didengar warga. Mereka banyak mengkritik pemerintah, tapi mereka sendiri yang bangunannya menutupi saluran air akan kita dibongkar, mereka tidak mau. Jadi butuh kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Jangan hanya mengkritik saja, karena peran serta masyarakat itu sangat penting dalam mengatasi banjir," ucap ibu dari Rafika Tiwi ini.

Karena itu, visi misinya menjabat Kepala Sudin PU Tata Air Jakarta Utara, Sisca ingin menyadarkan masyarakat bahwa kali itu fungsinya untuk pembuangan air hujan dan bukan pembuangan kotoran manusia maupun sebagai tempat sampah. "Kalau airnya biru, bersih dan di sekitar kali ditanami pohon hijau, itu kan bisa sehat dan membawa rezeki. Tapi saya mulai dari diri saya sendiri sebelum ke orang lain. Jadi, saya nggak bisa cuma duduk di kantor menunggu laporan dari teman-teman, tapi harus datang ke lapangan sendiri seperti yang dicontohkan Pak Gubernur Jokowi," ucapnya.

Selain itu, istri dari Hidayat ini pun harus berhadapan dengan kontraktor nakal yang meminta kepada dirinya untuk dimenangkan dalam suatu proyek. "Kontraktor kadang mengintimidasi agar proyeknya diatur, tapi saya tidak bisa melakukan hal ini. Jadi ini juga tantangan buat saya, karena semuanya harus sesuai prosedur. Apalagi zaman sekarang minta proyek, ini kan nggak benar. Pokoknya semua harus transparan," tegas Sisca.

Tak hanya itu, dirinya pun merasa bangga karena menjadi salah satu tim yang merumuskan keberadaan Banjir Kanal Timur KBT. Saat itu, kenang Sisca, dirinya berserta tim diminta membuat presentasi yang dibacakan Kepala Bappeda DKI Jakarta di hadapan Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Sutiyoso. "Saya bangga karena bersama rekan-rekan lainnya dipercaya Kepala Dinas PU untuk membuat presentasi di hadapan Gubernur Sutiyoso. Untuk membuat presentasi itu saya pernah menyusuri KBT yang berjarak 23,5 kilometer dengan berjalan kaki. Ini tentu menjadi kebanggaan saya. Apalagi saat ini KBT terbukti efektif mengurangi banjir di beberapa wilayah di Jakarta Timur dan Jakarta Utara," kenang Sisca. Tetapi baginya saat ini adalah bisa turun bersama masyarakat ke bawah untuk melihat persoalannya secara langsung dan detail sehingga apa yang nantinya diprogramkan bisa menjadi rumusan dalam membangun kawasan sungai yang bersih dan sehat.

 

Sstt.. Basuki Ternyata Suka Curhat ke Istrinya


Sstt.. Basuki Ternyata Suka Curhat ke IstrinyaDi balik sikap tegasnya kepada anak buah, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ternyata tetap butuh teman curhat. Tentu saja dia curhat kepada istrinya, Veronica Tan.

Veronica yang ditemui seusai acara pendidikan keterampilan keluarga (PKK) di kantor Wali Kota Jakarta Utara, Kamis (22/11/2012), awalnya enggan menjawab soal curhatan Basuki.

"Ini kayaknya bukan (tentang) PKK lagi deh, ini intersirat ini," kata wanita yang berpenampilan sederhana itu sambil tertawa.

Meski begitu, dia tetap melayani pertanyaan wartawan dengan baik. Dan dia mengiyakan bahwa suaminya itu kerap curhat kepadanya.

"Ya, pastilah. Bapak kalau enggak cerita ke rumah lagi, kadang-kadang ada keluh kesah, mau cerita ke mana ya? Yang penting Ibu (istri) menampung saja," ujar Veronica sambil tersenyum.

Veronica juga menceritakan kegiatan pribadinya. Meski sebagai istri Wakil Gubernur DKI, Veronica mengaku tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.

Saat ini, Basuki pun belum menghuni rumah dinasnya. Mereka masih tinggal di rumah pribadi di Jakarta Utara.

"Ya, pasti urusan rumah tangga enggak boleh diabaikan. Masih ngantar anak, tetapi kadang sebagian minta tolong sama keluarga. Sekarang masih tinggal di rumah sendiri, masih di Jakarta Utara," katanya mengakhiri.
 Sumber : kompas.com

 

 
 
Copyright © 2014 JAKARTA UTARA. All Rights Reserved. Powered by Lintas Daerah
Template by Creating Website and Kang Lintas