Pemerintahan    Pendidikan    Kesehatan    Pariwisata    Perhubungan    Pelabuhan    Dukcapil    Damkar    PU Jalan    PU Air    LMK    KBN    PKK    BPN    PMS    P2B    Tokoh   

Penjaga Rumah Pompa Mengaku Diuber-uber Penagih Utang

Ratusan pegawai penjaga pompa air di Jakarta Utara mengaku sering dikejar debt collector alias penagih utang. Ini karena selama ini pembayaran gaji tersendat-sendat, sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka erpaksa utang sana utang sini.

Keluhan ini disampaikan kepada Plt Walikota Jakarta Utara, Tri Kurniadi saat bertatap muka di kantor Walikota Jakarta Utara, Selasa (16/12). Petugas ini meminta Dinas PU agar membayar gaji tepat waktu.
“Kamiini Pekerja Harian Lepas (PHL).Sebab sekarang ini gajinya telat-telat terus sehingga teman-teman jadi korban debt collector. Jadi tolong secepatnya dibayarkan minimal awal tanggal 1,” kata Heri petugas Pintu air Kodamar, Kelapa Gading, Jakarta Utara yang disambut tepuk tangan teman-temanya.

Pernyataan lain juga disampaikan oleh Imron, penjaga rumah pompa air di Bimoli Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Dia mengaku selama ini petugas teknis jarang memeriksasecara menyeluruh sehingga membuat petugas di lapangan sulit untuk melaporkan jika terjadi masalah.

Dia meminta pemerintah supaya rutin melakukan pengecekan oleh tenaga ahli. Ini dilakukan dengan tujuan untuk mengantisipasi apabila terjadi kerusakan akan cepat diatasi sehingga tidak akan semakin parah. “Kalau saya lihat selama ini jarang ada petugas teknis yang datang melakukan pemeriksaan pompa,” terangnya.

Plt Walikota Jakarta Utara Tri Kurniadi mengaku sangat prihatin dengan kondisi ini. Menurutnya, ia meminta kepada Dinas Pekerjaan Umum, Pemprov DKI Jakarta memenuhi kewajibannya membayar gaji tepat waktu kepada para petugas rumah pompa.

“Saya sangat prihatin dengan kondisi  PLH yang gajinya tersendat-sendat sehingga mereka terpaksa dikejar-kejar utang. Kedepan hal ini tidak boleh terjadi, karena saya khawatir akan mengganggu kenerja para pegawai dilapangan, makanya mereka harus kita prioritaskan gaji jangan sampai tertunda-tunda lagi,”terang Tri Kurniadi dengan nada tinggi.

Diungkapkan oleh Plt Walikota, pengecekan pompa air ini juga harus dilakukan secara rutin bukan hanya pada saat musim hujan saja atau pada saat terjadi kerusakan. Jika ada kerusakan seperti ini tidak akan repot lagi, berdasarkan perkiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika  BMKG pertengahan Januari curah hujan mulai tinggi. Namun hujannya tidak selebat seperti tahun lalu, meski begitu hal ini harus secepatnya diatasi.

“Di Jakarta Utara ada 98 unit pompa di  35 rumah pompa. Dari jumlah tersebut, 11 rumah pompa kewenangannya berada di Sudin PU Tata Air, dan sisanya berada di tingkat DKI Jakarta. Untuk mencegah agar Jakarta Utara bebas banjir maka rumah pompa harus berjalan maksimal”terangnya.

Kasudin PU Tata Air, Wagiman Silalahi menuturkan dari 98 unit pompa air yang ada di Jakarta Utara tercatat ada 6 pompa yang mengalami rusak. Saat ini keenam pompa air tersebut dalam proses perbaikan dan perkirakan dalam waktu akan selesai.  “Saat ini kami sudah memperbaiki dan kami pastikan seluruh rumah pompa segera berfungsi optimal,”terang Wagiman. 
Sumber : http://poskotanews.com/2014/12/16/penjaga-rumah-pompa-mengaku-diuber-uber-penagih-utang/

Waduk Papanggo Mendesak Dinormalisasi

Warga Berharap Waduk Papanggo Dinormalisasi 
Menghadapi musim hujan warga yang berdomisili di sekitar Waduk Papanggo, Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara mulai cemas. Pasalnya kondisi waduk sudah sangat memprihatinkan karena sudah lama tidak dinormalisasi.
Warga khawatir jika waduk tidak segera dinormalisasi, saat musim hujan datang pemukiman mereka akan terendam banjir akibat meluapnya air waduk. Di sekitar waduk itu ditempati ribuan warga yang tersebar masing-masing di RW 08,09 dan 10. Waduk itu diketahui sudah lebih dari lima tahun tidak dikeruk.
"Meski tidak sampai mengungsi, namun akibat meluapnya air waduk, akses warga menjadi terganggu, karena rata-rata ketinggian air mencapai 50 sentimeter. Terakhir saat musim hujan bulan Januari-Februari kemarin, kampung kami kebanjiran," kata Samin (31), salah satu warga RT 13/08.
Wakil Lurah Papanggo, Dwi Kunarso menyebutkan, usulan untuk menormalisasi Waduk Papanggo sudah masuk dalam musrembang pertengahan tahun ini. "Setahu saya sudah akan dikerjakan pengerukan waduk, karena beberapa alat berat sudah ada di sekitar lokasi," ujarnya.
Namun Dwi mengaku belum mengetahui kapan pengerukan akan dilakukan. Sebab hal itu merupakan kewenangan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.
Hal senada diungkapkan Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Utara, Wagiman Silalahi. Menurutnya, pengerukan waduk menjadi tangungjawab Dinas Pekerjaan Umum DKI.
"Soal normalisasi Waduk Papanggo saya tidak paham rencana detailnya seperti apa. Karena itu kewenangan Dinas PU," tukas Wagiman.

Terancam Banjir, Warga Sunter Desak Pemda Bangun Tanggul Kali Sentiong

Tanggul Kali Sentiong
SUNTER AGUNG - Warga dan tokoh masyarakat Sunter Agung berharap pemerintah daerah (Pemda) DKI Jakarta segera membangun tanggul kali sentiong yang amblas, di Jalan Griya Inti Sentosa, RW 20 Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pekan lalu. Warga menginginkan tanggul dibangun dengan sheet file agar lebih kokoh dan kontruksi tanah tidak mudah longsor.

"Kami berharap Pemda DKI Jakarta secepatnya membuat tanggul kali sentiong yang amblas. Karena kami semua kuatir bila hujan lebat dan rob datang air kali akan meluap kekomplek pemukiman, ruko dan rukan," ujar Dolly. S, tokoh masyarakat Sunter Agung, Senin (23/6/2014).

Ketua RW 20 Sunter Agung, Jaya Hartanto, membenarkan saat ini warganya merasa cemas sehubungan tanggul yang amblas di lingkungannya. "850 Kepala Keluarga dilingkungan kami menjadi cemas, apalagi bila hujan turun deras. Kami sangat kuatir air kali sentiong akan membanjiri tempat tinggal kami. Kami semua berharap pemda atau Dinas PU DKI Jakarta segera melakukan perbaikan dan kami minta dengan sheet file," ujar Jaya Hartanto.

Saat ini, kata dia, dilokasi tanggul yang amblas dampak dari adanya pengerukan kali sentiong sebagian sudah di pasang bambu untuk mencegah tanah yang longsor. "Dari 600 meter tanggul di lingkungan kami sekitar 100 meter amblas. Kami sudah melayangkan surat ke Walikota Jakarta Utara, intinya kami minta segera ada pembangunan tanggul yang baru," tegasnya.

Sementara itu, H.Heryanto, selaku penanggung jawab pengerukan kali Sentiong mengatakan pihaknya juga sudah melayangkan surat kepada Plt Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

"Kami sudah kirim surat kepada Plt Gubernur, usulan kami memohon segera ada perbaikan di lokasi tanggul yang amblas dengan menggunakan sheet file seperti yang warga harapkan. Namun kebijakan itu nantinya akan di kerjakan oleh Dinas PU DKI Jakarta," jelasnya.

Backhoe Ampibi Terguling di Kali Sentiong, PU Potong Kambing

Backhoe diperbaiki
SUNTER AGUNG - Sebuah alat berat backho berjenis ampibi yang sedang melakukan pengerukan lumpur di kali Sentiong, Jalan Danau Sunter Barat, Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara terguling dengan posisi kepala backhoe berada dibawah dan kaki berada diatas. Beruntung sang sopir selamat dari insiden yang terjadi kemarin sore. 

Dinas PU DKI Jakarta yang melakukan pengerukan lumpur kali sentiong pun beraksi cepat dengan mengangkat backhoe ampibi dari kali berwarna hitam itu. Sebuah crane dan dua backhoe lainnya membantu mengembalikan posisi backhoe yang terguling itu. Tidak ingin kejadian tersebut terulang kembali Dinas PU melakukan 'ritual' dengan menyembelih seekor kambing dilakosi kejadian.

"Kemarin, sekitar jam 10 malam backhoe ampibi baru dapat diangkut ketepian kali. Setelah alat berat ampibi terbalik, PU melakukan penyembelihan kambing. Ya mungkin saja untuk menjaga-jaga karena ada mitos kali ini ada penunggunya," kata Fahrudin alias Arul, tokoh masyarakat RW 03 Sunter Agung, Jumat (23/5/2014).

Menurut pria yang telah 43 tahun menghuni pemukiman tidak jauh dari kali sentiong itu, banyak kejadian aneh dikali sepanjang 4 km dengan lebar 10 meter. "Dulu kali ini adalah sebuah empang, dulu jaman misterius sering ditemui mayat dalam karung di kali ini. Bahkan diujung kali tersebut tidak jauh dari jembatan dekat dipo kebersihan konon menjadi tempat bermainnya mahluk halus simanis jembatan ancol," tuturnya.

"Mungkin saja itu hanya mitos, boleh percaya boleh juga tidak percaya. Tetapi kali sentiong khususnya dekat jembatan hitam sudah beberapa kali makan korban. Pernah ada seorang anak yang kecebur di jembatan hitam mayatnya baru ketemu di jembatan kecil demikian juga dengan seorang tukang cukur," ungkap Arul.

Bukan hanya itu, jembatan hitam kali sentiong juga menyimpan misteri ular piton. "Kami menyakini di bawah jembatan hitam menjadi tempat bersarangnya ular piton yang cukup besar dan panjang. Kami juga sudah mengingatkan petugas operator bachoe yang sedang melakukan pengerukan lumpur agar berhati-hati," imbuhnya. 

Sementara itu, seorang pekerja rekanan Dinas PU DKI Jakarta membenarkan alat beratnya terguling saat melakukan pengerukan lumpur. "Yang ini backhoe ampibi yang terbalik kemarin. Sedang diperbaiki mekanik untuk sementara tidak dapat beroperasi karena air kali banyak yang masuk kedalam mesin dan komponen lainnya. Bukan cuma mesin backhoe yang 'minum air' sopirnya juga 'minum air' saat alatnya terbalik untung saja dia selamat," kata pria itu.  

Warga Sunter Cemas Pengerukan Kali Sentiong

SUNTER AGUNG - Sejumlah warga Sunter Agung mengaku cemas dengan adanya pengerukan lumpur Kali Sentiong yang dilakukan Dinas PU DKI Jakarta. Pasalnya, pengerukan lumpur yang terlalu dalam akan berdampak longsor dikuatirkan pemukiman rumah warga di RW 03, 04 dan 05 Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara akan mengalami kerusakan. 

"Saya ingat betul sekitar tahun 1980 kedalaman kali sentiong ini hanya empat meter. Bila sekarang dilakukan pengerukan lumpur kami sebagai warga setuju saja asalkan tidak terlalu dalam. Apabila pengerukan dengan alat berat sudah sampai ketemu lumpur yang cukup keras, cukup sampai disitu saja," ujar Ahmad, tokoh masyarakat RW 03 Sunter Agung, Minggu (18/5/2014).

Sebab, menurutnya, bila lumpur yang keras itu tetap di keruk dikuatirkan akan merusak tanggul dan pemukiman warga. "Jarak rumah warga dengan kali sentiong sangat dekat sekali. Kami bukanya tidak mendukung program pembangunan kali ini, melainkan kami kuatir saja. Kami juga kerap mengingatkan operator alat berat (Bekho) agar tidak sembarang mengeruk," ucapnya. 

"Jangan sampai belum ada kepastian apakah pemukiman warga akan digusur atau diganti rugi yang jelas oleh pemda DKI malah sudah rusak akibat longsor yang ditimbulakan adanya pengerukan," tambahnya. 

Ungkapan senada juga dikatakan Mahrul, 45, warga Sunter Agung lainnya. "Menurut saya pengerukan kali semakin dalam memang semakin bagus agar kali tidak cepat dangkal tetapi itu dapat berlaku bila di sekitar bibir kali tidak banyak bangunan rumah warga. Ya..setidaknya petugas pengerukan kali harus hati-hati jangan sampai ada rumah warga yang rusak," imbuhnya. 

Hati-hati Melintasi Jalan Ini Ketinggian Air Mencapai 60 CM

TANJUNG PRIOK - Jalan Sunter Permai Raya menuju Jalan Negara RE Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta Utara ketinggian air di lokasi terebut mencapai 60 cm. Sejumlah pengendara motor banyak yang menghentikan kendaraannya karena tak sanggup menerjang derasnya air. Hampir satu bulan ini Jalan tersebut selalu tergenang akbibat meluapnya kali.

"Tadi Pagi tidak separah ini. Sekarang lebih dalam bisa mencapai 60 centi meter," ujar Pardi, 40, salah seorang pengguna motor yang melintasi jalan Sunter permai Raya, kepada jakartautara.co, Rabu (5/2/2014) sore. "Hati-hati saja di tengah depan taman BMW sangat dalam. Ditambah lagi ombak dari kendaraan berat yang melintas mengakibatkan banyak motor yang mogok," tambahnya. 

Kepala Sudin Pekerjaan Umum (PU) Tata Air Jakarta Utara, Wagiman Silalahi mengatakan, genangan di sejumlah jalan di Jkarta Utara karena tidak lagi sanggup menampung air kiriman dari Pintu Air Pulogadung, Pompa IKIP Pulomas dan Pintu Air Kali Item.

 "Jakut itu kan daerah hilir muaranya sungai. Sementara daerah parkir air sudah hampir tidak ada dan saluran pun lebarnya tidak bertambah," katanya.







urung melintasi jalan ini

Danau Dipenuhi Eceng Gondok, Warga 3 RW Sunter Jaya Resah

SUNTER JAYA - Sejumlah warga di 3 RW Kelurahan Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara mengaku resah dengan menjamurnya eceng gondok di danau Sunter, Jalan Danau Sunter Selatan yang berhubungan dengan pemukiman warga tersebut. Warga berharap pemprov DKI Jakarta melalui Dinas PU segera melakukan pembersihan eceng gondok yang semakin hari bertambah tinggi dan meluas menutupi seluruh luas danau.

Menurut Rahmatullah tokoh pemuda Sunter Jaya keberadaan eceng gondok sudah mengkuatirkan warga di RW 01, 05 dan 06 Sunter Jaya. "Semakin lama semakin banyak. Warga kuatir akan adanya ular dan nyamuk yang bersarang. Selain itu danau juga akan menjadi dangkal," kata Rahmat, Rabu (21/8/2013).

Ia menyayangkan lambatnya penanganan dan pemeliharaan danau sehingga eceng gondok semakin menjamur. "Padahal danau tersebut kerap digunakan olahraga perahu dayung dan menjadi tempat wisata serta peristirahatan," ucapnya.

Kekuatiran yang sama juga di katakan pihak kelurahan Sunter Jaya. Susi Cinthya, wakil lurah Sunter Jaya, mengakui keberadaan eceng gondok yang semakin menjamur. "Kami juga kuatir eceng gondok akan berdampak danau menjadi dangkal sehingga saluran air yang menuju danau jadi terhambat," ujar Susi.

Pihak kelurahan sendiri, katanya, sudah melayangkan surat kepada Suku Dinas PU Tata Air Jakarta Utara, sebanyak dua kali. "Seingat saya surat sudah kami kirim ke Sudin PU air pada bulan Juni dan Juli tahun ini. Kami berharap segera ada tindakan namun sampai saat ini kami belum mengetahui petugas yang menanganinya," jelasnya.

Foto: Seorang anak remaja berlari melihat ular di tepian danau sunter selatan yang di penuhi eceng gondok.

Cegah Banjir, Lumpur Saluran Jalan Pluit Raya Dikuras

PENJARINGAN - Mencegah terjadinya banjir dan genangan sejumlah saluran di Jalan Puit Raya, Penjaringan, Jakarta Utara di kuras petugas Sudin PU Tata Air Jakarta Utara. Belasan petugas yang diturunkan untuk menguras lumpur di saluran tersebut dengan menggunakan alat cangkul dan karung pasir.

Pantauan jakartautara.co, saluran depan kantor kecamatan Penjaringan hingga jalan Puit Raya menumpuk ratusan karung yang berisi lumpur di tepi jalan. Petugas sengaja menempatkan karung-karung lumpur tersebut untuk beberapa hari kedepan dengan tujuan agar air lumpur tidak berceceran di jalan.

"Mudah-mudahan saja setelah saluran ini di kuras airnya menjadi lancar sehingga tidak terjadi genangan dan sarang nyamuk. Ya kalau kami sih senang-senang saja, jadi bersih," kata Joko,45, salah seorang pedagang kaki lima di Penjaringan, Senin (19/8/2013).

Ia mengaku meski dirinya berjualan di jalan tidak mengganggu pengguna jalan umum apalagi mengotori saluran. "Saya jaga kebersihan tempat usaha karena pembeli jadi senang bila tempatnya bersih," aku pedagang rokok dan minuman ringan itu.

"Ya memang seharusnya petugas sering menguras saluran agar tidak menjadi sarang nyamuk," timpal Maman, 41, warga setempat. 


 

Dewan Anggap Kadis PU Lalai Tangani Banjir di Pademangan

PADEMANGAN - Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Muhammad Sanusi yang membidangi antara lain tentang pembangunan beranggapan bahwa Dinas PU DKI lalai dalam menjalankan tugasnya. Sebab, kata Sanusi, banjir rob di kawasan Pademangan, Jakarta Utara beberapa hari lalu berasal dari luapan kali Ancol. Meski telah berlangsung cukup lama namun tindakan yang dilakukan kurang cepat.

"Kita bilang ini adalah kelalaian, kelalalaian dari Kepala Dinas PU. Harusnya sudah bisa di prediksi dan segera ditangani, jangan sampai kondisinya seperti saat ini, lamban ditangani," ujar Sanusi kepada wartawan Jakarta Utara, Senin (24/6/2013)

Penilaian Sanusi sehubungan kinerja Dinas PU DKI Jakarta dalam mengatasi banjir yang kurang maksimal. Apalagi dengan adanya rumah pompa pintu air Kampung Bandan di Jalan Lodan Raya, Ancol, Jakarta Utara yang seharusnya mampu mengurangi beban rumah pompa Jalan RE Martadinata namun belum juga dapat di operasionalkan. "Kami menyayangkan," ucapnya.

Sebelumnya, warga Pademangan berharap rumah pompa di Jalan Lodan Raya yang di bangun melalui APBD DKI Jakarta sejak tiga tahun lalu agar segera dapat di operasionalkan. Apalagi, katanya, banjir rob yang di prediksi akan kembali melanda kawasan Jakarta akan terjadi.

Sementara itu, Ketua LSM Masyarakat Peduli Pembangunan Kota (MP2K), Krisworo, sepakat bahwa kinerja Dinas PU DKI Jakarta lambat dalam menangani banjir di Pademangan. Ia juga menyesalkan keberadaan rumah pompa di Kampung Bandan tidak pula segera di gunakan.

"Keberadaan rumah-rumah pompa akan sangat menentukan bila rob kembali datang. setahu saya di kali Ancol ini ada dua rumah pompa satu di Jalan RE Martadinata yang di bangun oleh Departemen PU dan di Jalan Lodan Raya di bangun oleh Dinas PU DKI Jakarta. Banjir beberapa hari lalu karena tiga pompa di jalan RE Martadinata mengalami kerusakan sedangkan pompa di Jalan Lodan Raya sama sekali tidak digunakan, padahal barangnya masih baru," kata Krisworo.

3 Tahun Tidak Beroperasi Pompa Kampung Bandan Dipertanyakan

Rumah pompa Jalan Lodan Raya
PADEMANGAN - Banjir yang melanda kawasan Pademangan, Jakarta Utara beberapa hari lalu terindikasi karena tiga pompa Ancol mengalami kerusakan. Meskipun saat ini satu pompa sudah di aktifkan dan di bantu pompa portabel dari unit terkait namun warga masih belum puas.

Pasalnya, warga mempertanyakan keberadaan rumah pompa di Kampung Bandan yang berada di Jalan Lodan Raya tidak pernah di operasionalkan. Padahal jarak pompa Ancol dan pompa Lodan Raya tidak seberapa jauh.

"Bila pompa di Jalan Lodan Raya di operasionalkan setidaknya dapat mengurangi beban air rob kawasan Pademangan. Untuk apa ada pompa yang masih baru tetapi tidak pernah di gunakan," kata Krismanto,  warga Ancol, Selasa (18/6/2013).

Ia menyanyangkan keberadaan pompa Jalan Lodan Raya yang telah di bangun sejak tahun 2011 dengan menghabiskan biaya puluhan miliar namun manfaatnya tidak di rasakan warga Jakarta. "Setahu saya sejak dibangun belum pernah digunakan. Kami berharap Dinas PU DKI Jakarta dapat memfungsikan pompa Jalan Lodan Raya. Jangan didiamkan saja nanti pompa yang masih baru itu malah rusak," tandasnnya.

Sementara itu, Dudung penjaga rumah Pompa di Jalan Lodan Raya, Jakarta Utara mengakui pompa tersebut di bawah wewenang Dinas PU DKI Jakarta. "Tiga pompa di sini masih baru dan tidak ada yang rusak. Kami belum dapat operasionalkan karena belum ada perintah dari Dinas," kata pria yang tidak memperkenankan media masuk kelokasi tersebut.

Pejabat Diminta Mampu Meningkatkan Pengetahuan dan Skill

TANJUNG PRIOK - Semakin kompleks dan beragamnya dinamika kehidupan masyarakat Jakarta Utara dan semakin tingginya partisipasi serta daya kritis masyarakat. Pejabat pemerintah di tuntut senantiasa memiliki dan meningkatkan kapasitas pengetahuan dan skill serta kompetensi untuk mampu berbuat yang terbaik.

"Untuk itu jajaran pemerintah daerah harus mampu meningkatkan kinerjanya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan tupoksinya masing-masing," ujar Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono saat melantik  12 pejabat eselon III dan IV, di Ruang Bahari Lantai 14, Kantor Walikota Jakarta Utara, Rabu 24 April 2013.

Secara kuantitatif, kata Bambang, aparat pemerintah diharapkan mampu bersikap dan bertindak mengambil kebijakan dan menemukan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Sedangkan secara kualitatif diharapkan mampu merumuskan strategi, guna memperkokoh kemandirian, eksistensi dan kemajuan pemerintah itu sendiri.

"Kepada pejabat yang baru dilantik, kami berharap segera melakukan konsolidasi internal di dalam unit kerjanya. Hal ini sangat penting guna membangun komitmen, kesamaan gerak dan tindakan dalam melaksanakan berbagai program yang tengah, sedang dan akan segera dilaksankan," harapnya.

Selain itu, kepada pejabat struktural, katanya, harus mampu menguasai setidaknya setengah kemapuan leadership dan manajerial dan setengahnya lagi kemampuan teknis operasional dan prosedur kerja yang secara normatif telah tertuang dalam  perundang-undangan.

Sementara itu, salah seorang pejabat eselon IV yang dilantik, Monang Ritonga yang  kini menjadi Kasudin PU Jalan Jakarta Utara mengatakan pihaknya akan melaksanakan amanah itugas ini dengan sebaik-baiknya sesuai yang di harapkan Walikota Jakarta Utara.  "Jakarta Utara bagi kami sudah tidak asing lagi, kami sudah memahami kondisi Jalan di Jakarta Utara. Meski begitu kami juga akan selalu mendengar , melihat dan melakukan perencanaan pembangunan infrastruktur jalan sesuai yang diharapkan masyarakat dan pemerintah," .kata mantan Kasudin PU Tata Air Jakarta Barat itu.

Adapun 12 pejabat dilingkungan Pemerintah Kota Jakarta Utara yang dilantik antara lain yakni; Junaedi sebagai Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Kota Jakarta Utara, Liliek Litasari sebagai Kepala Suku Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Jakarta Utara, Frans Hodden S sebagai Kepala Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Utara. 

Mumu Mujtahid sebagai Kepala Bagian Ketataklaksanaan Sekretaris Kota Jakarta Utara, Djoko Susetyo sebagai Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Utara, dan Trityatmo Bowolaksono sebagai Kepala Kantor Perencanaan Pembangunan Jakarta Utara, Usmanto sebagai Kepala Bagian Pendidikan Mental dan Spritual Kota Jakarta Utara.

Saluran di Jalan Pegangsaan Mampet, Petugas Gali 60 cm

PEGANGSAAN DUA - Saluran sepanjang ratusan meter di sisi timur Jalan Pegangsaan Dua, arah lampu merah sampai Kali Betik, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara yang mampet telah dilakukan penggalian. Penggalian dan pengurasan lumpur dengan menggunakan tenaga manual hingga kedalaman 60 cm.

Sebelumnya, Jalan tersebut kerap terjadi genangan 20 cm sampai 30 cm bila hujan datang, yang mengakibatkan kemacetan. Warga dan pengguna jalan kerap kerepotan pasalnya untuk melalui lampu merah tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. "Kami menginginkan ada perbaikan saluran karena jalan umum yang banyak di lalui masyarakat tergenang dan jadi macet," kata Rober, 40, salah seorang warga Pegangsaan Dua, Selasa 9 April 2013.

Menanggapi hal itu, Kepala Seksi PU Tata Air Kecamatan Kelapa Gading, Gatot Hermawan, mengakui pihaknya mendapatkan keluhan seputar saluran di Jalan itu. "Kami sudah tahu masalahnya, setelah kami telusuri ternyata pada saluran itu tersumbat. Saluran telah tertimbun tanah dan kami telah melakukan pengurasan dan penggalian tanah di saluran itu," kata Gatot Hermawan.

Lumpur yang dangkal, kata dia, setinggi bibir saluran. Sehingga menyulitkan petugas yang harus menggali sedalam 60 cm.  "Kami melakukan penggalian 60 cm dekat lampu merah yang mengarah sukapura dan kelapa Gading. Mudah-mudahan setelah penggalian ini jalan tersebut tidak tergenang lagi, setiap hujan kami kontrol di lapangan," jelasnya.

Saat melakukan penggalian, katanya, petugas mengalami kendala karena adanya kabel PLN dan saluran yang masuk area ruko. "Setelah petugas PLN memeriksa kabel di saluran tersebut dan di pastikan aman, kami melanjutkan penggalian. Kami hanya melakukan normalisasi saluran agar air dapat mengalir dengan baik," tambahnya.

Terancam Banjir, Warga Ancol Minta Tanggul Kali Ditinggikan

ANCOL - Kerap kebanjiran saat musim hujan dan air rob sejumlah warga Ancol mengharapkan tanggul kali anak ciliwung yang berada di Jalan Kencur, Kampung Bandan, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara di tinggikan. Pasalnya tanggul kali sepanjang lebih kurang 1,5 kilo meter dianggap terlalu rendah sehingga kerap melanda banjir pemukiman warga setempat. 

"Setiap hujan datang langsung banjir apalagi bila ada rob banjir semakin lebih besar. Kami minta Dinas PU DKI Jakarta meninggikan tanggul kali anak ciliwung itu," tandas Sukirno, tokoh masyarakat Ancol, kepada jakartautara.co, Kamis (28/2/2013).

Menurutnya, sejak pembangunan kali tersebut sekitar tahun 1996 hingga kini belum pernah lagi ada perbaikan. Banyak warga, katanya, di lingkungan RW 01 dan RW 04 Ancol yang mengeluhkan atas keberadaan tanggul yang terlalu rendah. "Ketika air kali penuh tanggul kali tidak dapat mencegahnya sehingga air kali tumpah kepemukiman warga setempat. Kami berharap tanggul yang kini hanya setinggi 50 cm sampai 70 cm dapat di tinggikan hingga 1,5  meter," harapnya.

Pria yang juga sebagai Ketua LMK Ancol itu menegaskan bahwa aspirasi masyarakat kerap kali di suarakan saat musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) baik ditingkat keluraha hingga tingkat kota. "Sudah dua tahun ini kami tidak lagi menyuarakan aspirasi itu. Karena, sebelumnya telah kami suarakan baik lisan maupun tulisan namun tidak pernah terealisasi. padahal kami sangat menginginkan ada pembangunan kembali," imbuhnya. 

Sementara itu, Walikota Jakarta Utara, Bambang Sugiyono, sebelumnya mengatakan akan melakukan perbaikan saluran dan kali di wilayah Jakarta Utara.  "Banyak program tahun ini (2013) untuk memperbaiki kali dan saluran. Kami akan menormalisasi kali-kali yang ada termasuk keberadaan bangunan rumah warga menjorok ke kali. Secara berlahan-lah kami akan perbaiki," kata Bambang Sugiyono saat melakukan kerja bakti massal di Kebon Bawang.

Namun, katanya, pemerintah tidak bisa jalan sendiri perlu ada kepedulian warga dalam mengatasi secara bersama-sama atas keberadaan kali yang banyak dimanfaatkan oleh kepentingan warga. "Pemerintah kota bukan tidak mau mengambil tindakkan langsung namun harus melalui pendekatan dari hati ke hati agar masyarakat benar-benar dapat memahami. Hal ini pernah dilakukan warga Cilincing saat kerja bakti kali opak alhamdulillah banyak warga yang menyadari tentang hal itu," ungkapnya. 

Di Upah Rp 2 juta, Pemulung dan Petugas Kali Antusias


Rencana Pemprov DKI Jakarta untuk membersihkan kali da sungai melalui pemberdayaan masyarakat dengan memberikan lapangan pekerjaan sebagai petugas kebersihan disambut atusias warga. Apalagi bagi warga di kalangan pemulung maupun petugas kali dengan di janjikan akan mendapatkan upah RP 2 juta per bulan membuat mereka menanti-nanti, kapan rencana tersebut dapat di realisasikan. 

Anton, 30, petugas jasa kebersihan yang setiap pagi dan sore keliling kampung di Tanjung Priok mengaku sangat mendambakan menjadi petugas kebersihan kali. Dengan upah Rp 2 juta, katanya, dapat menutupi kebutuhan ekonomi keluarganya selain itu ia juga akan bangga karena mendapatkan pekerjaan yang tetap.

"Saya ingin sekali mendapatkan pekerjaan itu. Semoga saja pemda DKI dapat segera mewujudkannya dan merekrut tenaga kerja dari kalangan pemulung agar kehidupan kami dapat lebih baik," harap bapak dua anak itu kepada jakartautara.co, Rabu 06 Februari 2013. 

Harapan yang sama juga di katakan Adi, 56, salah seorang petugas kebersihan kali Swasembada, Kebon Bawang. "Kami sudah mendengar kabar bahwa petugas kebersihan kali akan di gaji Rp 2 juta dari pemprov DKI Jakarta. Kalau saja rencana tersebut dapat segera terwujud tentu menjadi kabar gembira bagi kami," katanya.

pria yang sudah enam tahun menjadi petugas kali Swasembada itu, mengaku selama ini upah yang di terima sebagai petugas kebersihan kali sangat minim. Selain itu, kata dia, tidak ada jaminan kesehatan. "Upah kami hanya RP 45 ribu/hari, itupun di potong uang makan RP 20 ribu/hari jadi hanya tersisa Rp 25 ribu. Sisa upah kami biasanya di bayar setiap bulan," ungkap dia. 

Namun, katanya, dalam setiap bulan ada saja keperluan keluarga sehingga terpaksa harus meminjam utangan pada mandor. "Kadang-kadang upah kami setiap bulan hanya menyisakan Rp 50 ribu setelah di potong uang makan dan bayar hutang. Ya, kalau dibilang cukup sangat tidak cukup namun mau bagaimana lagi karena hanya inilah pekerjaan kami," ucapnya lirih.

Selain itu, ketiadaan jaminan kesehatan juga menambah penderitaan para petugas kebersihan kali. Mereka umumnya tinggal di pemukiman Semper. "Kalau ada petugas yang sakit tidak ada biaya penggantian pengobatan. Kalau kami lapor pada mandor paling hanya di bantu untuk beli obat di warung," akunya.

Oleh karena itu, ia berharap era pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur sekarang ini dapat meningkatkan kehidupan para petugas kebersihan kali. "Tentu kami semua sangat berharap dan mudah-mudahan dapat segera terwujud," imbuhnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama, berencana mempekerjakan tenaga honorer untuk kebersihan sungai dan kali di DKI Jakarta. Satu orangnya akan mendapatkan gaji sebesar Rp 2 juta per bulan. Hal ini menurutnya, lebih efektif dengan mempekerjakan warga ketimbang mempercayai pada pihak swasta yang selama ini menangani kebersihan kali dan sungai namun dianggap tidak profesional.  


Deker Depan Taman BMW Jebol

Warga jalan Sunter Permai Raya, Kelurahan Sunter Agung, Kecamatan Tanjung Priok minta Pemda segera perbaiki deker jalan depan pintu masuk taman BMW (Bersih, Manusiawi dan Berwibawa) yang jebol sejak sebulan ini. Pasalnya, jalan tersebut merupakan jalan umum yang padat dilalui pengendara motor dan mobil. Warga kuatir kerusakan tersebut akan mengancam keselamatan pengguna jalan.

"Tadinya kerusakan hanya kecil lama-lama melebar jadi dua titik. Mungkin rusak karena konteiner di taman BMW sering keluar masuk jalan ini," kata Soleh, 45, warga RW 08 Sunter Agung, Rabu 06 Februari 2013.

Ia mengaku kerusakan deker atau gorong-gorong di jalan tersebut sudah berlangsung satu bulan ini. "Sebelum banjir besar yang melanda kawasan ini jalan sudah jebol tapi masih kecil. Setelah kena banjir rusaknya semakin besar," katanya.

Dikatakannya, kerusakan jalan dan gorong-gorong kerap mengancam pengendara motor dan mobil. Untuk mengantisipasinya, kata dia, warga menancapka bambu sebagai tanda jalan berlubang. "Kemarin sudah ada motor yang terperosok namun untuk kendaraan mobil belum ada. Kami berharap pemerintah kota segera melalkukan perbaikan sebelum ada korban jiwa," imbuhnya.

Jaenal, salah seorang pengguna jalan Sunter Permai, mengatakan kekuatirannya atas kerusakan jalan tersebut. "Kami hampir setiap melintasi jalan ini. Semakin hari sepertinya kerusakan semakin besar sehingga warga setempat menancapkan bambu sebagai tanda ada lobang," ucap pria pengendara mobil bok itu.

Ia juga berharap ada perbaikan perbaikan deker di jalan depan taman BMW itu. "Semenjak taman bmw ini banyak kendaraan berat masuk seperti konteiner dan truk besar jalan jadi cepat rusak. Sebelumnya selama saya melintasi jalan ini tidak pernah mengAlamai kerusakan jalan sePerti ini," tandasnya.

Sisca Herawati - Kasudin PU Tata Air Jakarta Utara



Sering Dimaki Warga Gara-gara Banjir

Impian Sisca Herawati dalam merengkuh kesuksesan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ya, wanita kelahiran Cirebon ini harus melalui berbagai ujian sebelum akhirnya dipercaya sebagai Kepala Sudin Pekerjaan Umum (PU) Tata Air Jakarta Utara. Bahkan, Sisca pun kerap menjadi sasaran kekesalan warga yang memaki-maki dirinya lantaran banjir yang menggenagi rumah mereka. Namun dengan tekad yang kuat, serta berbagai upaya pendekatan persuasif, Sisca pun terus melakukan normalisasi kali maupun saluran air demi meminimalisir timbulnya genangan serta banjir yang menghantui warga.  

Sebelum berkarier di Pemprov DKI Jakarta, wanita kelahiran Cirebon, 4 Mei 1960 ini pernah melakoni sejumlah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meski terlahir dari keluarga yang berada, namun kesuksesan yang dirintis Sisca dimulainya dari nol. "Alhamdulillah, saya tidak pernah hidup dalam kesulitan. Tapi bukan berarti saya bangga dengan harta orang tua. Saya memulainya dari nol. Saya juga bisa mersakan bagaimana orang menderita. Saya orangnya tegas dan tidak ada yang saya takuti. Karena sepanjang saya benar, saya berani, tapi kalau salah, saya tidak akan berani," ujar Sisca kepada beritajakarta.com, Rabu (19/12).

Sejak tamat SMA di SMAN 1 Cirebon pada tahun 1980, Sisca langsung melanjutkan pendidikannya dengan diterima menjadi mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB). Tahun 1985, Sisca pun menamatkan pendidikannya di ITB dengan menyandang gelar sarjana muda. Lulus dari ITB, tanpa pikir panjang, Sisca langsung memutuskan merantau ke Jakarta. Nasib baik pun berpihak pada dirinya. Ya, Sisca diterima menjadi Staf Perencanaan Bidang Proyek Khusus Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta pada tahun itu juga dengan status sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS). 

Nasib baik terus memayunginya. Di tahun 1986, Sisca akhirnya diangkat menjadi PNS hingga akhirnya pada tahun 2003 menduduki posisi penting yakni menjadi Kepala Seksi (Kasie) Sudin PU Tata Air Jakarta Selatan. Kariernya pun terus melesat. Pernah menduduki Kasie Perencanaan Sudin PU Tata Air Jakarta Pusat dan Kasie Perencanaan Sudin PU Tata Air Jakarta Utara, Sisca kemudian diambil sumpahnya menjadi Kepala Sudin PU Tata Air Jakarta Utara sejak Mei 2012 hingga kini.  

Selama itu, Sisca pun terus menyelesaikan pendidikannya dengan melanjutkan kuliah S1 di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) tamat tahun 2002. Di tempat yang sama, ia pun kembali menyelesaikan studi S2. Lalu di tahun 2007, Sisca melanjutkan kuliah S3 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan lulus pada tahun 2010. "Selama itu pula saya mencuri-curi waktu untuk kuliah. Karena semakin tinggi pendidikan kita, tentu akan semakin mudah meraih impian kita," katanya.

Selama mengabdi sebagai PNS di lingkungan Pemrov DKI Jakarta, anak ke-6 dari 7 bersaudara ini sering mendapati pengalaman pahit seperti dimaki-maki oleh warga yang rumahnya kebanjiran. Meski begitu, putri pensiunan TNI ini tidak putus asa dan selalu berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada warganya. Ya, pihaknya terus bekerja keras dengan berusaha mengurangi banjir maupun genangan yang biasa timbul terutama saat musim penghujan. Salah satunya dengan menormalisasi kali maupun saluran air serta menertibkan keberadaan bangunan liar yang berdiri di atas saluran air. 

"Mereka bilang, PU kerjanya ngapain aja, tidur apa gimana? karena rumah saya banjir. Padahal, saran kami tidak didengar warga. Mereka banyak mengkritik pemerintah, tapi mereka sendiri yang bangunannya menutupi saluran air akan kita dibongkar, mereka tidak mau. Jadi butuh kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Jangan hanya mengkritik saja, karena peran serta masyarakat itu sangat penting dalam mengatasi banjir," ucap ibu dari Rafika Tiwi ini.

Karena itu, visi misinya menjabat Kepala Sudin PU Tata Air Jakarta Utara, Sisca ingin menyadarkan masyarakat bahwa kali itu fungsinya untuk pembuangan air hujan dan bukan pembuangan kotoran manusia maupun sebagai tempat sampah. "Kalau airnya biru, bersih dan di sekitar kali ditanami pohon hijau, itu kan bisa sehat dan membawa rezeki. Tapi saya mulai dari diri saya sendiri sebelum ke orang lain. Jadi, saya nggak bisa cuma duduk di kantor menunggu laporan dari teman-teman, tapi harus datang ke lapangan sendiri seperti yang dicontohkan Pak Gubernur Jokowi," ucapnya.

Selain itu, istri dari Hidayat ini pun harus berhadapan dengan kontraktor nakal yang meminta kepada dirinya untuk dimenangkan dalam suatu proyek. "Kontraktor kadang mengintimidasi agar proyeknya diatur, tapi saya tidak bisa melakukan hal ini. Jadi ini juga tantangan buat saya, karena semuanya harus sesuai prosedur. Apalagi zaman sekarang minta proyek, ini kan nggak benar. Pokoknya semua harus transparan," tegas Sisca.

Tak hanya itu, dirinya pun merasa bangga karena menjadi salah satu tim yang merumuskan keberadaan Banjir Kanal Timur KBT. Saat itu, kenang Sisca, dirinya berserta tim diminta membuat presentasi yang dibacakan Kepala Bappeda DKI Jakarta di hadapan Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Sutiyoso. "Saya bangga karena bersama rekan-rekan lainnya dipercaya Kepala Dinas PU untuk membuat presentasi di hadapan Gubernur Sutiyoso. Untuk membuat presentasi itu saya pernah menyusuri KBT yang berjarak 23,5 kilometer dengan berjalan kaki. Ini tentu menjadi kebanggaan saya. Apalagi saat ini KBT terbukti efektif mengurangi banjir di beberapa wilayah di Jakarta Timur dan Jakarta Utara," kenang Sisca.

Warga Minta Bangunan di Atas Saluran Ampera Ditertibkan


Warga Kebon Bawang mengharapkan bangunan diatas saluran Jalan Ampera depan Pos Giro, RW 10 Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok segera ditertibkan. Pasalnya, bangunan tersebut digunakan  untuk para pedagang kaki lima diduga menjadi penyebab terjadinya genangan maupun banjir. 

"Kalau hujan air tidak cepat surut hingga beberapa jam kemudian. Penyebabnya antara lain banyaknya banguanan pedagang kali lima di atas saluran depan Pos Giro Ampera," ujar Abdul, 38, salah seorang warga RW 10 Kebon Bawang, Selasa 8 Januari 2013.

Selain itu, kata dia, bangunan tersebut juga kerab menimbulkan kemacetan. "Jalan sudah kecil namun saluran ditutup untuk usaha tentu saja pembelinya jadi parkir di jalan akibatnya jadi macet. Kami berharap ada tindakan dari Pemkot setempat agar tidak mengganggu aktivitas warga," katanya. 

Sulaiman, 41, warga lainnya membenarkan adanya bangunan diatas saluran depan pos giro. "Dulu setahu saya hanya ada satu atau dua saja namun sekarang semakin banyak. Saya kuatir saluran sepanjang kurang lebih 200 meter dengan lebar satu meter itu habis digunakan pedagang," katanya. 

Padahal, kata dia, Jalan Ampera bila hujan datang airnya tidak langsung surut. Hujan sedikit saja air sudah tergenang apalagi bila hujannya deras genangan bisa setinggi lutut orang dewasa. "Seharusnya jalan ini (Ampera) bebas dari banjir dan genangan karena aktivitas masyarakat pengguna jalan ini sangat tinggi. Warga juga banyak yang berkunjung ke pos giro jadi terhambat genangan air," imbuhnya. 

Ia juga berharap selain jalan harus ditinggikan lumpur pada saluran tersebut harus di kuras. "Pedagang juga seharusnya tidak berjualan diatas saluran. Jangan sampai karena menguntungkan pribadi atau kelompok mengakibatkan kerugian bagi masyarakat luas," pungkasnya. 

Foto: Bangunan (kiri) diatas saluran Jalan Ampera, Kebon Bawang. 


2 Kasi Sudin PU Tata Air di Lantik

Sekretaris Kota Jakarta Utara Tri Kurniadi mewakili Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono melantik dua Kepala Seksi Sudin PU Tata Air Jakarta Utara, Jumat 21 Desember 2012.  Pelantikan yang berlangsung di ruang pola lantai 14 kantor Walikota Jakarta Utara  berjalan lancar.

Namun, tidak seperti biasanya pelantikan kali ini nampak sepi tidak banyak pejabat yang hadir menyaksikan pelantikan tersebut.. Mereka yang dilantik yaitu Kepala Seksi (Kasi) Pemeliharaan Saluran Sudin PU Tata Air Jakarta Utara Kurniatmadja yang sebelumnya Kasi PU Tata Air Kecamatan Cilincing dan Kasi PU Tata Air Kecamatan Cilincing Abu Bakar sebelumnya Staf Sudin PU Jalan Jakarta Utara.

Sekko Tri Kurniadi, mengharapan amanah yang diberikan pemerintah dengan senantiasa berpegang teguh pada rel yang telah di gariskan. "Harus disadari ini bukan hal yang mudah.  Apalagi dalam kondisi sekarang dimana aspek kehidupan diberbagai bidang bergerak sangat cepat dan dinamis juga cenderung sensitif dan sangat rentan menimbulkan gejolak sosial," imbuh Sekko.

Sedikit saja, katanya, aparatur bergeser dari rel akan berdampak luas pada sorotan masyarakat akan kinerja pemerintah.  "Benar-benar menjalankan amanah yang diberikan ini," kata Sekko.

Sementara itu, Kasi Pemeliharaan Saluran Sudin Jakarta Utara, Kurniatmadja mengaku siap untuk menjalankan tugas tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang baru.

"Terimakasih teman-teman sudah menghadiri pelantikan kami. Informasi dari teman-teman tentunya akan menjadi catatan kami dalam menjalankan tugas," ucapnya.   

Foto: Kepala Seksi Pemeliharaan Sudin PU Tata Air Jakarta Utara Kurniatmadja (kiri) saat mendapat ucapan selamat dari Lurah Pejagalan Jonni AP saat menghadiri acara itu.

Warga Kuatir, Danau Papanggo Penuh Eceng Gondok


Ironis, Danau Papanggo, yang berada di Jalan Danau Cincin, Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara kini penuh dengan eceng gondok. Danau seluas kurang lebih 10 hektar kini tidak nampak lagi karena eceng gondok sudah merambat keseluruh tepian danau tersebut.

Padahal keberadaan danau sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan sekaligus dapat mengatasi persoalan banjir. Pasalnya, danau itu dapat menampung sejumlah saluran air di lingkungan Sungai Bambu, Warakas, Papanggo dan kali Tirem Tanjung Priok. 

Warga setempat sangat mengharapkan eceng gondok yang memenuhi danau Papanggo dapat diangkut sebab warga kuatir danau akan menjadi sarang nyamuk dan binatang liar lainnya seperti ular dan biayak. "Tentu saja kami kuatir akan terjadi banjir apalagi saat ini musim hujan. Karena debit air yang mengarah ke danau mulai sedikit akibat banyaknya eceng gondok selain itu banyak binatang liar seperti ular," ujar Ridawan, 45, salah seorang warga RW 07 Papanggo, Rabu 19 Desember 2012.

Menurut dia, akibat kurang pemeliharaan sehingga danau dipenuhi eceng gondok. "Mungkin bila ada petugas yang menangani secara rutin kebersihan danau, eceng gondok tidak sebanyak ini. Kalau sudah sepenuh ini tentu perlu kerja ekstra dan harus menggunakan alat berat seperti beco," imbuhnya.

Kekuatiran yang sama juga dikatakan Hendra, 30, warga RW 08 Papanggo. Ia mengaku sebelumnya danau tersebut merupakan tempat aktivitas warga untuk memelihara ikan lele dengan menggunakan keramba apung. "Kami berharap pihak terkait dapat membersihkan eceng gondok dan kalau perlu dilakukan pengerukan lumpur agar air danau dapat bersih kembali sehingga warga dapat memanfaatkannya," kata pria dua anak itu.

Sementara itu, dari pantauan jakartautara.co danau yang berada dalam kawasan taman BMW (Bersih Manusiawi dan Berwibawa) memang nampak dipenuhi eceng gondok. Bahkan, sudah tidak ada lagi air yang nampak terlihat dari tepian. Diperkirakan keberadaan eceng gondok sudah berlangsung beberapa bulan sebab ketinggian eceng gondok hingga mencapai 50 cm. Walikota Jakarta Utara, Bambang Sugiyono, sebelumya mengatakan danau Papanggo akan dijadikan sarana olahraga air seiring rencana pembangunan stadion olahraga di Taman BMW. 



Kali Bugis dan Kali Lagoa Dipenuhi Eceng Gondok



Keberadaan kali kresek atau kali Lagoa di lingkungan RW 07 Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara dikeluhkan warga. Pasalnya, sudah cukup lama kali tersebut tidak pernah dibersihkan warga beharap unit terkait mengangkut eceng gondok di kali karena menjadi sarang nyamuk.

"Kami sangat kuatir kali yang dipenuhi eceng gondok menjadi sarang nyamuk dan sarang ular. Selain itu kali juga menjadi kotor karena air tidak dapat mengalir dengan baik, apa lagi saat ini sedang musim hujan," kata anggota LMK RW 07, Dalhar Abdul Kadir, Kamis 13 Desember 2012.

Ia memperkirakan kali dengan lebar 20 meter semakin lama eceng gondok semakin banyak. "Kali ini berbatasan dengan wilayah Kebon Bawang dan Tanjung Priok. Ditempat kami paling banyak berada di lingkungan RT 01 sampai RT 04 RW 07 Kebon Bawang," katanya.

Selama ini, kata dia, warga sudah berupaya membersihkan namun hanya mampu mengangkut yang dipinggirnya saja apalagi dengan menggunakan alat apa adanya. "Kami berharap Dinas maupun Sudin PU Tata Air segera membersihka kali tersebut sebelum menimbulkan penyakit akibat banyaknya sarang nyamuk," imbuh Dalhar.

Hal tersebut diakui juga oleh Ketua RW 07 Kebon Bawang, Nirwan. "Setahu saya memang sudah cukup lama juga kali kresek atau lagoa kanal ini tidak dibersihkan. Kalau dulu ada petugas yang membersihkan anamun sekaran sudah tidak ada lagi," katanya. 

Bukan hanya kali itu saja, Hasan 35, warga Kebon Bawang lainnya juga mengeluhkan banyaknya eceng gondok di kali jalan Bugis, Kebon Bawang. "Seharusnya ada petugas kali yang secara rutin membersihkan sampah dan eceng gondok," pintanya. 

 
 
Copyright © 2014 JAKARTA UTARA. All Rights Reserved. Powered by Lintas Daerah
Template by Creating Website and Kang Lintas