CILINCING- Alasan kemiskinan atau tak punya pekerjaan menjadi alasan orangtua ketika si anaknya harus bekerja untuk membantu orangtuanya atau paksaan orangtua untuk mencari uang guna memenuhi kebutuhannya. Lantas kemana program-program pementasan kemiskinan, pendidikan anak,penyaluran dana pemberdayaan ekonomi dan lainnya.
Seperti kasus SA 15 tahun siswi kelas VI SD di Tugu Utara ini harus menyita waktu bermain dengan teman-temannya lantaran bekerja menjadi penyanyi di sejumlah kafe dan tempat prostitusi di kawasan Koljem (Kolong Jembatan) Cilincing.Padahal ada secercah harapan cita-cita yang terpendam di hati SA.Begitu juga sang ayah dan ibunya Taman 38 dan Aminah 36 justru mengizinkannya bahkan memaksakan agar si anak bisa menghasilkan uang.
Ricardo Hutahaean Aktivis Sosial di Kampung Beting menjelaskan,SA merupakan salah satu contoh dari sekian anak yang tinggal diwilayahnya dibiarkan oleh orangtuanya untuk bekerja malam. Apalagi di Jakarta Utara banyak kafe dan tempat hiburan malam yang menarik kuat bagi mereka untuk mencari uang.
"Selain terjerat kemiskinan,juga ada tarikan kuat yang menggoda anak-anak bekerja ditempat hiburan malam,dan kami tak bisa berbuat apa-apa melarangnya" kata Ricardo. Dan semestinya Pemerintah sudah harus menyiapkan strategi dan program yang bisa mencegah terjadinya persoalan ini.
Hasil pantauan jakartautara.com persoalan anak yang dipaksakan bekerja oleh orangtuanya dialami SA ini harus menjadi pelajaran. Disejumlah wilayah yang termasuk kawasan gree area kegiatan ini sudah menjadi biasa dan bukan hal yang aneh. Selain terjadi di kampung Beting Jaya, Tugu Utara, ada juga di kawasan kampung Sawah dan Kampung Sepatan,Cilincing dimana anak-anak usai pulang sekolah harus bekerja mencari uang dengan mengumpulkan barang-barang bekas di kawasan pabrik di KBN.Mereka mengumpulkan sisa nasi bekas, gelas air mineral, potongan bahan dan lainnya. Begitupun di Tanah Merah, Plumpang banyak anak-anak belia yang nekat menjadi Bajing Loncat turun naik kendaraan untuk mencari besi yang bisa dijual, walapun resikonya nyawa taruhannya.
Begitu juga anak-anak yang tinggal di pesisir pantai Jakarta Utara, terkadang mereka harus mengumpulkan sampah yang berceceran di bibir pantai dan menjadi kuli pengupas kerang oleh bos-bos ikan. Ini mereka lakukan untuk bisa mendapatkan uang jajan atau membantu orangtuanya.
Kepedulian Dan Pengawasan Harus Ditingkatkan!
Perlunya kepedulian dan pengawasan yang meski dilakukan pemerintah Kota Jakarta Utara menghadapi persoalan ini. Bukan cuma persoalan SA saja, di lokasi maupun kawasan rawan kemiskinan seperti Kalibaru, Muara Angke, Kamal Muara, Penjaringan,Sunter Jaya,Marunda dan Tanah Merah Plumpang mungkin banyak tak terpantau. Oleh karena itu program-program yang selama ini diluncurkan melalui instansi terkait, kelurahan dan kecamatan meski ditingkatkan lagi.Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiono berjanji akan memberikan solusi untuk mengatasi persoalan tersebut, begitu juga Suku Dinas Sosial Jakarta Utara menyatakan hal serupa akan mencari bentuk bantuan apa yang meski diberikan agar orangtua ini tidak lagi membiarkan anak-anaknya bekerja. (Bian)
Seperti kasus SA 15 tahun siswi kelas VI SD di Tugu Utara ini harus menyita waktu bermain dengan teman-temannya lantaran bekerja menjadi penyanyi di sejumlah kafe dan tempat prostitusi di kawasan Koljem (Kolong Jembatan) Cilincing.Padahal ada secercah harapan cita-cita yang terpendam di hati SA.Begitu juga sang ayah dan ibunya Taman 38 dan Aminah 36 justru mengizinkannya bahkan memaksakan agar si anak bisa menghasilkan uang.
Ricardo Hutahaean Aktivis Sosial di Kampung Beting menjelaskan,SA merupakan salah satu contoh dari sekian anak yang tinggal diwilayahnya dibiarkan oleh orangtuanya untuk bekerja malam. Apalagi di Jakarta Utara banyak kafe dan tempat hiburan malam yang menarik kuat bagi mereka untuk mencari uang.
"Selain terjerat kemiskinan,juga ada tarikan kuat yang menggoda anak-anak bekerja ditempat hiburan malam,dan kami tak bisa berbuat apa-apa melarangnya" kata Ricardo. Dan semestinya Pemerintah sudah harus menyiapkan strategi dan program yang bisa mencegah terjadinya persoalan ini.
Hasil pantauan jakartautara.com persoalan anak yang dipaksakan bekerja oleh orangtuanya dialami SA ini harus menjadi pelajaran. Disejumlah wilayah yang termasuk kawasan gree area kegiatan ini sudah menjadi biasa dan bukan hal yang aneh. Selain terjadi di kampung Beting Jaya, Tugu Utara, ada juga di kawasan kampung Sawah dan Kampung Sepatan,Cilincing dimana anak-anak usai pulang sekolah harus bekerja mencari uang dengan mengumpulkan barang-barang bekas di kawasan pabrik di KBN.Mereka mengumpulkan sisa nasi bekas, gelas air mineral, potongan bahan dan lainnya. Begitupun di Tanah Merah, Plumpang banyak anak-anak belia yang nekat menjadi Bajing Loncat turun naik kendaraan untuk mencari besi yang bisa dijual, walapun resikonya nyawa taruhannya.
Begitu juga anak-anak yang tinggal di pesisir pantai Jakarta Utara, terkadang mereka harus mengumpulkan sampah yang berceceran di bibir pantai dan menjadi kuli pengupas kerang oleh bos-bos ikan. Ini mereka lakukan untuk bisa mendapatkan uang jajan atau membantu orangtuanya.
Kepedulian Dan Pengawasan Harus Ditingkatkan!
Perlunya kepedulian dan pengawasan yang meski dilakukan pemerintah Kota Jakarta Utara menghadapi persoalan ini. Bukan cuma persoalan SA saja, di lokasi maupun kawasan rawan kemiskinan seperti Kalibaru, Muara Angke, Kamal Muara, Penjaringan,Sunter Jaya,Marunda dan Tanah Merah Plumpang mungkin banyak tak terpantau. Oleh karena itu program-program yang selama ini diluncurkan melalui instansi terkait, kelurahan dan kecamatan meski ditingkatkan lagi.Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiono berjanji akan memberikan solusi untuk mengatasi persoalan tersebut, begitu juga Suku Dinas Sosial Jakarta Utara menyatakan hal serupa akan mencari bentuk bantuan apa yang meski diberikan agar orangtua ini tidak lagi membiarkan anak-anaknya bekerja. (Bian)
