Sejumlah warga Sungai Bambu mengecam terhadap berdirinya bangunan sekolah inklusi atau sarana pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di area komplek SDN Sungai Bambu, di Jalan Gadang, Kelurahan Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pasalnya, sekeliling dinding bangunan hanya menggunakan bahan material batako yang diperkirakan bangunan tersebut tidak akan bertahan lama.
"Seharusnya pembangunan sekolah inklusi lebih baik dari pembangunan sekolah reguler. Sebab sarana itu akan digunakan bagi anak-anak dengan keterbatasan mental. Jadi perlu mendapatkan perhatian yang lebih khusus dalam segala bidang," ucap Abdul, salah seorang pengurus RW di Sungai Bambu pada jakartautara.co, Kamis 7 Februari 2013.
Sebagai pengurus lingkungan ia merasa prihatin atas berdirinya bangunan sekolah yang menggunakan batako dan dianggap ketinggalan jaman. "Saya yakin bangunan tersebut akan cepat rapuh karena tidak sesuai dengan standar. Kami harap bangunan tersebut di evaluasi karena dapat menimbulkan citra pembangunan DKI Jakarta yang tidak berkualitas," katanya.
Ia mengaku kecewa, katanya, Jakarta sebagai kota metropolitan seharusnya menjadi tolak ukur pembangunan bagi daerah lain. "Saya prihatin masih ada pembangunan sarana pendidikan yang di biayai oleh pemerintah namun menggunakan batako. Memangnya mau membangun rumah di pinggir kali. Ini Jakarta banyak anggaran apalagi tentang pendidikan jangan membuat malu Gubernur dan Walikota," tandasnya.
Krismanto, 35, warga Sungai Bambu lainnya juga mengaku kecewa atas pembangunan sekolah inklusi yang berada di Jalan Gadang No. 52, Sungai Bambu, Jakarta Utara. "Tidak wajar dan tidak memenuhi standar bila pihak sekolah melakukan pembangunan dengan menggunakan batako. Saya rasa sekarang ini sudah tidak ada bangunan pemerintah yang masih mengunakan batako. Kalaupun masih ada mungkin saja pihak sekolah ingin mencari keuntungan dari pembangunan tersebut," ucap pria asal Pemalang, Jawa Tengah itu, kesal.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Sungai Bambu 02 Petang, Sutjiwati, mengakui pihaknya sedang melakukan pembangunan sekolah inklusi. "Kami mendapat bantuan dari Kementerian Pendidikan untuk membangun sekolah inklusi. Seharusnya warga senang kalau sekolah ini menyediakan tempat pendidikan bagi anak-anak dengan mental terbatas," katanya.
mengenai penggunaan bahan materia batako, sutjiwati tidak dapat membantahnya. "Pakai batako juga sudah kuat dan mudah-mudahan tukang kami cepat menyelesaikannya agar segera dapat di gunakan," dalihnya.
Pantauan jakartautara.co di lokasi pembangunan sekolah inklusi berdiri di sisi timur komplek SDN Sungai Bambu. Bangunan seluas lebih kurang 30 meter2 selain menggunakan material batako dilokasi juga tidak nampak pondasi (batukali). Diperkirakan bangunan tersebut tidak akan bertahan lama apalagi berdiri di lahan sekolah yang kerap tergenang banjir.
Menurut informasi yang diperoleh bangunan tersebut hanya menghabiskan biaya paling besar RP 40 juta. Sedangkan anggaran untuk pembangunan sekolah inklusi SDN Sungai Bambu 02 Petang sebesar RP 79 juta yang diberikan melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

