SUNTER AGUNG - Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso bertekat memberikan pelayanan yang maksimal pada pederita HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome).
Hal itu dilakukan dengan diterapkannya sistim pelayanan konprehensif berkesinambungan pada pasien atau Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) sekaligus di resmikannya ruang Pokja khusus ODHA. Bersamaan dengan sebuah acara simposium setengah hari dalam rangka memperingati hari HIV/AIDS Sedunia, di Ruang Auditorium RSPI Sulianti Saroso, yang berdomisili di Jalan Sunter Permai Raya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (5/12/2013).
Pasalnya, sejak tahun 1995 sampai dengan Bulan November 2013 RSPI Sulianti Saroso telah merawat 3.881 ODHA dengan perincian 1.385 ODHA yang aktif mendapatkan ARV (antiretroviral, red). Sedangkan angka kasus HIV/AIDS yang masuk di Rumah Sakit tersebut rata-rata per-bulan 20 sampai 25 kasus.
Menurut Direktur Utama (Dirut) RSPI Sulianti Saroso, DR.Dr.Fatmawati, MPH, bahwa rumah sakit yang di pimpinya akan memberikan layanan masyarakat dengan sungguh-sungguh di dukung dengan fasilitas yang ada khususnya bagi penderita HIV/AIDS. "Kami membuka Pokja khusus ODHA dengan satu atap. Pada saat ini dilakukan di ruang Melati (Dahlia 3) dengan tujuan penyederhanaan atau mempermudah ODHA dalam mendapatkan akses pelayanan," ujar Fatmawati.
Dijelaskannya, dalam Pokja tersebut layanan yang dapat diberikan seperti pemeriksaan dokter, konseling, farmasi, layanan gizi, layanan konseling psikolog dan pencatatan pelaporan serta kelompok dukungan sebaya. Sedangkan jika ODHA membutuhkan pelayanan spesialistik di konsultasikan lebih lanjut.
"Pokja ini melayani pasien yang berobat jalan bila yang sudah positif ada ruangan khusus yang tidak tercampur dengan pasien yang lain. kalau masih di rawat jalan tadinya dia datang dengan penyakit yang lain," ucapnya.
Namun, kata dia, bila dokter mencurigai indikasi HIV pada pasien yang datang berobat, dokter menganjurkan pasien harus datang kembali untuk dilakukan konseling. "Contoh kasus biasanya pasien datang tetapi dia belum HIV tetapi dia adalah population ekstrem artinya dia ada pasanganya dan lainnya yang HIV, kami akan konseling terus. Meskipun hasil tes negatif kita mengharapkan dua atau tiga bulan untuk datang lagi konseling. Dan terkadang, hasilnya ternyata selama enam sampai satu tahun lamanya pasien itu positif HIV. Begitulah kami menemukan kasus baru dari sumbernya yang datang berobat kepada kami," jelas Fatmawati.
Ia mengaku dalam setiap bulan dapat menemukan 20 sampai dengan 25 kasus baru. "Kami sangat hati-hati dan tidak gegabah saat menyampaikan pasien positif HIV baru," tambahnya. Ia juga berharap pihaknya dapat mencegah peningkatan kasus dengan cara menemukan lebih dini dan memberikan pengobatan sedini mungkin hingga tidak terjadi penularan tanpa ada stigma.
Sementara itu, Dr. Ardian, salah seorang dokter khusus penanganan HIV/AIDS RSPI Sulianti Saroso mengaku didukung dengan delapan dokter lainnya untuk penanganan pasien ODHA. "Dengan sistim seperti ini kami berharap temuan-temuan kasus HIV/AIDS baru pada bulan-bulan mendatang mengalami penurunan secara drastis," katanya.
