Dalam satu bulan terakhir, pasokan air bersih yang melalui jalur pipa di sepanjang jalan menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Angke, Pluit, Penjaringan tersendat. Diduga, tersendatnya pasokan air bersih ini disebabkan oleh pembangunan jembatan menuju Muara Angke di mana pipa air bersih itu mengalami kebocoran akibat dihantam eskavator dalam pembangunan jembatan tersebut. Alhasil, warga pun selama beberapa pekan terakhir mulai merasakan kesulitan mendapatkan air bersih untuk digunakan mandi, masak dan keperluan lainnya. Bahkan, tak jarang warga juga merasakan dalam beberapa hari pasokan air justru terhenti sama sekali.Muhammad Rifai, warga RT 07/11, Pluit, Penjaringan mengatakan, tersendatnya pasokan air itu mulai dirasakan warga seiring dimulainya pembangunan jembatan menuju Muara Angkem satu bulan lalu. Ia dan warga lainnya menduga, pipa air bersih itu bocor akibat terhantam eskavator saat proyek pembangunan jembatan itu berlangsung. "Untuk keperluan mandi dan masak, kami terpaksa membeli dan menggunakan air galon," ujar Rifai, Kamis (20/10).
Sebelumnya, dikatakan Rifai, pasokan air di wilayahnya selalu lancar meski saja tercium aroma bau. Namun, setelah pembangunan jembatan itu berlangsung, kini alliran air kembali tidak berfungsi. "Tiap hari kami harus merogoh kecek sebesar Rp 36 ribu untuk membeli 12 galon air yang digunakan untuk enam anggota keluarga kami," keluhnya.
Lurah Pluit, Tahta Ujang membantah adanya kebocoran pada saluran pipa air bersih di wilayahnya. Ia menegaskan, tersendatnya pasokan air disebabkan debit air di tandon milik PT Palyja yang berkurang. "Setelah kami cek ke lokasi pembangunan tidak ditemukan rembesan air," ucapnya.
Secara terpisah, Kepala Humas PT Palyja Meyritha Maryanie menambahkan, tersendatnya pasokan air bersih di wilayah itu dikarenakan pasokan air dari Waduk Pejompongan mengalami fluktuasi. "Penyebabnya, debit air di Waduk Jatiluhur yang menyuplai air ke Pejompongan debitnya mendekati kritis di mana tingginya hanya tinggal 89,8 meter. Padahal, batas kritis tinggi air waduk 87,5 meter," kata Meyritha.
Saluran pipa air ke Pluit dan kawasan Muara Angke mengaliri 500 kepala keluarga yang berada di saluran paling ujung. Hal itu menyebabkan tekanan air menjadi melambat. Oleh karena itu, ditambahkannya, kini Palyja melakukan rehabilitasi saluran air dengan memasang suplaying booster atau mesin pendorong air. "Rehabilitasi itu ditargetkan selesai akhir bulan ini. Kami sudah menerima laporan tersebut, dan kini tim sedang melakukan penyelidikan di lokasi pembangunan jembatan menuju Muara Angke," tandasnya.
