Dalam rangkaian memperingati hari pahlawan pada 10 November para guru yang tergabung dalam anggota Dharma Wanita Persatuan Tanjung Priok, Jakarta Utara mengadakan berbagai acara. Salah satunya adalah mengangkat cerita rakyat Ande Ande Lumut dalam pertunjukan teateristik. Uniknya, para tokoh dalam cerita itu adalah para kepala sekolah yang memperankan
karakter tokoh masing-masing, baru baru ini.
penampilan yang tidak biasa dilakukan oleh para guru saat mentas di podium membuat para undangan umumnya anggota Dharma Wanita se Jakarta Utara tertawa ria. Mereka tidak hentinya tersenyum menyaksikan para guru yang memperankan karakter tokoh Ande Ande Lumut.
"Ibu Warsini (Kepala Sekolah SDN Kebon Bawang 01) lucu amat sih, berperan sebagai Berondo pakai kaca mata hitam lagi. Yang lainnya juga sama adanya yang pakai kumis dan wajahnya di coret-coret lipstik," ujar Sri Wahyuni, salah seorang kepala sekolah di SDN Sungai Bambu, kemarin.
Sementara, Siti Rahmatiah, Koordinator teater Ande Ande Lumut juga sebagai Kepala Sekolah SDN Kebon Bawang 02, mengaku lebih cocok mengangkat cerita rakyat Jawa Timur tersebut. Cerita tentang anak raja, Raden Panji Asmarabangun (Ande Ande Lumut) yang dapat menyatukan dua kerajaan Janggala dan Kediri.
"Konon kisah ini berawal dari asmara Raden Panji Asmarabangun yang mencintai seorang puteri raja Kediri. Namun karena hubungan mereka tidak direstui selir raja Kediri, sang Raden pun akhirnya pergi meninggalkan istana. Ia tinggal disebuah tempat dan merubah nama menjadi Ande Ande Lumut," tuturnya.
Begitupun dengan sang puteri, Dewi Sekartaji. Ia melarikan diri dan berkelana hingga bertemu dengan keluarga janda yang mempunyai tiga anak gadis, Klething Abang, Klething Ijo dan si bungsu Klething Biru. Ibu janda menerimanya sebagai anak dan diberi nama Klething Kuning.
Singkatnya, Ande Ande Lumut membuat sayembara untuk menjadi pasangannya. Hingga terdengarlah oleh keluarga janda itu. Klething kuning yang sehariannya tertindas tidak diberi kesempatan untuk mengikuti sayembara.
Berkat bantuan sang burung Klething Kuning akhirnya bertemu juga dengan Ande Ande Lumut. Setelah menolak semua gadis, ia mengenali bahwa Klething kuning adalah dewi Sekartaji yang lama dia cari. Dan, mereka pun menikah sekaligus mampu menyatukan dua kerajaan Jenggala dan Kediri yang akan berperang.
"Kisah memiliki wawasan kenegaraan. sama juga dengan para pahlawan kita yang berperang untuk meraih kemerdekaan dan mampu menyatukan suku dan bangsa. Dengan semangat pejuang, kita sebagai generasi penerusnya harus mampu mempertahankan NKRI," ujar Rahma.
karakter tokoh masing-masing, baru baru ini.penampilan yang tidak biasa dilakukan oleh para guru saat mentas di podium membuat para undangan umumnya anggota Dharma Wanita se Jakarta Utara tertawa ria. Mereka tidak hentinya tersenyum menyaksikan para guru yang memperankan karakter tokoh Ande Ande Lumut.
"Ibu Warsini (Kepala Sekolah SDN Kebon Bawang 01) lucu amat sih, berperan sebagai Berondo pakai kaca mata hitam lagi. Yang lainnya juga sama adanya yang pakai kumis dan wajahnya di coret-coret lipstik," ujar Sri Wahyuni, salah seorang kepala sekolah di SDN Sungai Bambu, kemarin.
Sementara, Siti Rahmatiah, Koordinator teater Ande Ande Lumut juga sebagai Kepala Sekolah SDN Kebon Bawang 02, mengaku lebih cocok mengangkat cerita rakyat Jawa Timur tersebut. Cerita tentang anak raja, Raden Panji Asmarabangun (Ande Ande Lumut) yang dapat menyatukan dua kerajaan Janggala dan Kediri.
"Konon kisah ini berawal dari asmara Raden Panji Asmarabangun yang mencintai seorang puteri raja Kediri. Namun karena hubungan mereka tidak direstui selir raja Kediri, sang Raden pun akhirnya pergi meninggalkan istana. Ia tinggal disebuah tempat dan merubah nama menjadi Ande Ande Lumut," tuturnya.
Begitupun dengan sang puteri, Dewi Sekartaji. Ia melarikan diri dan berkelana hingga bertemu dengan keluarga janda yang mempunyai tiga anak gadis, Klething Abang, Klething Ijo dan si bungsu Klething Biru. Ibu janda menerimanya sebagai anak dan diberi nama Klething Kuning.
Singkatnya, Ande Ande Lumut membuat sayembara untuk menjadi pasangannya. Hingga terdengarlah oleh keluarga janda itu. Klething kuning yang sehariannya tertindas tidak diberi kesempatan untuk mengikuti sayembara.
Berkat bantuan sang burung Klething Kuning akhirnya bertemu juga dengan Ande Ande Lumut. Setelah menolak semua gadis, ia mengenali bahwa Klething kuning adalah dewi Sekartaji yang lama dia cari. Dan, mereka pun menikah sekaligus mampu menyatukan dua kerajaan Jenggala dan Kediri yang akan berperang.
"Kisah memiliki wawasan kenegaraan. sama juga dengan para pahlawan kita yang berperang untuk meraih kemerdekaan dan mampu menyatukan suku dan bangsa. Dengan semangat pejuang, kita sebagai generasi penerusnya harus mampu mempertahankan NKRI," ujar Rahma.
