Keberadaan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), di Jakarta Utara masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diatasi bagi Pemkot Administrasi Jakarta Utara. Untuk memberantas penyakit masyarakat yang kerap meresahkan itu, tahun ini ditargetkan 400 PMKS bisa terjaring di wilayah tersebut. Kasie Pelayanan Rehabilitasi Sosial Sudin Sosial Jakarta Utara, Israk, mengatakan untuk menjaring 400 PMKS, pihaknya akan menggelar operasi rutin pada siang hari di setiap bulannya selama 20 kali, dan juga operasi rutin pada malam hari yang sebelumnya hanya 2 kali, kini menjadi 5 kali. "Kami telah mengajukan anggaran untuk tahun ini kepada Dinas Sosial DKI Jakarta sebesar Rp 350 juta untuk operasi rutin PMKS, sehingga kami lebih konsentrasi mengintensifkan operasi pada malam hari," kata Israk, Selasa (17/1).
Menurutnya, pada tahun 2011 anggaran yang dikucurkan untuk operasi rutin penjangkauan PMKS hanya sebesar Rp 150 juta, sehingga operasi rutin setiap bulan pada siang hari hanya 20 kali, dan pada malam hari hanya 2 kali. Sedangkan, jumlah PMKS yang terjaring selama tahun 2011 hanya 375 PMKS. "Selain menggelar operasi rutin, kami juga menjaring PMKS berdasarkan laporan dari warga," ujarnya.
Ratusan PMKS yang berhasil ditertibkan itu, diantaranya waria, anak jalanan, pedagang asongan, pengamen, PSK, penderita gangguan mental, pengemis, gelandangan, dan lain-lain. "Masalah yang paling tinggi di Jakarta Utara adalah orang dengan gangguan mental dan pekerja seks komersial (PSK)," ucapnya.
Sedangkan hingga pertengahan Januari 2012, lanjut Israk, pihaknya telah menjaring sebanyak 20 PMKS di wilayah rawan, antara lain di wilayah Enggano, Plumpang, perempatan lampu merah Yos Sudarso, Coca Cola, Ancol, Taman BMW, Perintis Kemerdekaan, Rawa Malang Cilincing, Rusun Cilincing, Rusun Marunda, Terminal Tanjungpriok, perempatan Atmajaya Pluit, kolong dan Jembatan Cilincing. "PMKS yang terjaring kami masukkan ke panti sosial untuk didata dan dibina," tuturnya. (bjc)
