Pemerintahan    Pendidikan    Kesehatan    Pariwisata    Perhubungan    Pelabuhan    Dukcapil    Damkar    PU Jalan    PU Air    LMK    KBN    PKK    BPN    PMS    P2B    Tokoh   

Warga Warakas Bina 32 Orang Gila dari Jalanan

Pembina dan orang sakit jiwa 
Kurun waktu 6 tahun, Seorang warga Warakas membina 32 orang bermasalah dengan gangguan jiwa (gila) atau stres dari jalanan. 32 orang tersebut berasal dari berbagai daerah yang berhasil direkrut dari sejumlah tempat di Jakarta. 

Tomas Selan, pembina orang stres dan anak jalanan yang berdomisili di Jalan Warakas VII Gang 8 RT 02 RW 10 Kelurahan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara mengaku selama 6 tahun merekrut orang dengan latar belakang penyakit jiwa tersebut. 

"Mereka kami tempatkan di Warakas dan Sungai Bambu, tempatnya masih kontrak sudah 6 tahun ini kami membinanya dengan kemampuan kami.  Kalau jumlah seluruhnya ada 32. Dengan rincian 15 orang di warakas untuk kaum lelaki, 5 orang di jalan Ganggeng, Sungai Bambu untuk kaum perempuan dan 12 lainnya sudah kami pulangkan pada keluarganya," ujar Tomas, Sabtu (31/5/2014). 

Saat ini yang masih dalam fokus binaannya, kata dia, tersisa 20 orang dengan usia 15 sampai 39 tahun. "Kami merawatnya seperti keluarga sendiri, kami tidak pilih kasih semua sama. Kami memberikan harapan baru kepada mereka dengan cara pendekatan mental, berdoa, menjaga kebersihan dan berolahraga itu bagian cara penyembuhan yang kerap kami lakukan. Kami ingin mereka kembali ketengah masyarakat dengan hidup secara normal," tutur pria asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu. 

Ia dibantu dengan empat orang pembina lainnya mengaku dengan sukarela menampung orang-orang stres mulai dari tingkat stres ringan hingga stres berat atau gila. Bahkan, diungkapkannya, banyak diantara mereka yang tidak mengenali namanya sendiri sehingga dirinya memberikan sebuah nama untuk memudahkannya.  

"Setelah ingatan mereka mulai kembali normal, mereka akan mengenali nama, tempat tinggal dan keluarganya. Setelah itu kami cari keluarganya untuk dipulangakan. Bila ada keluarganya yang tidak menginginkan mereka kembali karena takut dan sebagainya kami tetap akan merawatnya kembali," kata Tomas. 

Riwayat mereka macam ragam saat didapati di jalan dan dari berbagai lapisan masyarakat. Ada yang stres karena di pecat dari angkatan, kasus narkoba, pelecehan sek hingga masalah keluarga. 

"Asal mereka dari berbagai daerah antara lain seperti Bogor, Depok, Medan, Padang, Manado, Papua, dan Jakarta. Dan kami merekrutnya dari berbagai tempat di Jakarta seperti Jalan Kalideres, Bandengan, dan Penjaringan," jelasnya.  

Tidak mudah untuk merekrut mereka diperlukan kesabaran. Termasuk, kata Tomas, saat membawanya dari jalanan. 
"Memerlukan waktu sampai tiga bulan bahkan lebih untuk mendapatkan mereka dari jalanan. Sebab, tidak gampang kami merujuknya. Seminggu bisa dua kali kami menemui mereka sebelum kami ajak kerumah. Bahkan kami sering tidak ketemu tetapi kami yakin sebab orang seperti mereka itu biasanya bila sudah pernah singgah di satu tempat cepat atau lambat akan kembali ketempat yang sama," ulasnya.  

Kedepan ia berharap kepada pemerintah Kota atau Provinsi dapat memberikan arahan dan bekerjasama dalam menanggulangi anak bangsa yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. 

"Niat kami berbakti untuk sesama dengan sukarela. Kami ingin mendapat uluran tangan dari pemerintah dan dermawan. Demi meringankan biaya sewa tempat dan kebutuhan hari-hari mereka. Pernah kami dagang, mengamen di jalanan dan bus kota untuk mencukupi kebutuhan mereka," akunya seraya menyebutkan ada pula yang membantu secara sukarela namun tidak secara rutin.  

Sementara itu, Telly, tokoh masyarakat warakas mengaku sangat prihatin dengan aktivitas warganya yang begitu peduli terhadap masa depan orang-orang stres tersebut. "Setahu saya usia mereka masih relatif muda. Tentu harapan kedua itu selalu ada, smoga saja pemerintah mengetahui ini," imbuhnya.  -  

'Manusia Gerobak' Adu Nasib Impikan Tempat Tinggal di Jakarta

TANJUNG PRIOK - Jakarta sebagai Kota Metropilitan sangat terbuka bagi kaum urban siapa saja dan dari daerah mana saja. Meski banyak Peraturan Daerah yang di terapkan namun tidak menyulutkan kaum urban untuk mengadu nasib di Kota besar Jakarta.

Mereka yang mempunyai keterampilan usaha mungkin saja lebih mudah mengais rizeki di Jakarta namun akan berbeda bagi mereka yang tidak mempunyai keterampilan. Mengemis dan memulung barang bekas mungkin saja menjadi pilihan bagi kaum pendatang yang tidak membekali diri dengan keterampilan.

Seperti kisah, Kusmiati, 35 Tahun, wanita asal Kebumen, Jawa Tengah ini adalah salah seorang pencari barang bekas atau rongsokan rumah tangga yang setiap harinya keliling kampung di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara. Terkadang ia juga harus melintasi sejumlah Jalan protokol yang banyak di lalui kendaraan umum seperti bus, angkot dan kendaraan lainnya.

Bermodal gerobak kesayangan yang dia beli dari hasil mengumpulkan barang bekas, Kusmiati, bersama dua anaknya bernama Sandi (7 tahun) dan Desti (9 tahun) setiap pagi mengadu nasib di Jakarta. Bermodalkan sabar dan yakin atas apa yang di lakukannya, kusmiati mengaku optimis kelak akan memiliki rumah kontrakan.

"Ingin mempunyai rumah kontrakan, tidak besar, tidak apa-apa asalkan murah. Ini impian saya bersama kedua anak saya," kata Kusmiati mengawali percakapannya di depan sebuah rumah kosong di Jalan Ganggeng, RT 03/ RW 01 Kelurahan Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (25/2/2014).

Sejak di tinggal suaminya pada tahun 2006, Kusmiati, tidak memiliki tempat tinggal lagi. Sejak itu pula ia memilih turun ke jalan mencari barang bekas. Setiap hari gerobak sematawayangnya-lah yang menjadi tempat tinggal bagi kedua anaknya.

"Kalau habis mencari barang bekas sampai siang hari kami istirahat, dan anak saya biasa tidur di gerobak. Begitupun bila malam, gerobak ini seperti rumah bagi kami. Tetapi saya kerepotan bila musim hujan seperti saat ini," ucapnya terbata-bata seraya mengatakan bila hujan mereka tidur di halaman kios warga.

Namun, kata wanita, yang pernah tinggal di kolong tol Warakas itu, apa yang dilakukannya tetap ia akan jalani terus. "Saya hanya mencari barang bekas tidak mengemis dan tidak melakukan perbuatan terlarang. Saya juga ingin hidup normal, menyekolahkan anak tetapi bagaimana anak bisa sekolah tempat tinggal saja kami tidak punya," akunya.

Kusmiati yang tidak mau menyebut-yebut nama suaminya itu mengaku dalam dua hari mengumpulkan barang bekas mendapatkan hasil Rp 30.000 sampai Rp 50.000. "Kalau ada sisa uang untuk makan kami, uangnya kami simpan di gerobak. Kami juga terimakasih karena banyak juga warga yang kasihan kepada kami ada yang memberi uang, makanan dan barang bekas," tuturnya.

Biasanya, kata dia, keliling kampung dengan gerobak sambil membawa dua anaknya di kawasan Sungai
Bambu, Kebon Bawang, Warakas, Tanjung Priok dan Sunter. "Kadang kami jalan sampai jauh, musim panas dan hujan sudah biasa kami alami. Yang penting anak-anak pada baik-baik saja," ujar Kusmiati seakan tegar menghadapi kerasnya hidup di tengah Metropolitan.

Wanita kelahiran tahun 1978 di Desa Blimbing, Kabupaten Kebumen, Jawa teengah mengutarakan niatnya akan tetap di berada di Jakarta. Pasalnya, di kampung kelahirannya sudah tidak mempunyai sanak saudara lagi.

"Kesulitan saya karena tidak punya rumah apalagi bila anak mengalami sakit, biasanya sakit perut. Saya sering minta air pada warga setelah itu saya obati dengan obat warung, alhamdulillah sembuh. Jadi tidak perlu membawa anak berobat ke dokter  dan Puskesmas," ungkapnya mengakhiri percakapan.

Korban Banjir Jakut Keluhkan Pasokan Bantuan Makanan

CILINCING- Makanan siap saji, itulah yang banyak diinginkan para pengungsi korban banjir di Jakarta Utara. Pasalnya banjir yang merendam rumah-rumah mereka tak bisa lagi melakukan aktivitas, jangankan untuk memasak untuk tidur saja sulit. Ironisnya bantuan makanan siap saji yang di berikan Pemko Jakarta Utara di posko logistik Sosial di Jalan Kramat Jaya, Koja prosesnya sangat berbelit-belit. Bahkan jatah ambil makan pagi baru bisa didapat siang hari. Begitupun untuk makan siang baru didapat pada malam hari. "Terkadang kami diberikan nasi bungkus tidak sesuai dengan data yang ada dipengungsi. Saya minta 300 bungkus malah dikasih 100 bungkus" kata Usman 35, warga RW 12 Kalibaru, Cilincing Jakarta Utara.

Hal senada disampaikan Tohir Ketua Blok Kampung Sepatan. Banjir setinggi 1,5 meter yang telah menenggelamkan ratusan rumah warga selama tiga hari ini, bahkan mereka sudah tak punya tempat pengungsian. Yang akhirnya warga banyak mengungsi di box-box kontainer maupun pasang tenda dijalan. Dan tuntutan warga korban banjir hanya ingin pasokan makanan, mengingat kondisi sekarang ini kebutuhan itu betul-betul di butuhkan."Warga itu perlu makanan siap saji, tapi kok jatah yang diberikan tak sesuai, sehingga kerap terjadi rebutan antar warga" kata Tohir

Dijelaskan Tohir, untuk Kampung Kasepatan ada 450 KK yang mengungsi di dua titik. Namun untuk jatah makan hanya diberikan satu kali sebanyak 200 bungkus. Itupun prosesnya harus membawa surat yang diketahui lurah setempat. "Saya heran Pemda itu punya anggaran besar! tapi kok untuk mendapatkan nasi bungkus saja susah" cetusnya. Meskinya dalam kondisi darurat meskinya tak bertele-tele.

Keluhan juga disampaikan sejumlah pengungsi di Stadion Tugu, maupun titik lokasi pengungsian di pos kecil di tingkat RW atas sulitnya mendapatkan bantuan makanan siap saji. "Kita sudah ambil ke logistik, namun jatahnya tak sesuai dengan jumlah pengungsi. Padahal untuk mengambil nasi tersebut harus melintasi jalan yang tergenang banjir" ujar Ade 34, warga  pengungsi di RW 5 Semper Barat.

Sementara itu, Ika Lestari Aji, Kasudin Sosial Jakarta Utara menjelaskan, pihaknya telah mempersiapkan nasi bungkus siap saji sebanyak 10 ribu - 13 ribu bungkus nasi siap saji. Menyangkut surat yang perlu diketahui pihak kelurahan hanya untuk pendataan. "Data yang diketahui lurah itu hanya untuk pendataan saja mas! agar data pengungsi akurat" ujarnya.


Korban Pengungsi Box Kontainer Terserang Penyakit

Lantaran sulit mendapatkan pasokan makanan bantuan, sejumlah anak-anak maupun ibu balita yang mengungsi di dalam mobil box kontainer di Kampung Kasepatan, Rorotan mulai terserang penyakit. Diantara ibu balita yang sulit mengeluarkan ASI dan bocah yang kakinya tertusuk kaca hingga membengkak.

"Ini cucu saya pak! nama Andri, kakinya tertusuk kaca, sudah dua hari badannya panas dingin dan kakinya bengkak" kata Slamet warga yang mengungsi di Box Kontainer di Jalan Cacing.Begitu juga para ibu balita yang menyusui anaknya, lantaran sering telat mengkomsumsi makanan mengakibatkan Asupan ASInya tak berjalan dengan lancar.

Warga Serbu Pengobatan Gratis, Makanan Bayi Jadi Rebutan

Ribuan warga korban banjir di sepanjang Jalan Insfeksi Kali Cakung Draine, Cilincing yang mengungsi di sepanjang jalan mengharapkan adanya bantuan makanan maupun obat-obatan. Saat pengobatan gratis digelar Sudinkes Jakut langsung diserbu untuk berobat kesehatannya. Sedikitnya ada 125 orang yang datang berobat.
Seperti yang terpantau di Kampung sawah, Semper Timur dan sepatan Rorotan, Cilincing Jakarta Utara.
Namun pengobatan gratis di Kampung Sepatan, Rorotan saat petugas memberikan buiskuit  untuk balita justru menjadi  rebutan anak-anak dan para orang dewasa. Mereka berebut buskuit lantaran tak mendapatkan jatah nasi bungkus.
"Memang jatah nasi bungkus dari Sudinsos buat warga Sepatan diberikan 200 bungkus. Sementara pengungsinya ada 450 orang. Akhirnya buskuit yang meskinya buat anak balita jadi rebutan" ujar Tohir 45, Ketua Blok Sepatan, Rorotan.
Ika Lestari Aji Kasudin  Sosial Jakarta Utara menjelaskan di dapur umum logistik para relawan terus memberikan pelayanan kepada para pengungsi korban banjir di Jakarta Utara. Mereka memasak sejak pagi hingga malam. Soal kurangnya pasokan makanan siap saji kepada warga di Kasepatan karena pihaknya hanya memberikan data sesuai yang diberikan kelurahan.
"Saya berharap pengurus warga dikawasan banjir untuk datang ke dapur umum logistik dengan membawa data yang akurat soal pengungsi supaya pemberian nasi siap saji sesuai dengan data" ujarnya.
Para pengungsi berharap kepada Pemko Jakarta Utara memberikan bantuan makanan siap saji tepat waktu baik untuk pagi,siang dan malam.

Banjir Satu Meter, Warga Kasepatan Ngungsi di Box Kontainer

Rorotan- Banjir yang belum surut ditambah lagi hujan deras yang turun sejak tadi malam membuat warga kampung kasepatan, Rorotan harus mengungsi ke lokasi yang aman. Pasalnya tempat tinggal yang mereka tempati sudah terendam banjir 1 meter.Sebanyak 450 Kepala Keluarga atau 1.600 jiwa di kampung ini terpaksa mengungsi ke lokasi yang aman. Sebagian besar pengungsi terdiri dari anak-anak dan ibu-ibu mengungsi di pinggir jalan."Mau ngungsi di mana lagi pak! semua tempat sudah banjir terpaksa di jalan" ujar Yati 45, Warga Kasepatan.

Ngungsi Di Dalam Box Kontainer
Selain mengungsi di sepanjang akses jalan Cakung Draine, warga Kasepatan juga mengungsi didalam box-box truk kontainer yang ada di lokasi banjir. Mereka sebagian besar mengungsi di dalam box kontainer untuk menghindari hujan turun. Bahkan didalam box kontainer ini banyak anak-anak, jompo dan ibu balita.

Sri Utami 25, seorang ibu balita yang terpaksa harus mengungsi di dalam box kontainer bersama Nafisah balita yang baru berusia 3 minggu. Ia memilih ke dalam box kontainer agar tidak terkena hujan dan dingin pada malam hari."Kalau ngungsi di tenda pengungsi harus melewati dalamnya banjir pak! Namun lantaran dekat box kontainer kita numpangi saja dulu" ujarnya.

Slamet tokoh masyarakat kampung Sepatan menjelaskan, banjir yang datang tiga hari lalu ini sempat surut hingga 60 cm, namun hujan deras tadi malam membuat air kembali tinggi hingga 1,20 meter. Dan wargapun panik dan mencari tempat pengungsian di pinggir jalan atau rumah warga. Ditambah lagi listrik du
"Sekitar pukul 3.00 pagi pihak kelurahan menurunkan perahu karet untuk mengevakuasi warga yang ada di dalam rumah" ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan air perlahan-lahan surut namun hujan rintik-rintik kembali turun.(Bian)

6.133 Pengungsi Korban Banjir Di Jakut

Warga Korban Banjir mengungsi di pelataran Stadion Tugu
Hujan deras yang turun sejak semalam ditambah lagi curah hujan yang tinggi membuat sejumlah kawasan pemukiman warga terkena banjir.
Beberapa kawasan pemukiman warga yang terendam banjir sebagaian besar mengungsi,mengingat banjir tak surut.
Ika Lestari Aji Kasudin Sosial Jakarta Utara menjelaskan, tercatat ada 6.133 pengungsi di Jakarta Utara yang tersebar di 28 titik pengungsian. Untuk membantu korban banjir ini, pihaknya menyediakan nasi bungkus buat korban banjir yang di pengungsian.
"Di posko logistik kita siaga petugas untuk memasak kebutuhan makanan buat korban banjir" ujarnya.
Ke 28 titik pengungsian ada di  Stadion Tugu, Rumah Ibadah, Gading Orchid, kantor kelurahan, Jalan akses Cakung draine dan sejumlah balai warga.
Sementara itu dikelurahan Semper Timur 123 jiwa yang mengungsi di kantor kelurahan. Untuk memenuhi kebutuhan makanan pengungsi di kantor kelurahan dan 6 titik pengungsian lainnya pihaknya membangun dapur umum untuk menyajikan kebutuhan makan sehari-hari.
"Kita juga siapkan dapur umum dan 30 sukarelawan untuk membantu pengungsi korban banjir" ujar Darmawan Lurah Semper Timur.
Sementara itu, seorang ibu hamil yang mengungsi di Stadion Tugu, Tugu Selatan Koja terpaksa dilarikan ke puskesmas Koja lantaran akan melahirkan. Ibu yang diketahui bernama Soleha 37, Warga RT 6/4 Tugu Selatan, Koja memang dalam kondisi hamil tua.
"Istri saya memang sedang hamil tua! Karena sudah mules-mules dibantu satpol PP dibawa ke Puskesmas".ujarnya.

8 PMKS Di Jakut di Jaring Petugas

TANJUNG PRIOK - Sebanyak 8 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Wilayah tertib Kota Jakarta Utara di jaring petugas gabungan yang di lakukan Sudin Sosial Jakarta Utara, semalam.

"Kedelapan orang itu terjaring di wilayah Sunter (1), Terminal Priok (2), Kramat Jaya (1), Tablo (2), Stasiun priok (2)," kata Kasi Prasarana dan Rehabilitasi Sudin Sosial Jakarta Utara, Israk, di ruang tugasnya lantai 8 kantor Walikota, Kamis 23 Mei 2013.

Ia mengaku sasaran awal adalah pekerja sek komersil di wilayah Pos 8 Tanjung Priok dan Tablo. Namun di duga bocor akhirnya petugas menyisir PMKS. "Sebelumnya kami melibatkan sekitar 25 tim yang terdiri dari Satpol PP, Polres dan TNI. Namun sasaran utama tidak berhasil menjaring pekerja sek komersil di duga ada oknum yang membocori," sesalnya.

Kini, kata dia, kedelapan orang PMKS yang terjaring semalam langsung si kirim ke Cipayung, Jakarta. Timur. "Meski begitu kami akan terus menjaring dan meminimalisir bila perlu hilangkan masalah kesenjangan sosial yang kerap mengganggu ketertiban umum ini. Bila masalah tersebut dapat tertangani maka Kota Jakarta Utara menjadi kota yang lebih baik," tambahnya.

Mogok, Pengendara Harapkan Pemda Beri Layanan Angkutan dan Bengkel Keliling


Sejumlah pengendara motor sangat mengharapkan agar pemerintah DKI Jakarta bersama pihak swasta menyiapkan kendaraan truk dan konteiner untuk mengevakuasi pengendara motor yang mogok akibat menerjang banjir. Bukan hanya itu pengendara roda dua ini juga mengharap pemda memberikan layanan bengkel keliling selama musibah banjir.

"Meski hujan, kami tetap bekerja karena tidak semua perusahaan yang meliburkan karyawannya. Tetapi kami sangat kuatir dalam perjalan akan mengalami mogok motor, bisa di bayangkan seperti apa lelahnya mendorong motor dalam ketinggian air mencapai 60 cm," kata Yudi, 26, salah seorang warga Jakarta Utara, Jumat 18 Januari 2013. 

Pria yang bekerja di sebuah perusahaan pelumas, di Jakarta Pusat itu, berharap Pemda DKI Jakarta menyiapkan konteiner untuk mengevakuasi motor mogok. Selain itu, katanya, juga melakukan layanan bengkel keliling selama banjir. "Kalau perlu pihak Polantas juga menyiapkannya sebab selama ini kami pengendara kan hubungannya dengan polisi. Masa di saat kami tertimpa musibah banjir hanya melihat saja," imbuhnya. 

Padahal, kata dia, ketiadaan perhatian pemda dan pihak terkait lainya membuat jasa angkutan dadakan banjir seperti getek, gerobak ojek dan lainnya meraup keuntungan. Pria yang kemarin mengalami mogok di Kampung Bandan, Ancol, mengaku kewalahan mendorong motor di tengah ketinggian banjir. "Kalau mau motor di angkut getek harus bayar 20 ribu, kalau bawa uang lebih kalau tidak terpaksa dorong sendiri," keluhnya. 

Anton, 30, warga Tanjung Priok, juga mengharapkan hal yang sama. "Ya seharusnya kami juga mendapat perhatian sedang kesulitan akibat mogok di tengah perjalan. Di setiap jalan Jakarta pasti terlihat motor yang mogok jumlahnya bisa ribuan. Bila ada layanan bengkel keliling dari pemda atau pihak yang peduli sosial lainnya tentu sangat membantu," harapnya.

"Jangan penumpang yang terlantar saja yang di perhatikan. Kami juga pengguna motor sangat membutuhkan bantuan, pengguna motor di Jakarta jumlahnya mungkin jutaan. Tetapi saat kami mengalami kendala di jalan akibat banjir tidak ada pihak yang peduli," akunya.

Ayuba, 45, warga lainnya, juga mengaku sangat setuju bila pemda memberikan layanan bengkel keliling dan angkutan motor mogok di jalan. "Seharusnya ini diantisipasi dan di jadikan bagian dari program layanan sosial masyarakat," kata pria itu. Ia mengaku hingga kini harus meninggalkan motor bebek kesayangannya di perkantoran Sunter akibat mogok menerjang banjir. 



2 Hari Mengungsi Korban Banjir Harapkan Bantuan


Sekitar 200 pengungsi korban kebanjiran di SDN Papanggo, yang berada di RT 08 RW 08 Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok semakin memprihatinkan. Pasalnya, sudah dua hari ini warga belum juga mendapatkan bantuan makanan.

"Kami berharap pemerintah setempat segera memberikan bantuan makanan dan minuman terhadap warga korban banjir. Sudah dua hari warga yang mengungsi di sekolah belum juga dapat bantuan," kata Harto, tim koordinator pengungsi korban banjir RW 08 Papanggo, Jumat 18 Januari 2013.

Dikatakannya, belum ada pihak Kelurahan maupun Kecamatan yang melihat kondisi di penampungan. Padahal, kata dia, sekolah tersebut sedikitnya menampung 200 warga di sekitar RT 07, 08, 09, 10, 11 dan RT 13 RW 08 Papanggo. "Umunya kaum ibu dan anak-anak yang mengungsi di sekolah, kasihan mereka yang sangat membutuhkan makanan maupun minuman," jelasnya.

Ia mengungkapkan banjir yang melanda lingkungannya sejak dua hari ini  dengan ketinggian berpariasi antara 30 cm - 60.  "Tadi pagi ketinggian air naik beberapa centi. Meski begitu masih banyak juga warga yang memilih bertahan di rumah, kalau sampai hari ni air laut terus menerjang pemukiman warga kemungkinan sekolah ini akan penuh," ucapnya.
 
Salim, Ketua RT 13/8 mengakui banyak warganya yang kini mulai mengungsi. "Sebagian warga kami memilih mengungsi di Kantor Sekretariat RT, karena dekat dengan rumah. Namun kami juga mengimbau warga lainnya untuk mengunsi di tempat yang disediakan seperti Masjid Nurul Jamal dan SDN Papanggo," katanya, yang mengaku belum mendapatkan bantuan.

Kepala Sekolah SDN Papanggo 03 Pagi, Mimin Suratminah, mengaku tidak keberatan sekolahnya digunakan untuk menampung korban banjir. "Warga setempat banyak yang mengungsi si sekolah kami. Bukan hanya warga perabotan mereka termasuk motor juga banyak yang di bawa kesekolah," katanya.

Ia berharap, banjir segera turun agar aktivitas masyarakat dan pelajar tidak lagi terganggu. "Hampir semua rumah anak didik kami kebanjiran. Hari ini sekolah kami liburkan, namun guru dan petugas sekolah tetap masuk seperti biasa," katanya.

KOREM 052 dan BI Gelar Bakti Sosial di Sekolah

Sebanyak  325 siswa dan siswi dari 16 sekolah baik negeri maupun swasta di wilayah Kota Adm Jakarta Utara mendapatkan layanan kesehatan pemeriksaan mata dan kaca mata gratis. Bakti sosial dalam rangka HUT TNI ke-67 cukup meriah, bertempat di Sekolah SMP SMK (SMEA) Wiyatamandala, Jalan Swasembada XIII, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Selasa (02/10/2012).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Komandan KOREM 052/Wijayakrama, Kolonel Infantri Sarum didampingi Komandan Kodim 0502/JU,  Letnan Kolonel Inf Asep Abdurachman dan Ketua Group Humas Bank Indonesia  (BI), Devi A. Johansyah serta sejumlah pejabat teras Walikota Jakarta Utara.

Komandan KOREM 052/Wijayakrama, Kolonel Infantri Sarum, mengatakan kegiatan bakti sosial berupa pemeriksaan mata dan pemberian kacamata gratis merupakan bagian dari programnya.

Bakti sosial ini, katanya, atas kerjasama KOREM dengan BI, dan sudah berjalan cukup lama. Pasalnya,  TNI dan BI telah melaksanakan penandatangan nota kerjasama (MoU) antara lain untuk kegiatan kesehatan dan  renovasi beberapa sekolah.

"Untuk saat ini sebanyak 325 siswa dan siswi dari 16 sekolah di Jakarta Utara ikut serta. Selanjutnya kami akan melaksanakan kegiatan yang sama di Jakarta Barat serta Tangerang," jelas Sarum.

Dikatakannya, maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan tersebut untuk membangun kerjasama dan kepekaan sosial.  Yang kedepan diharapkan dapat menghasilkan siswa/siswi berkualitas dan unggul dalam dunia pendidikan Jakarta Utara.

Sementara itu Kepala Group Humas BI, Devi Ahmad Johansyah, menjelaskan kegiatan bakti sosial ini merupakan bagian dalam wujud Coorporate Social Responsibility (CSR) BI.

"Kami sangat berkesan, dan mudah-mudahan baksos TNI Korem 052/Wijayakrama dan BI ini bisa membantu pelajar dalam menyelesaikan studinya dengan hasil yang memuaskan. Kami berharap agar kegiatan bisa terus berlanjut dan mudah-mudahan dapat sebagai modal demi menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah," kata Devi.

Ditempat yang sama, Kepala Sekolah SMA-SMK (SMEA) Wiyamandala, Harli, mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan kegiatan baksos di lingkungan sekolahnya.

"Kami ucapkan selamat HUT TNI ke-67, dan kami juga menyambut baik dilaksankannya kegiatan ini. Kegiatan langsung ini tentu saja  sangat menyentuh dan bermaanfaat bagi para siswa dan siswi di Jakarta Utara," katanya.

Remaja Ceria: 200 Remaja Putri Mendapatkan pelatihan Make Up

Remaja Ceria (RC) DKI Jakarta selama bulan Ramadhan telah banyak melakukan berbagai aktivitas sosial di masyarakat. Diantaranya dengan melaksanakan roadshow aksi simpatik 'kecantikan' ke tengah pemukiman penduduk di lima kota Jakarta.

Aksi Remaja Ceria yang pernah mendapatkan Rekor MURI sebagai Pemilihan Duta Remaja pertama di Indonesia dan Dunia dengan 10 performentnya itu mendapat apresiasi masyarakat. Pasalnya, dengan memberikan pelatihan secara gratis seperti pemakaian busana hijab atau kerudung dan Jilbab serta ceramah agama. Selain itu, memberikan pelatihan make up kepada 200 orang remaja putri dan kaum ibu di setiap lokasinya.

“kami sangat berterima kasih sama remaja ceria yang santun-santun ini dengan telaten mengajari kami dalam berbusana muslim yang baik dan pantas. Kami jadi lebih tau bagaimana cara pakai jilbab yg mudah, murah tapi bikin cantik," ucap Ny. Rini Suhanda, 30, salah seorang warga Tugu Utara.

Ibu dua anak itu, mengaku selama ini hanya kagum bila melihat penampilan artis di layar kaca yang menggunakan busana muslim. "Namun setelah mendapatkan kiat-kiat dari remaja ceria kami lebih pede dalam berbusana muslim dan akan kami terapkan pada putri kami. kami pengen anak kami besok-besok suruh ikut jadi remaja ceria saja biar pinter dan menambah pengalaman,” kata Rini.

Gerry Fahlevi, Mutiara dan Aldi para RC terpilih tahun 2012 bersama dengan anggota team kreatifnya Warsiti Latif, mengatakan, kegiatan ini seru dan menarik. Kata mereka, di balai warga RW 01 Kelurahan Tugu Utara, Koja, selain dapat apresiasi langsung dan menampung keinginan terhadap remaja. Kegiatan ini sangat berguna dan dibutuhkan sehari-hari oleh masyarakat khususnya remaja putri dan kaum ibu.

"Secara langsung, mereka sangat antusias dan merasa diperhatikan. Meski peminatnya banyak kami senang-senang saja dapat berbagi pengalaman dengan para ibu dan remaja di lingkungan padat penduduk. Hal ini juga sebagai bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat apalagi dalam menghadapi hari raya ini. Tentunya, mereka ingin mendapatkan penampilan yang anggun dan cantik tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal," jelas Mutiara kepada beritajakartautara.com, Rabu (08/08/2012).

Lebih jauh, katanya, dalam kegiatan roadshow RC juga dapat berkesempatan keliling menyapa masyarakat dari tempat satu ketempat lainnya sekaligus melakukan sosialisasi tentang RC. "Kami menikmatinya dan senang dapat berkunjung serta silaturahmi kerumah-rumah warga. Kegiatan ini juga untuk menepis kesan selama ini pemilihan duta remaja hanya ingin ditempat yang glamor seperti mall, hotel dan lainnya," dalihnya.

Ia juga menyebutkan Wilayah yang dikunjungi dalam roadshow RC DKI 2012 bimbingan Agustono yaitu Cilincing dan Koja (Jakut), Rawasari dan Rawamangun (Jaktim), Kemandoran(Jaksel), Palmerah dan Grogol (Jakbar), Galur dan Kemayoran (Jakpus).

Foto: Remaja Ceria dan team kreatif serta peserta pelatihan make up, di Tugu Utara, Koja.


Walikota Lepas 2.000 Paket Sembako CMNP


Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono usai meresmikan Masjid Nur Siti di lingkungan PT Citra Marga Nusaphala Persada, Tbk (CMNP) Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, ia juga melepas 2.000 paket sembako, Senin (30/7/2012). Pelepasan bantuan tersebut ditujukan untuk masyarakat pra sejahtera yang berada di wilayah Jakarta Utara, khususnya warga sekitar jalan tol.

Walikota yang hadir, bersama puluhan pejabat teras Jakarta Utara disambut hangat Direktur Utama PT CMNP, Jusuf Hamka serta jajarannya. Pada kesempatan itu, PT CMNP juga menyerahkan bantuan Rp 50 juta untuk kegiatan safari Ramadhan Kota Jakarta Utara yang diterima oleh Bazis Jakarta Utara.

Selain itu, melalui Coorporate Social Responsibility (CSR) perusahaan juga secara simbolis menyerahkan bantuan pemeliharaan sarana masjid dan mushola di 33 tempat di Jakarta Utara.

"Saya sudah beberapa kali menghadiri acara seperti ini, setiap tahun sama. Hanya saja tahun ini terasa berbeda karena ada buka puasa bersama oleh perusahaan yang setiap harinya menyiapkan 1000 nasi kotak untuk buka puasa. Bahkan bila kurang perusahaan berjanji akan menambahnya," ujar Walikota Bambang Sugiyono.

Ia mengaku banyak masyarakat Jakarta Utara banyak yang membutuhkan bantuan apalagi dalam menghadapi lebaran. "Meski angka kemiskinan menurun di Jakarta Utara namun masih banyak masyarakat yang butuh uluran tangan. Mudah-mudahan perusahaan jalan tol ini terus meningkatkan kepeduliannya kepada masyarakat," ucapnya.

Filosofinya, kata Bambang, siapa yang memberi karena iklas pasti akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda. "Semoga kita semua menjadi umat yang selalu bersyukur dan PT CMNP semakin sukses sehingga karyawan menjadi makmurn," tuturnya.

Sementara itu, Dirut PT CMNP, Jusuf Hamka, mengaku berterimakasih Walikota dapat melakukan peresmian masjid dan pelepasan 2000 paket lebaran untuk masyarakat pra sejahtera. "Sejak awal puasa kami juga melaksanakan buka puasa gratis untuk umum. Setiap hari kami siapkan hidangan buka puasa dan 1000 nasi kotak dengan menu yang baik untuk warga. Awalnya kami ragu akan terjadi antrian dan keributan," katanya.

Lebih lanjut, kata dia, dengan persiapan yang matang kekuatiran itu tidak terjadi. Bahkan pihaknya berjanji akan menambah bila terjadi kekurangan. "Intinya kami ingin berbagi dan mudah-mudahan kegiatan ini dapat terus berjalan," janjinya.

Ditempat terpisah, Triyono, 38, salah seorang warga RW 08 Papanggo mengaku selama jalan tol belum jadi hingga sampai sekarang berdiri tegar belum pernah mendapatkan bantuan dari CMNP. "Meski bantuan paket lebaran itu setiap tahun disalurkan kemasyarakat. Yang jelas saya belum pernah mendapatkan bantuan apapun apalagi namanya paket lebaran," ucap bapak empat anak. Ia mengaku tempat tinggalnya hanya 30 meter dari bibir tol Tanjung Priok.

Sudin Sosial Bantu Warga Miskin Buat Usaha Mandiri

Suku Dinas Sosial Jakarta Utara akan memberikan bantuan untuk usaha kecil bagi warga miskin khususnya dalam menyambut lebaran nanti. Sebanyak 320 peserta dari berbagai wilayah akan diberikan pelatihan serta tata boga dan pembuatan kue kering yang bisa menjadi nilai ekonomi jelang lebaran.

"Jadi mereka akan diberikan pelatihan dan ketrampilan  dengan dibantu oleh yayasan saibaba untuk pemberian materi tata boga dan pembuatan kue kering. Setelah 7 hari pelatihan, barulah mendapatkan bantuan bahan pokok dan alat untuk pengembangan usahanya" kata Ika Lestari Kasudin Sosial Jakarta Utara.

Rencananya pelatihan akan diselenggarakan di 6 kecamatan bertempat di sasana krida karang taruna. Pelatihan dari tanggal 21 sampai 29 Juli 2012. Setelah pelatihan pada tanggal 5 Agustus 2012 peserta diberikan bantuannya kemudian mereka bisa langsung membuat makanan jajanan lebaran.

Ditambahkan Ika Lestari, peserta selain ibu-ibu dan remaja dari warga tak mampu juga mereka yang punya keahlian namun pengembangannya tidak produktif juga ikut serta.

"paling tidak bekal yang mereka dapat bisa merubah pendapatan ekonominya" ujarnya.

19 PMKS di Jakut Terjaring Operasi

Sebanyak 19 orang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMK) yang berkeliaran di wilayah Jakarta Utara berhasil ditertibkan petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Utara yang bekerja sama dengan aparat Satpol PP setempat. Selanjutnya para gelandangan itu diserahkan pada Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 3, Cengkareng, Jakarta Barat untuk mendapatkan pembinaan.


Kepala Sudin Sosial Jakarta Utara, Ika Lestari mengatakan ke 19 orang tersebut dijaring saat pihaknya melakukan penertiban di sejumlah kawasan di Jakarta Utara, enam diantaranya adalah anak-anak. "Mereka adalah pengemis, gelandangan dan anak terlantar yang kami tertibkan di kawasan Kelapa Gading, Tanjung Priok, Pademangan dan Penjaringan. Umumnya mereka masih berasal dari Jakarta dan berbagai Daerah lainnya," ujar Ika didampingi Ishak, Kasi Penertiban Sudin Sosial Jakut kepada jakartautara.com, Jumat (02/03/2012).

Ia mengaku akan terus melakukan penertiban PMKS sampai dapat meminimalisir keberadaan PMKS di wilayah tertib kota Jakarta Utara. "Mereka yang terjaring kami kirim langsung ke Panti Sosial di Cengkareng sebelumnya kami buatkan berita acara penyerahan PMKS. Kami juga berharap partisipasi dari masyartakat apabila mengetahui keberadaan PMKS dapat menghubungi kami," jelas wanita yang baru satu bulan menjabat Kasudin.

Sementara, pantauan jakartautaracom disejumlah lokasi di Tanjung Priok masih terdapat gelandangan dan pengemis seperti di Jalan Gorontalo, Jalan Gadang, Jembatan penyebrangan Yos Sudarso dan sejumlah pasar. "Risih juga sih, kalau sering didatangi pengemis saat sedang makan. Mau gak dikasih tapi kasihan, kalau dikasih mereka semakin merajalela. Ya kami hanya berharap Dinas Sosial terus menertibkan pengemis dan gelandangan agar Kota Jakarta Utara ini semakin baik," harap Ny. Siti Nuraeni, 32, salah seorang warga di lokasi Taman Gorontalo, Sungai Bambu. (min)

Masjid Baitul Mu'minin Terima Bantuan Ambulan PT ADM

Masjid Baitul Mu'minin yang terletak di Jalan Warakas V Gang I No. 114 RT 04 RW 07 Kelurahan Warakas, Tanjung Priok, menerima bantuan sebuah mobil Ambulan dari PT Astra Daihatsu Motor (PT ADM), Jumat (02/03/2012) pagi. penyerahan Ambulan oleh unsur pimpinan PT ADM kepada pengurus Masjid juga disaksikan Lurah Warakas Mulyadi, pengurus RW, RT , tokoh masyarkat, PKK dan jajaran LMK Warakas.


Ketua Masjid Baitul Mu'minin, H. Thurmudy, mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan pada PT ADM. "Bantuan ini tentunya menjadi bentuk peningkatan masjid sekaligus pemberdayaan masjid yang dapat digunakan kepada masyarakat. Kami berharap kebaikan seperti ini tidak berhenti sampai disini," imbuhnya kepada jakartautara.com.

Unsur Pimpinan PT ADM, Pradikto sugondo, pada kesempatan itu mengatakan bahwa bantuan ambulan yang diserahkan kepada warga Warakas merupakan bagian dari program Coorporate Sosial Responsibility PT ADM. "Dalam program ini kami mempunyai empat pilar yaitu pilar kesehatan yang dalam hal ini kami wujudkan dalam bentuk ambulan. Selain itu, pendidikan, lingkungan dan kesejahteraan," ucapnya seraya berharap bantuan tersebut dapat bermanfaat.

Sementara itu, Lurah Warakas Mulyadi, mengatakan banyak bantuan yang telah diberikan oleh pihak Astra mulai dari tong sampah hingga mobil Ambulan. "Kami harap bantuan Ambulan ini dapat dirawat dan digunakan dengan sebaik-baiknya. Semua warga warakas dapat memanfaatkannya," ujar Lurah.

Pada kesempatan itu, ia juga menghimbau agar warga Warakas dapat menjaga dan meningkatkan kebersihan lingkungan dan menjaga kerukunan serta keamanan. "Ini kampung kita mari kita jaga keamanan kampung ini bersama jangan ada perselisihan maupun tawuran warga," tambahnya.

M.Yusuf, selaku Ketua LMK Warakas juga sebagai Ketua Forum LMK DKI Jakarta yang turut hadir pada penyerahan bantuan tersebut berjanji akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan bekerja sama dengan PT ADM maupun PT Astra International. "Dengan adanya kerjasama dengan PT Astra Grup mudah-mudahan pemuda warakas yang telah lulus SMA sederajat dapat bekerja di perusahaan otomotif ini," ucapnya. (min)



350 Anak di Warakas Mendapat Makanan Tambahan

Sebanyak 350 anak di Warakas mendapat bantuan tambahan makanan bergizi berupa susu dan biskuit dari Partai Gerindra Jakarta Utara. Pemberian makanan bergizi tersebut dilaksanakan di kantor RW 07 Kelurahan Warakas, Tanjung Priok disambut hangat warga sekitar.


"Seperti kita ketahui bahwa setiap Tanggal 25 Januari merupakan Hari Gizi Nasional (HGN). Kami bersama kader Gerindra Jakarta Utara turut berbagi kepada anak-anak kami terutama kepada mereka yang kurang mendapat asupan gizi yang baik," ujar Andhika, Ketua Gerindra Jakarta Utara kepada jakartautara.com, Senin (30/1/2012).

Anggota DPRD DKI Jakarta itu, mengatakan, tujuan dari pemberian makanan tambahan pada anak agar menyadarkan masyarakat akan pentingnya penerapan gizi terutama kepada anak usia dini. "Setidaknya dengan gizi yang seimbang diharapkan warga Warakas sehat dan cerdas serta jauh dari penyakit seperti kekurangan gizi atau gizi buruk. Mudah-mudahan kami tetap konsen dengan hal ini dan kedepan akan kami terapkan setiap satu tahun sekali," ucapnya didampingi kader Gerindra Nurohman.

Pemberian makanan tambahan pada anak juga dihadiri Sekjen Gerindra, para RW, LMK dan tokoh masyarakat Kelurahan Warakas dan kaum ibu bersama anak mereka. Sementara itu, Ketua RW 07, Isdianto, mengaku senang dengan adanya pemberian gizi kepada warganya.

"Kami harap perhatian makanan kesehatan pada anak seperti ini dapat terus berlanjut. Hal ini menjadi sangat penting untuk menjaga pertumbuhan anak agar tetap riang dan prima," ucapnya. (min)

Jakut Targetkan Jaring 400 PMKS

Keberadaan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), di Jakarta Utara masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diatasi bagi Pemkot Administrasi Jakarta Utara. Untuk memberantas penyakit masyarakat yang kerap meresahkan itu, tahun ini ditargetkan 400 PMKS bisa terjaring di wilayah tersebut.

Kasie Pelayanan Rehabilitasi Sosial Sudin Sosial Jakarta Utara, Israk, mengatakan untuk menjaring 400 PMKS, pihaknya akan menggelar operasi rutin pada siang hari di setiap bulannya selama 20 kali, dan juga operasi rutin pada malam hari yang sebelumnya hanya 2 kali, kini menjadi 5 kali. "Kami telah mengajukan anggaran untuk tahun ini kepada Dinas Sosial DKI Jakarta sebesar Rp 350 juta untuk operasi rutin PMKS, sehingga kami lebih konsentrasi mengintensifkan operasi pada malam hari," kata Israk, Selasa (17/1).

Menurutnya, pada tahun 2011 anggaran yang dikucurkan untuk operasi rutin penjangkauan PMKS hanya sebesar Rp 150 juta, sehingga operasi rutin setiap bulan pada siang hari hanya 20 kali, dan pada malam hari hanya 2 kali. Sedangkan, jumlah PMKS yang terjaring selama tahun 2011 hanya 375 PMKS. "Selain menggelar operasi rutin, kami juga menjaring PMKS berdasarkan laporan dari warga," ujarnya.

Ratusan PMKS yang berhasil ditertibkan itu, diantaranya waria, anak jalanan, pedagang asongan, pengamen, PSK, penderita gangguan mental, pengemis, gelandangan, dan lain-lain. "Masalah yang paling tinggi di Jakarta Utara adalah orang dengan gangguan mental dan pekerja seks komersial (PSK)," ucapnya.

Sedangkan hingga pertengahan Januari 2012, lanjut Israk, pihaknya telah menjaring sebanyak 20 PMKS di wilayah rawan, antara lain di wilayah Enggano, Plumpang, perempatan lampu merah Yos Sudarso, Coca Cola, Ancol, Taman BMW, Perintis Kemerdekaan, Rawa Malang Cilincing, Rusun Cilincing, Rusun Marunda, Terminal Tanjungpriok, perempatan Atmajaya Pluit, kolong dan Jembatan Cilincing. "PMKS yang terjaring kami masukkan ke panti  sosial untuk didata dan dibina," tuturnya. (bjc)

Keluarga Korban Kebakaran Dapat Santunan, Anak Sekolah Butuh Bantuan


ANCOL - Paska terjadinya kebakaran yang menghanguskan 220 rumah warga di Jalan Kampung Muka RT9/4 Blok E dan Blok D, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, dan juga menewaskan seorang nenek yang diketahui Suwarni (70). Sudin Sosial Jakarta Utara langsung menyalurkan santunan kepada keluarga korban kebakaran, dan juga bantuan kepada para korban berupa makanan siap saji dan tenda darurat. Bantuan ini diharapkan agar para korban kebakaran mendapatkan tempat tinggal sementara, tidak kelaparan, dan juga mengobati rasa sakit setelah kehilangan tempat tinggalnya. Kasie Bantuan dan Jaminan Sudin Sosial Jakarta Utara, Surya mengatakan korban tewas yang diketahui bernama Suwarni (70) di Jalan Kampung Muka RT9/4 Blok E Ancol, Pademangan, Jakarta Utara akan diberikan santunan sebesar Rp 3 juta kepada keluarga korban. "Kami akan bertemu dengan ahli waris korban, dan secepatnya kami akan memberikan santunan tersebut," kata Surya, Sabtu (14/1).

Menurutnya, prosedur untuk mendapat santunan dari Sudin Sosial, diantarnya memberikan Surat Kematian dari Kelurahan, Fotokopi KTP Ahli Waris, dan Surat Kematian Akibat Kebakaran. "Selain bencana kebakaran, kami juga memberikan santunan kepada korban yang meninggal dunia akibat bencana banjir, tsunami, tanah longsor, dan lain-lain," ujarnya.

Selain memberikan santunan, pihaknya juga telah menyalurkan bantuan 500 bungkus makanan siap saji pada sore hari, dan satu tenda darurat. "Untuk pertolongan pertama kami telah menyalurkan 500 nasi bungkus kepada korban kebakaran. Selanjutnya, besok akan kami salurkan lagi 1.500 nasi bungkus dengan waktu dua kali sehari selama 3 hari kedepan,"

Selain memberikan bantuan, lanjut Surya, pihaknya juga telah berkoordinasi kepada PMI Jakarta Utara untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada para korban dan juga satu tenda darurat. "Lokasi untuk tempat pengungsian berada di sekitar lokasi kejadian," ujarnya.

Menurutnya, berdasarkan data yang diperoleh, pada peristiwa kebakaran di Pademangan, sebanyak 220 kepala keluarga (KK) dan sekitar 1.500 jiwa kehilangan tempat tinggal. "Kami akan memberikan bantuan seragam sekolah dan selimut bila nantinya diperlukan, tetapi untuk pakaian bekas kami tidak punya karena kehabisan stok," tandasnya.

Sementara itu, M.Effiskal Camat Pademangan menjelaskan, pihaknya saat ini memberikan tempat pengungsian di Masjid dan Mushalla terdekat dari lokasi kebakaran. Dan saat ini para pengungsi sudah mendapatkan bantuan makanan,air mineral maupun obat-obatan dari Sudin Sosial,PMI,Kelurahan serta Kecamatan.

"Soal peralatan sekolah dan perlengkapannya saat ini kami sedang menginventarisasi kepada pengurus RT untuk segera membuat laporan" kata M.Effiskal. (Bian)

660 Petugas Kesehatan Siap 24 Jam

Menghadapi musim hujan kali ini, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara menyiapkan sebanyak 660 petugas kesehatan mulai dari petugas kesehatan kelurahan, Kecamatan dan tingkat kota Jakarta Utara. Selain para petugas petugas dari Sudin sosial, Sudin Pemadam Kebakaran, Ambulan 118, PMI, Satpol PP dan lainnya juga siap bekerja selama 24 jam.

“Mudah-mudahan apa yang diprediksikan BMG siklus banjir 5 tahunan tidak sebesar apa yang terjadi pada tahun 2006. Sebab, infrastruktur sekarang berbeda dengan tahun itu berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah antara lain melakukan normalisasi saluran bahkan sekarang ini juga sudah ada kali banjir kanal timur (BKT). Kami berharap tidak terjadi banjir besar,” ujar Sekko Jakarta Utara, Tri Kurniadi didampingi Kasi Operasi dan Penegakan Hukum Satpol PP Ganef.

Namun, katanya, seandainya hal itu terjadi semua petugas termasuk petugas kesehatan sudah siap . “Kami ingin sumberdaya manusia atau SDM harus siap dan mereka yang terlibat termasuk para dokter. Kedepankan untuk berkoordinasi dengan tokoh masyarakat termasuk Lurah dan Camat,” tuturnya.

Orang nomor tiga di Jakarta Utara itu merasa prihatin dengan warga dipingiran kali. Dia sangat berharap jika terjadi banjir besar mereka agar segera mendapatkan penanganan karena kesehatan dan daya tahan tubuh mereka sangat rentang dengan penyakit karena hidup ditengah ancaman

Sementara itu, Kepala Sudin Kesehatan Jakarta Utara, Kurnianto Amin, mengaku petugas yang disiapkan itu mulai petugas Kesehatan termasuk para staf bila terjadi bencana banjir atau bencana lainnya. “Dalam apel ini kami juga minta kepada mereka untuk siap siaga baik peralatan kesehatan, tenda, obat-obatan, ambulan termasuk kami siapkan air alat pengolahan air bersih yang dapat diminum langsung,” ujarnya saat mendampingi Sekko meninjau sejumlah ambulan.

“Para petugas itu akan bekerja secara bergantian selama 24 jam, ini dilakukan untuk mengantisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Diharapkan dengan cara seperti ini segala persoalan terkait dengan kesehatan masyarakat akan dapat kita atasi dengan cepat,”jelas Kasudin. 
 
Sumber / Link : Pos Kota

Selama SEA Games, 20 PMKS Dijaring

Intensitas penertiban terhadap Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) selama SEA Games XXVI berlangsung terus ditingkatkan. Selama perhelatan pesta olahraga terbesar negara-negara di kawasan Asia Tenggara itu berlangsung, Sudin Sosial Jakarta Utara berhasil menjaring sebanyak 20 PMKS. Terlebih, di kawasan Jakarta Utara terdapat sejumlah tempat yang mempertandingakan cabang olahraga SEA Games XXVI.

Ke-20 PMKS yang berhasil dijaring langsung dikirim ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya (PSBIBD) I di Kedoya, PSBIBD II di Cipayung dan PSBIBD III di Cengkareng untuk diberikan pembinaan.

Kasie Rehabilitas Tuna Sosial (RTS) Dinas Sosial DKI Jakarta, Prayitno mengatakan, terdapat tiga lokasi di Jakarta Utara yang menjadi titik rawan maraknya PMKS, yaitu perempatan Kelapagading, perempatan Coca cola, dan GOR Tanjungpriok menuju MOI Kelapagading. `Tiga lokasi tersebut merupakan rute menuju tempat penginapan dan tempat pertandingan tamu negara peserta SEA Games,` ujar Prayitno, Selasa (22/11).

Menurutnya, selama berlangsungnya SEA Games, jumlah PMKS yang terjaring di Jakarta Utara hanya sedikit. Ini artinya pendekatan persuasif yang dilakukan pihaknya berjalan lancar.

Kasie Pelayanan Rehabilitasi Sosial Sudin Sosial Jakarta Utara, Israk menambahkan selama perhelatan SEA Games, sebanyak 20 PMKS yang terdiri dari anak jalanan, orang stress, dan jukir liar terjaring dalam razia di sejumlah titik rawan PMKS. `Penertiban PMKS akan terus kami lakukan hingga ketertiban umum tercipta,` katanya.

Israk mengimbau kepada masyarakat atau pengguna jalan, untuk tidak memberikan uang atau sesuatu apapun kepada para PMKS. Sebab, hal itu membuat para PMKS menjadi malas bekerja dan semakin menjamur di jalanan. `Kami ingin membuat para PMKS itu jera. Namun, jika ingin membantu, disarankan menyalurkan bantuan ke lembaga-lembaga yang membutuhkan,` tandasnya.

 
 
Copyright © 2014 JAKARTA UTARA. All Rights Reserved. Powered by Lintas Daerah
Template by Creating Website and Kang Lintas