CILINCING- Selain mengeluhkan kemacetan akibat pembangunan jalan Tol di Jalan Raya Cacing (Cakung-Cilincing), pengguna jalan mengeluhkan maraknya aksi pak ogah yang mengatur jalan di kawasan itu. Jumlah mereka tidak tanggung-tanggung hampir disetiap sudut perempatan sedikit ada 5 orang pak ogah.
"Mereka seperti terorganisir, kok tak pernah bisa ditertibkan. Pasalnya keberadaan mereka justru memperparah kemacetan. Bahkan tak segan-segan memaksa meminta uang kepada pengguna jalan" ujar Sri 38, warga Rorotan, Cilincing Jakarta Utara.Begitu juga disampaikan Lia 30, warga Semper Barat, keberadaan mereka ini sangat menganggu pengguna jalan. Sebab mereka hanya memberikan jalan bagi pengguna jalan yang memberikan uang. Bahkan mereka menjadi salah satu penyebab kemacetan.
Sementara itu Dedi dan Rifai pak ogah yang masih remaja itu menjelaskan, dirinya terjun menjadi pak ogah lantaran tuntutan kebutuhan untuk sekolah dan membantu orangtuanya. Terlebih lagi mereka juga harus memberikan setoran kepada pengurus pak ogah.. “Kita nggak maksa, kalau dikasih ya kita terima,” ujar Dedi di lokasi mangkalnya di depan PT. Intraco, Jl. Raya Cacing dan Rifai didepan perempatan Budi Dharma, Semper Timur.
Suroyo Kasie Penertiban Kecamatan Cilincing berjanji akan menindak lanjuti keluhan masyarakat ini. Namun pihaknya akan melakukan koordinasi dengan kepolisian untuk mengatasinya. Sebab mereka yang menjadi pak ogah ini sebagaian besar anak-anak usia remaja dan masih duduk dibangku sekolah dimana perlu pembinaan baik dari pihak sekolah maupun orangtuanya. (erri)
"Mereka seperti terorganisir, kok tak pernah bisa ditertibkan. Pasalnya keberadaan mereka justru memperparah kemacetan. Bahkan tak segan-segan memaksa meminta uang kepada pengguna jalan" ujar Sri 38, warga Rorotan, Cilincing Jakarta Utara.Begitu juga disampaikan Lia 30, warga Semper Barat, keberadaan mereka ini sangat menganggu pengguna jalan. Sebab mereka hanya memberikan jalan bagi pengguna jalan yang memberikan uang. Bahkan mereka menjadi salah satu penyebab kemacetan.
Sementara itu Dedi dan Rifai pak ogah yang masih remaja itu menjelaskan, dirinya terjun menjadi pak ogah lantaran tuntutan kebutuhan untuk sekolah dan membantu orangtuanya. Terlebih lagi mereka juga harus memberikan setoran kepada pengurus pak ogah.. “Kita nggak maksa, kalau dikasih ya kita terima,” ujar Dedi di lokasi mangkalnya di depan PT. Intraco, Jl. Raya Cacing dan Rifai didepan perempatan Budi Dharma, Semper Timur.
Suroyo Kasie Penertiban Kecamatan Cilincing berjanji akan menindak lanjuti keluhan masyarakat ini. Namun pihaknya akan melakukan koordinasi dengan kepolisian untuk mengatasinya. Sebab mereka yang menjadi pak ogah ini sebagaian besar anak-anak usia remaja dan masih duduk dibangku sekolah dimana perlu pembinaan baik dari pihak sekolah maupun orangtuanya. (erri)

