Sejumlah pengendara motor sangat mengharapkan agar pemerintah DKI Jakarta bersama pihak swasta menyiapkan kendaraan truk dan konteiner untuk mengevakuasi pengendara motor yang mogok akibat menerjang banjir. Bukan hanya itu pengendara roda dua ini juga mengharap pemda memberikan layanan bengkel keliling selama musibah banjir.
"Meski hujan, kami tetap bekerja karena tidak semua perusahaan yang meliburkan karyawannya. Tetapi kami sangat kuatir dalam perjalan akan mengalami mogok motor, bisa di bayangkan seperti apa lelahnya mendorong motor dalam ketinggian air mencapai 60 cm," kata Yudi, 26, salah seorang warga Jakarta Utara, Jumat 18 Januari 2013.
Pria yang bekerja di sebuah perusahaan pelumas, di Jakarta Pusat itu, berharap Pemda DKI Jakarta menyiapkan konteiner untuk mengevakuasi motor mogok. Selain itu, katanya, juga melakukan layanan bengkel keliling selama banjir. "Kalau perlu pihak Polantas juga menyiapkannya sebab selama ini kami pengendara kan hubungannya dengan polisi. Masa di saat kami tertimpa musibah banjir hanya melihat saja," imbuhnya.
Padahal, kata dia, ketiadaan perhatian pemda dan pihak terkait lainya membuat jasa angkutan dadakan banjir seperti getek, gerobak ojek dan lainnya meraup keuntungan. Pria yang kemarin mengalami mogok di Kampung Bandan, Ancol, mengaku kewalahan mendorong motor di tengah ketinggian banjir. "Kalau mau motor di angkut getek harus bayar 20 ribu, kalau bawa uang lebih kalau tidak terpaksa dorong sendiri," keluhnya.
Anton, 30, warga Tanjung Priok, juga mengharapkan hal yang sama. "Ya seharusnya kami juga mendapat perhatian sedang kesulitan akibat mogok di tengah perjalan. Di setiap jalan Jakarta pasti terlihat motor yang mogok jumlahnya bisa ribuan. Bila ada layanan bengkel keliling dari pemda atau pihak yang peduli sosial lainnya tentu sangat membantu," harapnya.
"Jangan penumpang yang terlantar saja yang di perhatikan. Kami juga pengguna motor sangat membutuhkan bantuan, pengguna motor di Jakarta jumlahnya mungkin jutaan. Tetapi saat kami mengalami kendala di jalan akibat banjir tidak ada pihak yang peduli," akunya.
Ayuba, 45, warga lainnya, juga mengaku sangat setuju bila pemda memberikan layanan bengkel keliling dan angkutan motor mogok di jalan. "Seharusnya ini diantisipasi dan di jadikan bagian dari program layanan sosial masyarakat," kata pria itu. Ia mengaku hingga kini harus meninggalkan motor bebek kesayangannya di perkantoran Sunter akibat mogok menerjang banjir.

