Cilincing- Sejak dibukanya
pendaftaraan penghuni Rusun Marunda bagi warga korban banjir Muara Baru
dan Waduk Pluit Penjaringan untuk direlokasi terus mengundang perhatian
masyarakat di Jakarta Utara khususnya bagi warga tak mampu dan di
bantaran Kali. Berbagai fasilitas diberikan bagi
penghuni yang direlokasi mendapatkan kasur, televisi,kulkas, tabung
gas,selimut dan bantuan makan sehari tiga kali. Ini membuat banyak warga
tertarik untuk tinggal disana. Bahkan mereka juga diberikan bantuan
gerobak usaha, dan pembuatan KTP.Namun mengundang protes bagi warga lain
dluar korban banjir Penjaringan.
Lina 45, Warga RW 5 Tanjung Priok
memprotes pemberian khusus kepada warga korban banjir untuk mendapatkan
hak sewa di Rusun Marunda. Dirinya juga termasuk korban banjir di
lingkungannya. Apalagi tempat yang ia miliki sewa."Ini engga adil mas!
Kalau cuma warga Penjaringan yang diberikan berarti diskriminasi"
ujarnya.
Pernyataan serupa disampaikan Goni 49, Warga Rorotan maupun Linda 45
warga RW 4 Semper Barat.Keberadaaan Rusun dibangun dimanfaatkan bagi
warga tak mampu apalagi berlokasi di Jakarta Utara. "Kami ini tinggal di
Jakarta Utara, dan kami mengajukan ditolak dengan alasan rusun ini buat
orang Penjaringan, ada apa ini! Tanyanya.
Menanggapi. Protes warga ini, Novizal Kepala Dinas Perumahan Dan
Gedung DKi Jakarta menjelaskan, saat ini diprioritaskan bagi warga
korban banjir di Muara Baru dan Waduk. Pluit saja. Dan saat ini sudah
ada 500 KK atau 3 ribu jiwa yang mendaftar. Dan 300 KK yang sudah
menempati rusun di blok 9,10 dan 11. " Kalau mereka bukan warga sekitar
waduk pluit tapi mereka sudah mendaftar sebagai korban banjir. Mohon
maaf saja kami akan mengusirnya. Karena dari awal sudah disampaikan
kalau datanya tidak benar mohon sukarela meninggalkan tempat" ujar
Novizal. Hingga saat ini warga dari berbagai wilayah terus berdatangan ke
Rusun. Dari mulai pingin tahu sampai mengambil formulir pendaftaraan.

