CILINCING- Makanan siap saji, itulah yang banyak diinginkan para
pengungsi korban banjir di Jakarta Utara. Pasalnya banjir yang merendam
rumah-rumah mereka tak bisa lagi melakukan aktivitas, jangankan untuk
memasak untuk tidur saja sulit. Ironisnya bantuan makanan siap saji yang
di berikan Pemko Jakarta Utara di posko logistik Sosial di Jalan Kramat
Jaya, Koja prosesnya sangat berbelit-belit. Bahkan jatah ambil makan
pagi baru bisa didapat siang hari. Begitupun untuk makan siang baru
didapat pada malam hari. "Terkadang kami diberikan nasi bungkus tidak sesuai dengan data yang
ada dipengungsi. Saya minta 300 bungkus malah dikasih 100 bungkus" kata
Usman 35, warga RW 12 Kalibaru, Cilincing Jakarta Utara.
Hal senada disampaikan Tohir Ketua Blok Kampung Sepatan. Banjir setinggi 1,5 meter yang telah menenggelamkan ratusan rumah warga selama tiga hari ini, bahkan mereka sudah tak punya tempat pengungsian. Yang akhirnya warga banyak mengungsi di box-box kontainer maupun pasang tenda dijalan. Dan tuntutan warga korban banjir hanya ingin pasokan makanan, mengingat kondisi sekarang ini kebutuhan itu betul-betul di butuhkan."Warga itu perlu makanan siap saji, tapi kok jatah yang diberikan tak sesuai, sehingga kerap terjadi rebutan antar warga" kata Tohir
Dijelaskan Tohir, untuk Kampung Kasepatan ada 450 KK yang mengungsi di dua titik. Namun untuk jatah makan hanya diberikan satu kali sebanyak 200 bungkus. Itupun prosesnya harus membawa surat yang diketahui lurah setempat. "Saya heran Pemda itu punya anggaran besar! tapi kok untuk mendapatkan nasi bungkus saja susah" cetusnya. Meskinya dalam kondisi darurat meskinya tak bertele-tele.
Keluhan juga disampaikan sejumlah pengungsi di Stadion Tugu, maupun titik lokasi pengungsian di pos kecil di tingkat RW atas sulitnya mendapatkan bantuan makanan siap saji. "Kita sudah ambil ke logistik, namun jatahnya tak sesuai dengan jumlah pengungsi. Padahal untuk mengambil nasi tersebut harus melintasi jalan yang tergenang banjir" ujar Ade 34, warga pengungsi di RW 5 Semper Barat.
Sementara itu, Ika Lestari Aji, Kasudin Sosial Jakarta Utara menjelaskan, pihaknya telah mempersiapkan nasi bungkus siap saji sebanyak 10 ribu - 13 ribu bungkus nasi siap saji. Menyangkut surat yang perlu diketahui pihak kelurahan hanya untuk pendataan. "Data yang diketahui lurah itu hanya untuk pendataan saja mas! agar data pengungsi akurat" ujarnya.
Korban Pengungsi Box Kontainer Terserang Penyakit
Lantaran sulit mendapatkan pasokan makanan bantuan, sejumlah anak-anak maupun ibu balita yang mengungsi di dalam mobil box kontainer di Kampung Kasepatan, Rorotan mulai terserang penyakit. Diantara ibu balita yang sulit mengeluarkan ASI dan bocah yang kakinya tertusuk kaca hingga membengkak.
"Ini cucu saya pak! nama Andri, kakinya tertusuk kaca, sudah dua hari badannya panas dingin dan kakinya bengkak" kata Slamet warga yang mengungsi di Box Kontainer di Jalan Cacing.Begitu juga para ibu balita yang menyusui anaknya, lantaran sering telat mengkomsumsi makanan mengakibatkan Asupan ASInya tak berjalan dengan lancar.
Hal senada disampaikan Tohir Ketua Blok Kampung Sepatan. Banjir setinggi 1,5 meter yang telah menenggelamkan ratusan rumah warga selama tiga hari ini, bahkan mereka sudah tak punya tempat pengungsian. Yang akhirnya warga banyak mengungsi di box-box kontainer maupun pasang tenda dijalan. Dan tuntutan warga korban banjir hanya ingin pasokan makanan, mengingat kondisi sekarang ini kebutuhan itu betul-betul di butuhkan."Warga itu perlu makanan siap saji, tapi kok jatah yang diberikan tak sesuai, sehingga kerap terjadi rebutan antar warga" kata Tohir
Dijelaskan Tohir, untuk Kampung Kasepatan ada 450 KK yang mengungsi di dua titik. Namun untuk jatah makan hanya diberikan satu kali sebanyak 200 bungkus. Itupun prosesnya harus membawa surat yang diketahui lurah setempat. "Saya heran Pemda itu punya anggaran besar! tapi kok untuk mendapatkan nasi bungkus saja susah" cetusnya. Meskinya dalam kondisi darurat meskinya tak bertele-tele.
Keluhan juga disampaikan sejumlah pengungsi di Stadion Tugu, maupun titik lokasi pengungsian di pos kecil di tingkat RW atas sulitnya mendapatkan bantuan makanan siap saji. "Kita sudah ambil ke logistik, namun jatahnya tak sesuai dengan jumlah pengungsi. Padahal untuk mengambil nasi tersebut harus melintasi jalan yang tergenang banjir" ujar Ade 34, warga pengungsi di RW 5 Semper Barat.
Sementara itu, Ika Lestari Aji, Kasudin Sosial Jakarta Utara menjelaskan, pihaknya telah mempersiapkan nasi bungkus siap saji sebanyak 10 ribu - 13 ribu bungkus nasi siap saji. Menyangkut surat yang perlu diketahui pihak kelurahan hanya untuk pendataan. "Data yang diketahui lurah itu hanya untuk pendataan saja mas! agar data pengungsi akurat" ujarnya.
Korban Pengungsi Box Kontainer Terserang Penyakit
Lantaran sulit mendapatkan pasokan makanan bantuan, sejumlah anak-anak maupun ibu balita yang mengungsi di dalam mobil box kontainer di Kampung Kasepatan, Rorotan mulai terserang penyakit. Diantara ibu balita yang sulit mengeluarkan ASI dan bocah yang kakinya tertusuk kaca hingga membengkak.
"Ini cucu saya pak! nama Andri, kakinya tertusuk kaca, sudah dua hari badannya panas dingin dan kakinya bengkak" kata Slamet warga yang mengungsi di Box Kontainer di Jalan Cacing.Begitu juga para ibu balita yang menyusui anaknya, lantaran sering telat mengkomsumsi makanan mengakibatkan Asupan ASInya tak berjalan dengan lancar.
