Menurut para nelayan, limbah tersebut mengalir bersama aliran air di Kanal Banjir Timur (KBT). Para nelayan mengaku, hingga kini belum ada penanganan dari pemerintah kota dan instansi terkait
Menurut Ketua Kelompok Nelayan Marunda, Sueb Magbub,48, Jumat (18/11), paling sedikit tiga kali dalam sebulan, limbah cair tersebut menerjang perairan Marunda. Limbah cair itu, jelasnya, berwarna putih susu dan merah pekat serta disertai busa.
Sueb mengeluhkan, aliran limbah itu telah menyebakan ikan-ikan di perairan Marunda mati. "Hingga jarak 1 mil laut dari bibir pantai Marunda, sekarang sudah tidak ditemukan ikan lagi. Jangankan ikan berukuran besar, menurutnya, ikan-ikan kecil dan anak-anak ikan juga sudah tidak ada lagi," ujar Sueb.
Dia pun mengatakan, para nelayan sudah mengadukan masalah ini ke Sudin Peternakan Perikanan dan Kelautan, serta Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta Utara. Namun hingga kini, lanjutnya, belum pernah ada tindakan penanganan. "Setiap kali mengadukan masalah ini ke Pemkot Jakarta Utara, mereka selalu bilang bahwa yang membuang limbah itu pabrik-pabrik di kawasan Bekasi. Memangnya pemerintah Jakarta Utara, tidak bisa berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bekasi?" tandasnya.
Sueb menjelaskan, saat ini ada sekitar 314 nelayan yang kehilangan tangkapan ikan sekaligus penghasilan mereka. Limbah tersebut, tuturnya, telah merusak mata pencharian mereka, bahkan membuat mereka menganggur atau beralih profesi. (NA/OL-2)
