Pemerintahan    Pendidikan    Kesehatan    Pariwisata    Perhubungan    Pelabuhan    Dukcapil    Damkar    PU Jalan    PU Air    LMK    KBN    PKK    BPN    PMS    P2B    Tokoh   
Home » , , » Derita Pengungsi Korban Banjir Si Kaya Dan Si Miskin

Derita Pengungsi Korban Banjir Si Kaya Dan Si Miskin

Posted by JAKARTA UTARA on Senin, 21 Januari 2013

JAKARTA UTARA- Jakarta di terjang banjir, rumah -rumah warga serta jalanpun tertutup air hingga ketinggian 40 cm- 1,8 meter. Warga terpaksa mencari tempat-tempat pengungsian agar mendapatkan tempat yang aman sehingga terhindar dari banjir.  Ada yang mengungsi di Apartemen, Rumah Ibadah, Kantor Kecamatan dan Kelurahan, pelataran jalan, lapangan, bengkel mobil sampai di kolong tol. Banjir tak mengenal siapa yang kaya maupun miskin. Air mengalir dari rumah gubuk reot di pinggir kali sampai Istana Negara di tengah kota. Suka dan Dukanya dirasakan oleh siapapun yang terkena musibah banjir. Tapi derita para pengungsi justru berbeda dimana pengungsi yang di huni warga di kampung kumuh dan warga di Perumahan Elite.

Seperti di kawasan Pemukiman Elite Pluit yang terendam banjir hingga 2 meter, seluruh media massa tertuju kesana, Presiden, Gubernur, Walikota hingga anggota DPR RI serta pejabat tinggi tak luput datang ke lokasi itu.Mengingat lokasi tersebut merupakan kawasan real estate. Tetapi tidak seperti warga yang kebanjiran di bantaran Kali Cakung Lama, Kali Begog, Kali Sunter dan sejumlah bantaran di Kampung kumuh,padat dan miskin. Hanya ada sosok Lurah, RW dan RT yang datang ke lokasi ini untuk memberi semangat agar musibah ini menjadi pelajaran dalam hidup. Tak ada media yang tertuju disana. Padahal di kampung inilah banyak persoalan yang menyangkut kehidupannya. Seperti contoh untuk mendapatkan bantuan nasi bungkus, si pengurus posko banjir harus berjuang menuju ke kantor Walikota Jakarta Utara dengan menggunakan sepeda motor untuk menghindar kemacetan. Belum lagi sesampainya di posko Dapur Umum Walikota harus menunggu berjam-jam, sehingga bantuan makan pagi harus diterima pada siang hari. Beda dengan nasib pengungsi di pemukiman elite, berbagai fasilitas disiapkan, perahu karet disiagakan, ratusan aparat diterjunkan, dan petugas ahli medis sudah ditempatkan untuk mengantisipasi pengungsi.

Seperti contoh Maryana 38 warga RW 10 Sukapura salah seorang korban banjir. Rumahnya terendam hingga 80 cm. Hari itu Balitanya Zam-Zam usia 2 tahun terkena penyakit panas. Tak ada posko kesehatan yang disiagakan saat itu. Iapun  membawanya ke Rumah Sakit Islam.Dengan membawa foto kopi KTP dan KK ia berharap terdaftar sebagai pasien KJK langsung cepat terlayani. Ternyata iapun harus berhadapan dengan birokrasi di rumah sakit.

 "Awalnya saya pikir langsung tertangani, setelah adu mulut akhirnya kami bisa mendapatkan layanan gratis rumah sakit" ujar Maryana yang keseharianya bekerja sebagai buruh cuci keliling.Hingga kini ia bingung untuk menutupi kebutuhan rawat di rumah sakit. Uangnya yang dimilikinya pas-pasan. Saat ini anaknya masih dalam perawatan di kelas III Rumah Sakit Islam Sukapura, Cilincing Jakarta Utara.

Maryana merupakan salah satu contoh korban banjir yang erasal dari pemukiman kumuh,padat dan miskin. Ia hanya berharap para pemimpin di negeri ini agar memperhatikan nasib yang sama sepertinya juga harus mendapatkan perhatian yang sama. (RED)





SHARE :
Kang Lintas
 
 
Copyright © 2014 JAKARTA UTARA. All Rights Reserved. Powered by Lintas Daerah
Template by Creating Website and Kang Lintas