Ikatan Wartawan Online (IWO) bekerjasama dengan PenaOne.com menggelar kegiatan Pendikan dan latihan (Diklat) Wartawan Angkatan IV di Wisma Mathoa Anjungan Papua – TMII, 13-14 April 2013.Diklat yang bertema “Penajaman Kualitas Menulis Bagi Jurnalis dan Citizen Jurnalis” ini menghadirkan beberapa narasumber dari beberapa media, salah satunya adalah Wartawan Republika, Eko Haryadi Ismail yang memberikan pengalaman-pengalamannya selama 6 tahun menjadi wartawan kepada para peserta diklat.
“Untuk membuat berita kita berbeda dengan wartawan lain itu tergantung bagaimana sudut pandang kita terhadap suatu berita. Di suatu peristiwa yang sama, wartawan bergerombol, dimana informasi yang kita peroleh sama, tapi yang membedakan adalah sudut pandang terhadap suatu berita dan ideologinya,” ujar Ismail, Sabtu (13/4/2013) malam.
Ismail menambahkan, seorang wartawan selain harus memiliki sifat skeptis (selalu mempertanyakan segala sesuatu), wartawan juga harus melakukan verifikasi. Karena, kebanyakan wartawan sekarang langsung percaya dengan narasumber tanpa melakukan verifikasi terhadap orang yang bersangkutan atau anggota keluarga.
“Selain sifat skeptis, kerja yang paling utama dilakukan oleh wartwan adalah verifikasi, informasi yang diperoleh harus diverifikasi. Terlebih lagi berita yang tidak dilihat atau dialami langsung oleh wartawan”, tambah wartawan Republika ini.
Dilanjutkan lagi, tugas wartawan bukanlah penegak hukum. Tugas wartawan adalah collecting, reporting dan investigating. Wartawan dalam bekerja harus dihormati dan dihargai, karena membuat berita yang berhubungan dengan publik, oleh karena itu wartawan dilindungi oleh hukum. Dan wartawan tak perlu takut dalam menjalankan tugasnya sebagai pencari dan penulis berita.
Begitupun disampaikan, Dhia Prekasha Yoedha, dari majalah aktual ini memberikan semangat kepada wartawan agar jangan takut apalagi ragu-ragu jika sudah terjun kedunia jurnalis. Dan bagimana peran jurnalis atau wartawan itu bisa menciptakan berita yang menarik, tajam, nara sumbernya jelas, aktual serta berimbang. Dan tidak perlu wartawan harus bersaing dengan dengan wartawan yang sudah mempunyai nama media besar.
"Kuncinya wartawan yang handal, bukan lantaran besar nama korannya, melainkan bagaimana cara si wartawan itu dalam mencari sumber berita,mengolah bahan beritanya, dan tak pernah ragu" ujarnya
Bertugas Jangan Ragu, Wartawan Dilindungi Undang-Undang
– Menyampaikan berita merupakan tugas pokok wartawan, tidak menutup kemungkinan terkadang ada hal-hal yang ‘mengganggu’ kerja wartawan pada saat peliputan berita.Selain dilindungi oleh UU pokok pers wartawan juga dilindungi Undang-Udang 1945 pasal 28 ayat 1 sudah mengatur bahwa setiap orang bebas untuk mengekspresikan pendapat, kemudian pasal 28 huruf F pers berhak untuk menyimpan, mengolah data menggunakan data yang tersedia.
Dalam hal ini bukan berarti wartawan tidak bisa salah, atau terkena hukuman, contohnya seperti menghina negara, membocorkan rahasia negara, menghina satu agama dan melakukan penghasutan.Ada kode etik yang harus diingat pada saat wartawan pada saat melakukan pekerjaanya. Ketika kode etik itu dilanggar nanti nya yang menangani adalah dewan pers.Dewan pers yang menentukan masalah yang dilakukan wartawan masuk dalam hukum pidana atau atau hanya masalah kode etik. Ketika masalah tersebut masuk dalam hukum pidana, maka akan diserahkan ke kepolisian, jika hanya malah kode etik akan diselesaikan secara internal.
Hal tersebut dikatakan oleh praktisi hukum dari Image Law Farm Junaedi dalam pendidikan dan latihan (Diklat) IV yang digelar oleh Ikatan Wartawan Online (IWO) yang bekerja sama dengan PenaOne.com, di Wisma Anjungan Papua TMII, Jakarta Timur (14/04/13).“Sudah jelas hukum-hukum pers, sehingga dalam menjalankan tugasnya pers tidak boleh lagi ragu-ragu” ujarnya.
Wartawan Juga Seniman
Perbincangan terlihat menarik saat narasumber Noviedodo atau yang kerap disapa Doan mengkisahkan wartawan yang sering mengeluhkan bila ditempatkan berbagai lini. Menurutnya itu merupakan seni.“Wartawan sering ditempatkan di ekonomi, tapi kan saya dari jurusan hukum, siapa tahu kita punya media sendiri kita bisa menyuruh reporter, kan kita sudah tahu kabarnya apa di hukum maupun ekonomi,” tutur Doan dihadapan peserta dalam Diklat yang bertemakan “Penajaman Kualitas Menulis Bagi Jurnalis dan Citizen Jurnalis” di Wisma Mathoa Anjungan Papua TMII, Jakarta Timur, Sabtu (14/4/2013).
Lebih lanjut penyiar radio di salah satu stasiun tv swasta tersebut mengatakan jangan dijadikan beban dalam menjalankan profesi sebagai wartawan.
“Kita menuangkan penulisan itu seperti seniman, kalau kita bosan ke politik kita ke ekonomi,” terang Doan yang juga pendiri IWO tersebut.Apapun latar belakangnya, sambung dia, siapapun anda, menjadi jurnalis itu tidak memerlukan suatu latar belakang pendidikan atau ekonomi yang baik.“Siapapun bisa menjadi seorang jurnalis. Jurnalis yang bisa menyuarakan suatu kebenaran yang dikemas dan disajikan menjadi suatu konsumsi publik yang baik,” pungkasnya.
Home »
Kliping Berita
,
News
,
Utama
» Diklat IWO Angkatan IV : Wartawan Tak Perlu Takut Menulis Berita
Diklat IWO Angkatan IV : Wartawan Tak Perlu Takut Menulis Berita
Posted by JAKARTA UTARA on Minggu, 14 April 2013
| Kang Lintas |
|
Label:
Kliping Berita,
News,
Utama
