CILINCING- Di sela-sela Pemda DKI Jakarta menggulirkan program Kartu Jakarta Pintar (KJP) sebagai upaya mementaskan masalah pendidikan, tetapi justru di kampung kumuh di RT 3/3 Kel Semper Timur, Cilincing ada beberapa anak yang terpaksa putus sekolah lantaran kondisi ekonomi yang pas-pasan.
Asiah 60, seorang nenek yang kesehariannya sebagai tukang urut ini hanya bisa berharap agar ketiga cucunya bisa kembali bersekolah layaknya anak-anak yang lainnya yang tetap bersekolah. Karena alasan kondisi ekonomi ketiga cucunya yakni Reza 8 Tahun , Wahyu 10 tahun Steven 13 tahun terpaksa putus sekolah."Kalau cucu saya si Reza ini memang telat mendaftar karena saat itu tak punya persyaratan seperti akte lahir dan belum tercantum di KK. Sebab saat itu bapaknya sudah meninggal dunia jadi batal ngurus sekolahnya" kata Asiah.Berbeda dengan Wahyu, yang sempat duduk di bangku sekolah kelas 2 SD ini , karena tak punya kebutuhan untuk membeli buku dan alat sekolahnya ia berhenti sekolah.
"Semua cucu saya ini saya yang tanggung, tapi penghasilan yang kami dapat dari pekerjaan urut tak bisa menjangkaunya" ujar Asiah.
Asiyah berharap kepada pemerintah bisa mempasilitasi cucu-cucunya ini agar bisa kembali bersekolah, dan merasakan pendidikan. Ia juga menambahkan banyak anak-anak di kampung ini yang anak-anaknya tidak bersekolah. Ini disebabkan faktor ekonomi.
Sarta Ketua RT 3/3 Semper Timur membenarkan, kurang perhatiannya orangtua terhadap anak-anaknya soal pendidikan dikarenakan masalah ekonomi. "Mereka sebagian besar pekerjaaanya yang penghasilannya pas-pasan, yaa..mudah-mudahan anak-anak mereka bisa kembali bersekolah" tuturnya
