Jakarta - Sebanyak 1.500 buruh berdemonstrasi di depan pintu masuk utama Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cilincing, Jakarta Utara, pada Kamis (19/1) pagi. Mereka menuntut Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta dan Dewan Pengupahan Provinsi agar menaikkan Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) DKI Jakarta menjadi 20 persen dari Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2012.
"Kenyataannya sekarang, Dinas Tenaga Kerja DKI dan Dewan Pengupahan DKI Jakarta telah menetapkan kenaikan UMSP hanya lima persen dari UMP 2012. Padahal kenaikan lima persen itu adalah angka di 2010. Jelas hal itu tidak sesuai dengan standard Kebutuhan Hidup Layak (KHL) saat ini," kata Bayu Murnianto, Ketua Forum Serikat Buruh Indonesia (FSBI), saat ditemui disela-sela aksi demonstrasi yang dilakukan di KBN Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (19/1).
Bayu mengatakan, sesuai Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 117 Tahun 2011 tentang Upah Minimum Provinsi Tahun 2012, ditetapkan UMP tahun ini sebesar Rp 1.529.150. Bila kenaikan UMSP hanya lima persen, maka buruh hanya akan menerima upah sebesar Rp 1.605.700. Padahal seharusnya upah sektoral buruh di KBN bisa mencapai Rp 1.834.980.
Bayu menuding, ketetapan itu dibuat bukan berdasarkan kesepakatan dengan para buruh yang bekerja di KBN Cilincing. "Kesepakatan itu dibuat oleh kelompok yang mengatasnamakan buruh di KBN, jelas saja ketetapannya mengikuti selesar pengusaha," ujarnya lagi.
Menurutnya, hari ini ada pertemuan antara Asosiasi Pengusaha Indonesia dengan Dewan Pengupahan, buruh dan Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta di Balai Kota. Dan bila hasil dari pertemuan itu, pemerintah tak juga memenuhi tuntutan buruh berupaka kenaikan UMSP sebesar lima persen, maka Bayu mengancam bahwa ribuan buruh di KBN Cilincing akan mogok kerja.Ditambahkannya, unjuk rasa kali ini adalah yang kedua kali dilaksanakan, setelah sebelumnya dilakukan pada 9 Januari 2012.
Rini 34, buruh PT Makalot menjelaskan pihaknya meminta kepada pihak pemerintah maupun dewan pengupahan untuk segera meralisasi apa yang menjadi tuntutannya.
Dalam aksi kali ini, 80 persen dari pengunjuk rasa ini mayoriitas perempuan. Para pendemo sempat menutup pintu utama KBN di Jalan Raya Cacing untuk mencegat para buruh yang akan bekerja, dan juga melakukan orasi. Akibatya Jalan Cacing menuju KBN macet total sepanjang 1,5 kilometer.
Kepala Unit Lalu-lintas Polsek Cilincing, Ajun Komisaris Iskandar mengatakan unjuk rasa digelar sejak pagi hari dan berlangsung tertib. Namun, unjuk rasa tersebut membuat kendaraan yang ingin masuk ke KBN dialihkan ke pintu ke luar yang tidak ditutup oleh pendemo.
"Untuk sementara unjuk rasa ini berlangsung aman dan tertib, karena para pengunjuk rasa juga berjalan damai," kata Iskandar, Kamis (19/1).Dan untuk mengantisipasi kemacetan, lanjut Iskandar, pihaknya mengerahkan sekitar 10 personil untuk mengamankan lalu lintas disekitar lokasi pengunjuk rasa. "Tadi pagi jalan sempat macet panjang, karena para pendemo menutup jalan di jalan Cakung Cilincing untuk mencegat para buruh yang hendak bekerja di KBN. Namun, kemacetan sudah terurai sekitar pukul 10.00, karena pengunjuk rasa sudah membuka jalan," ujarnya.
Ribuan buruh itu terlihat berkumpul dan berorasi di depan pintu masuk KBN sehingga akses menuju ke KBN menjadi terganggu. Bukan hanya itu, puluhan truk kontainer yang ingin masuk ke dalam kawasan juga terhambat sehingga harus memarkirkannya di Jalan Raya Cakung Cilincing.
Selain menutup pintu utama KBN Cilincing, para buruh juga berusaha merangsek masuk ke dalam kawasan untuk meminta rekan-rekan mereka yang masih bekerja di 98 pabrik di dalam KBN agar berhenti bekerja. Namun keinginan buruh itu sulit dilakukan, karena ratusan petugas kepolisian dari Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, dan petugas keamanan internal KBN Cilincing, berjaga di depan kawasan dengan membentuk pagar betis. Sempat terjadi aksi dorong-dorongan, antara demonstran yang ingin masuk ke dalam dengan polisi yang berjaga di depan gerbang utama KBN. Beberapa buruh perempuan sempat terjatuh dalam aksi tersebut, namun tidak ada buruh yang terluka.Akhirnya ratusan buruh ini melanjutkan aksinya ke Kantor Disnaker DKI Jakarta.
"Kenyataannya sekarang, Dinas Tenaga Kerja DKI dan Dewan Pengupahan DKI Jakarta telah menetapkan kenaikan UMSP hanya lima persen dari UMP 2012. Padahal kenaikan lima persen itu adalah angka di 2010. Jelas hal itu tidak sesuai dengan standard Kebutuhan Hidup Layak (KHL) saat ini," kata Bayu Murnianto, Ketua Forum Serikat Buruh Indonesia (FSBI), saat ditemui disela-sela aksi demonstrasi yang dilakukan di KBN Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (19/1).
Bayu mengatakan, sesuai Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 117 Tahun 2011 tentang Upah Minimum Provinsi Tahun 2012, ditetapkan UMP tahun ini sebesar Rp 1.529.150. Bila kenaikan UMSP hanya lima persen, maka buruh hanya akan menerima upah sebesar Rp 1.605.700. Padahal seharusnya upah sektoral buruh di KBN bisa mencapai Rp 1.834.980.
Bayu menuding, ketetapan itu dibuat bukan berdasarkan kesepakatan dengan para buruh yang bekerja di KBN Cilincing. "Kesepakatan itu dibuat oleh kelompok yang mengatasnamakan buruh di KBN, jelas saja ketetapannya mengikuti selesar pengusaha," ujarnya lagi.
Menurutnya, hari ini ada pertemuan antara Asosiasi Pengusaha Indonesia dengan Dewan Pengupahan, buruh dan Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta di Balai Kota. Dan bila hasil dari pertemuan itu, pemerintah tak juga memenuhi tuntutan buruh berupaka kenaikan UMSP sebesar lima persen, maka Bayu mengancam bahwa ribuan buruh di KBN Cilincing akan mogok kerja.Ditambahkannya, unjuk rasa kali ini adalah yang kedua kali dilaksanakan, setelah sebelumnya dilakukan pada 9 Januari 2012.
Rini 34, buruh PT Makalot menjelaskan pihaknya meminta kepada pihak pemerintah maupun dewan pengupahan untuk segera meralisasi apa yang menjadi tuntutannya.
Dalam aksi kali ini, 80 persen dari pengunjuk rasa ini mayoriitas perempuan. Para pendemo sempat menutup pintu utama KBN di Jalan Raya Cacing untuk mencegat para buruh yang akan bekerja, dan juga melakukan orasi. Akibatya Jalan Cacing menuju KBN macet total sepanjang 1,5 kilometer.
Kepala Unit Lalu-lintas Polsek Cilincing, Ajun Komisaris Iskandar mengatakan unjuk rasa digelar sejak pagi hari dan berlangsung tertib. Namun, unjuk rasa tersebut membuat kendaraan yang ingin masuk ke KBN dialihkan ke pintu ke luar yang tidak ditutup oleh pendemo.
"Untuk sementara unjuk rasa ini berlangsung aman dan tertib, karena para pengunjuk rasa juga berjalan damai," kata Iskandar, Kamis (19/1).Dan untuk mengantisipasi kemacetan, lanjut Iskandar, pihaknya mengerahkan sekitar 10 personil untuk mengamankan lalu lintas disekitar lokasi pengunjuk rasa. "Tadi pagi jalan sempat macet panjang, karena para pendemo menutup jalan di jalan Cakung Cilincing untuk mencegat para buruh yang hendak bekerja di KBN. Namun, kemacetan sudah terurai sekitar pukul 10.00, karena pengunjuk rasa sudah membuka jalan," ujarnya.
Ribuan buruh itu terlihat berkumpul dan berorasi di depan pintu masuk KBN sehingga akses menuju ke KBN menjadi terganggu. Bukan hanya itu, puluhan truk kontainer yang ingin masuk ke dalam kawasan juga terhambat sehingga harus memarkirkannya di Jalan Raya Cakung Cilincing.
Selain menutup pintu utama KBN Cilincing, para buruh juga berusaha merangsek masuk ke dalam kawasan untuk meminta rekan-rekan mereka yang masih bekerja di 98 pabrik di dalam KBN agar berhenti bekerja. Namun keinginan buruh itu sulit dilakukan, karena ratusan petugas kepolisian dari Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, dan petugas keamanan internal KBN Cilincing, berjaga di depan kawasan dengan membentuk pagar betis. Sempat terjadi aksi dorong-dorongan, antara demonstran yang ingin masuk ke dalam dengan polisi yang berjaga di depan gerbang utama KBN. Beberapa buruh perempuan sempat terjatuh dalam aksi tersebut, namun tidak ada buruh yang terluka.Akhirnya ratusan buruh ini melanjutkan aksinya ke Kantor Disnaker DKI Jakarta.
BURUH KEPUNG DISNAKERTRANS JAKUT
Selain ribuan buruh di KBN melakukan aksi mogok, ratusan buruh garmen PT Sainath Industri di KBN Tg Priok ini mendatangi kantor Sudin Tenaga Kerja di Jalan Plumpang-Semper. Sebanyak 800 buruh ini menuntut agar pihak Sudin segera mempasilitasi soal PHK di perusahaan tersebut kepada pekerjanya untuk diselesaikan. Pasalnya pihak perusahaan tidak bisa memenuhi tuntutan buruh lantaran perusahaan sudah tutup.
"Pihak perusahaan hanya menawarkan 50 persen dari satu kali UU ketenagakerjaan. Padahal harusnya membawar penuh dan dua kali. Bahkan mereka mau membayarkan uangnya selama 4 kali alias dicicil" kata sutra maulana kordiantor aksi buruh PT Sainath.
Menurutnya pemberian uang PHK ini tidak adil, apalagi pekerja di pabrik itu rata-rata masa bekerjanya diatas 15 tahun.Setelah dilakukan pertemuan akhirnya pihak perusahaan akan melakukan pertemuan di perusahaannya besok. Aksi berjalan damai, para buruh bubar dengan tertib.

