Semper Barat- Keberadaan pasar Embrio di Jalan Tipar Timur Raya RW 4 Semper Barat kondisinya kian memprihatinkan,terlantar dan tidak terawat. Banyak para pedagangnya kembali ke jalan dan membuka lapak baru di Rusun Semper Barat. Dan hanya beberapa pedagang yang masih bertahan sementara kios yang kosong jadi tempat tinggal.
" Sudah lama pasar ini kosong pak! pedagangnya banyak hengkang ke tempat lama dan Rusun. Mungkin disini.sepi pembelinya" kata Yanto salah seorang penghuni di Pasar Embrio.
Sementara itu, Yuni Warga RW 4 Semper Barat menuturkan saat pasar ini didirikan memang banyak pedagangnya. Namun sekarang sudah tidak ada. Ironisnya lagi pasar itu terkadang di pakai sama anak- anak muda untuk nongkrong bahkan mabuk-mabukan. Warga meminta jika tidak difungsikan jadi pasar dirubah saja jadi.taman atau sarana umum. Supaya tidak dijadikan tempat yang tidak baik."Lihat saja kalau malam hari itu pasar jadi tempat kumpul anak-anak muda untuk mabuk-mabukan" tuturnya.
Koordinator Lapangan Lokbin Semperbarat, Aswin mengatakan, sepinya
pedagang yang berjualan di lokbin lantaran pembeli yang semakin sedikit,
sehingga barang dagangan banyak yang tidak laku. "Pedagang banyak yang
bubar karena pembelinya tidak ada. Mereka (pembeli) lebih memilih
belanja pada pedagang kaki lima (PKL) di rumah susun (Rusun) Asrama DKI
Jakarta, dan Kampung Kandang di sekitar sini dan juga di Pasar
Sukapura," ujar Aswin, Kamis (14/3).
Lokbin yang dibangun sejak tahun 1989 ini, sambung Aswin, awalnya ramai pedagang dan pembeli, bahkan pada tahun 1990 terdapat 192 kios yang berjualan. Namun, pada tahun 1992 pedagang mulai pindah lantaran sepi pembeli. Terlebih, saat lokbin ini direnovasi tahun 1995 dan 1996, hampir semua pedagang direlokasi ke Pasar Sukapura dan Rusun Asrama DKI. "Sebenarnya pedagang di Sukapura maupun di Rusun Asrama DKI dari Lokbin ini, karena direnovasi mereka pindah ke sana. Tapi, setelah direnovasi tidak balik lagi ke sini. Sekarang hanya ada 6 kios yang terisi pedagang. Keenam kios ini terdiri dari, 4 pedagang kelontong, dan 2 pedagang sayuran," katanya.
Aswin berharap, pemerintah bisa memperbaiki lokbin ini agar bangunan maupun kiosnya menjadi aman dan nyaman, sehingga pedagang maupun pembeli kembali bergairah. "Saya juga berharap pedagang yang berjualan di Rusun Asrama DKI dan Kampung Kandang bisa ditertibkan. Bahkan, mereka direlokasi kembali berjualan di lokbin ini agar ramai lagi," harapnya.
Lokbin yang dibangun sejak tahun 1989 ini, sambung Aswin, awalnya ramai pedagang dan pembeli, bahkan pada tahun 1990 terdapat 192 kios yang berjualan. Namun, pada tahun 1992 pedagang mulai pindah lantaran sepi pembeli. Terlebih, saat lokbin ini direnovasi tahun 1995 dan 1996, hampir semua pedagang direlokasi ke Pasar Sukapura dan Rusun Asrama DKI. "Sebenarnya pedagang di Sukapura maupun di Rusun Asrama DKI dari Lokbin ini, karena direnovasi mereka pindah ke sana. Tapi, setelah direnovasi tidak balik lagi ke sini. Sekarang hanya ada 6 kios yang terisi pedagang. Keenam kios ini terdiri dari, 4 pedagang kelontong, dan 2 pedagang sayuran," katanya.
Aswin berharap, pemerintah bisa memperbaiki lokbin ini agar bangunan maupun kiosnya menjadi aman dan nyaman, sehingga pedagang maupun pembeli kembali bergairah. "Saya juga berharap pedagang yang berjualan di Rusun Asrama DKI dan Kampung Kandang bisa ditertibkan. Bahkan, mereka direlokasi kembali berjualan di lokbin ini agar ramai lagi," harapnya.
Sementara itu, Almon Kasudin UMKM dan Perindustrian Jakarta Utara berjanji akan segera melakukan pengecekan apakah lahan pasar itu milik instansinya atau tidak. Tetapi jika tidak di urus maka pihaknya akan memfungsikan. Mengingat saat ini Pemda DKI Jakarta sedang mencari lahan untuk pasar tradisional.
