Pemerintahan    Pendidikan    Kesehatan    Pariwisata    Perhubungan    Pelabuhan    Dukcapil    Damkar    PU Jalan    PU Air    LMK    KBN    PKK    BPN    PMS    P2B    Tokoh   

PEJAGALAN DULU DAN KINI


Pejagalan - Kelurahan Pejagalan yang berada di salah satu kelurahan di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara dewasa ini sudah berangkat maju. Masyarakat Kelurahan Pejagalan yang mayoritas keturunan itu bisa mengubah citra buruk nama pejagalan yang sering diidentikan sebagai tempat pembantaian kini sebagai kawasan yang aman dan tertib. Bahkan di Kali yang membatasi wilayah Kelurahan Pejagalan dengan Kelurahan Kapuk Muara sedang diprogramkan sebagai kawasan unggulan transportasi laut.

 “Ini sungguh beda dengan saat Pejagalan disebut kawasan pengujian yang sungguh mengerikan,” ungkap Uca Aryusa (68) sesepuh Pejagalan kepada reporter jakartautara.com dirumahnya kemarin.
Kalau ada yang mengartikan Pejagalan sebagai tempat penyembelihan hewan memang ada benarnya. Sebab dulunya di Pejagalan memang ada pemotongan hewan tepatnya di Bandengan. Namun konon cerita orang-orang tua dulu kata Djamit (60) juga sesepuh Pejagalan kepada jakartautara.com, mengaku sebelum disebut Pejagalan, tadinya kawasan itu diberi nama jagal yang dalam kamus bahasa berarti pembantaian, pemotongan (leher) dan pembunuhan. Namun lama kelamaan diberi imbuhan pe dan an yang hingga kini menjadi Pejagalan.

 Kedua tokoh Pejagalan itu sendiri membenarkan kalau kawasan Pejagalan sekarang lebih angker dari namanya. Kalau dulu di Pejagalan dikenal dengan nama kawasan Teluk Gong. Dan hampir semua orang yang mengenal daerah Teluk Gong (sekarang pejagalan red) akan merinding bola kuduknya bila melintasi kawasan itu tempoe doeloe. Karena ada cerita yang sangat menakutkan sehingga dikawasan itu disebut daerah pengujian.

 Ceritanya begini, kata Uca, setiap orang yang melintasi atau main ke Teluk Gong dipastikan akan menderita sakit seperti demam dan lain-lain. Konon, dulunya sebelum tahun 1960-an di Pejagalan hanya berupa rawa dan kuburan. Kuburan itu yang terkenal disebut kuburan Kampung Gusti. Konon disana ada beberapa keturuan Bugis yang menetap disana dan memiliki kesaktian yang luar biasa. Di kawasan itu pun ada orang sakti yang sering menguji mereka yang melintasi kawasan tersebut. Diantaranya dengan kesaktiannya orang yang melintas akan bertemu macan tutul atau makhluk jejadian lainnya sehingga sekembalinya dari Teluk Gong akan menderita sakit. ”Setiap orang lewat Teluk Gong pulang ke rumahnya akan sakit. Karena itulah disebut daerah pengujian,” ungkap Uca yang menetap di kawasan itu sejak tahun 1960 pada masa Gubernur Sumarno dan presidennya masih Bung Karno.

 Ikwal nama Teluk Gong, ungkap Uca yang kini menjabat RW 12 di Pejagalan, konon dulunya setiap hari jumat sekitar pukul 12.00 WIB terdengar suara gong. Bunyi gong yang didengar hamper ke pelosok kampong di Teluk Gong itu tidak diketahui wujud gongnya.”Gong itu tidak kelihatan mata manusia, hanya ada suara yang terdengar beberapa menit lalu menghilang,” ungkap Uca seraya menjelaskan kawasan Teluk Gong ketika itu dekat laut sehingga disebut teluk. Karena dekat teluk dan sering terdengar gong maka disebut Teluk Gong.

Kantor Kelurahan Pejagalan sendiri tadinya berada di wilayah Jalan Pengukiran Asemka Kota, Jakarta Barat. Namun dalam perkembangannya kantor kelurahan Pejagalan berpindah sedikitnya empat kali. Ketika masih di Jalan Pengukiran lurah pertamanya berbnama Arsali (alm) dan kini pindah di Jalan Boncel dengan lurah terakhir Mat Nasir. Sebelum pindah ke Jalan Boncel, kantor Kelurahan Pejagalan juga sempat di Jalan Bandengan Terusan dan di Jalan Teluk Gong Raya.

“Pada tahun 1960-an saat saya pertama datang kesini di Teluk Gong jalan raya yang diaspal belum ada, masih berupa tanah dan jumlah RW pun baru tiga,” ungkap Uca mengenang masa lalunya tentang Pejagalan yang kini sudah berkembang memiliki 18 RW dengan 232 RT.  Ia juga mengakui pernah diuji saat pertama melangkahkan kaki di Teluk Gong. Ketika itu melintasi di dekat kuburan melihat ada orang menggotong mayit setelah didekati ternyata menghilang.”Dari orang-orang tua dulu saya mendapat tahu kalau yang saya lihat yang digotong itu bukan mayit tetapi harta karun,” ungkap Uca yang di tengah masyarakat kini mendapat julukan Lurah Teluk Gong karena sesepuh di kawasan tesebut. Julukan lurah Teluk Gong itu dimulai pada tahun 1980 ketika Lurah Pejagalan dijabat Kustiyar. Karena tahu benar tentang sejarah Pejagalan oleh lurah Kustiyar ia dijuluki lurah Teluk Gong tanpa SK.”Sampai sekarang orang menjuluki saya lurah Teluk Gong,” ungkap Uca lagi.


Memang ia tak bisa memungkiri kalau dulunya Teluk Gong rawan kejahatan. Bahkan ada yang menyebutkan tempat jagal orang.”Meski saya belum bisa memastikan demikian hanya kata orang saja,” jelas Uca yang mengakui sempat juga memergoki munculnya macan tutul ketika masih ada kuburan Kampung Gusti. Jamit, sesepuh Pejagalan juga membenarkan tahun 1960-an ia yang baru tinggal di Setia Budi Pejagalan sangat takut keluar rumah.”Jam enam sore saja keadaannya sudah sepi dan menakutkan, banyak rampok dan begal,” ungkap Jamit tidak membantah kalau ada yang memplesetkan orang orang yang mencari ikan di Penjaringan sering dijagal di daerah Pejagalan.

Namun sejalan dengan munculnya perumahan dan pertokoan serta hilangnya kuburan Kampung Gusti, kawasan Pejagalan relative aman. Sebagaimana dikatakan Lurah Pejagalan Matnasir kepada Jakartautara.com di Pejagalan sekarang ini masyarakatnya aman.”Meski terdiri dari banyak suku tapi keamanan dan ketertiban sangat membanggakan disini,” jelas Lurah. Hal ini dibenarkan Uca yang sampai kini menjabat Ketua RW 12 di Pejagalan menyatakan dirinya pernah meraih juara lomba desa, lomba kebersihan, taman, olahraga dan lain-lain.”Pernah setahun saya dapat 41 piala lomba,” ungkap Uca memastikan Pejagalan sekarang sudah berubah dibandingkan dulu. Pejagalan kini lebih aman dan tertib. Tidak ada lagi makhluk jejadian yang mengerikan sebagaimana munculnya istilah pengujian bagi pendatang ke tempat itu tempoe doeloe. (rep Hadi Riawan)



Berita Media Online Jakarta Utara dari hal : http://www.jakartautara.com/article.php?storyid=1093

Marunda, Jejak Sejarah yang Tersisa


Marunda, pada siang hari nampak biasa-biasa saja hanya di balut dari sinar langit yang cerah. Matahari terlihat mulai sedikit tergelincir ke barat. Sudut yang terbentuk akibat kemiringannya itu membuat sang surya tak begitu terasa menyengat. Daya bakarnya jinak oleh angin yang bertiup pelan dari pantai.

Di pojok kampung, di sudut timur lahan terbuka, seorang laki-laki duduk menyandari pohon kelapa. Sepertinya tak kuasa menahan kantuk. Di depannya, belasan ekor kambing merumput tak peduli. Sementara di arah barat, 200 meter dari tempat laki-laki itu tertidur, empat bocah telanjang dada asyik mengubek-ubek empang. Mereka tak kehilangan keceriaan meski sebenarnya air tinggal tersisa sedikit. Berbekal kantong plastik, anak-anak itu berebutan menangkap ikan-ikan kecil sejenis mujair.
Sesekali, teriak girang bocah-bocah memecah kesunyian. Kambing yang mengembik menimpali tawa mereka. Begitu suara-suara sesaat itu lenyap di telan udara terbuka, tinggallah alunan shalawat dalam sayup-sayup pengeras suara. Terdengar khudus.
Percayakah anda bahwa susana khas alam pedesaan itu, ya di Kelurahan Marunda, hanya berjarak 20 kilometer saja dari jantung Jakarta! Alias, tak lebih satu jam perjalanan dari kawasan Sudirman yang menjadi etalese ibu-kota-bahkan bagia sebagian orang mengingatkan pada kawasan Manhattan.
Bukankah ini unik: ketika pria diatas tengah menikmati kantuk siangnya di bawah pohon. Pada saat yang sama seorang pialang mungkin lagi tegang menyimak pergerakan indeks saham di lantai bursa-di sudut Jakarta yang lain. Masih tidak jauh dari sana, serombongan demonstran barangkali tengah menegangkan urat leher di depan Istana Merdeka memprotes kenaikan berbagai tarif. Dan, pria itu tengah terkantuk di hela semilir angin lautan...
Kawasan Marunda bagai tengah menggengam sejarah ditengah gebalau Jakarta yang kini telah menjadi megapolitan. Marunda seperti hanya melangkah sejengkal demi sejengkal, sementara sudut Jakarta lain telah melesat ke dalam jaringan cyber nir-batas. Inilah potret kawasan yang menyisakan jejak-jejak masa lalu Batavia, tetapi seperti tak ada lagi yang sudi mempedulikannya saat ini.
Terletak di ujung Timur kawasan Jakarta Utara, Marunda berbatasan langsung dengan Kabupaten Bekasi. Pesisir yang akrab dengan jilatan air laut dari Teluk Jakarta ini menyimpan sejarah panjang perjuangan masyarakat Betawi menentang penjajahan, hingga terbentuknya kota Jakarta.
Ada banyak versi mengenai asal-usul nama Marunda. Salah satu versis disebutkan dalam Historical sites of Jakarta (A. Heuken SJ/2000), Marunda berasal dari nama seorang jawara setempat, yakni Si Ronda. Inilah jago silat yang dalam kepercayaan masyarakat Betawi memiliki sifat budiman: pembela rakyat yang ditindas oleh para tuan tanah. Namun, dalam buku yang sama disebutkan bahwa versi diatas boleh jadi meleset. Sebab, nama Marunda sudah dikenal sejak abad 17, jauh sebelum legenda Ronda diatas dikenal.
Sementara itu Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta memcatat data, nama Marunda berasal dari kata Merendah. Hal itu merujuk dari sikap warga setempat yang dalam tata pergaulan sosial memiliki sifat rendah hati terhadap sesama. Kemudian kata itu berubah menjadi Marunda.
Apapun, Marunda juga menyimpan kisah heroisme yang merujuk pada nama-nama legendaris bagi warga setempat, seperti, Si Pitung , Si Mirah, dan lain-lain. Pada nama-nama itulah warga setempat menyandarkan kebanggaannya, bahwa leluhur mereka pernah menyumbangkan arti bagi perjalanan bangsa ini. Bahwa kepingan sejarah Marunda cukup berarti banyak bagi Jakarta yang kini telah melesat sedemikian rupa.
Meski tak sehijau daerah pegunungan, alam Marunda kini masih menebarkan hawa segar. Maklum, Marunda belum begitu kenal dengan pekatnya asap pabrik atau asap knalpot bus rombengan yang tiap hari berseliweran di Jakarta.
Kemacetan lalulintas juga menjadi barang asing di Marunda. Jalan hitam beraspal kini memang telah membelah Marunda hingga ke ujungnya. Namun, sampai saat ini, baru ada satu jenis angkutan yang bisa menghubungkan Marunda ke Cilincing, Jakarta Utara. Mobil kecil yang lebih dikenal KWK (Koperasi Wahana Kalpika) itu pun jumlahnya masih jarang. Jarak waktu satu mobil ke mobil lainnya biasanya mencapai 15 sampai 20 menit.
Beberapa sudut kelurahan Marunda bahkan belum bisa dimasuki kendaraan beroda empat. Kondisi sebagian kampung yang berwujud empang-empang, menyulitkan akses transportasi ke sana. Marunda Pulo, misalnya, hanya bisa dimasuki ojek sepeda motor yang pangkalannya ada di Cilincing-sekitar 3,5 kilo meter dari Marunda. Itu pun, sepeda motornya harus menyeberang lewat jembatan gantung kali Blencong yang memisahkan Marunda Pulo dengan tetangganya.
Absennya sarana transportasi modern di Marunda Pulo ini memang ironis. Soalnya, di kampung itulah sejumlah peninggalan sejarah Jakarta masih tersisa. Di sana, ada mesjid Al-Alam peninggalan Fatahillah dan rumah Si Pitung-Robinhood Betawi yang melegenda di kalangan warga asli Jakarta.
Corak kehidupan pedesaan yang masih menonjol di Marunda juga tampak pada pola pergaulan hidup yang masih sangat akrab. Kehidupan sesama tetangga tidak jarang masih diwarnai hubungan saling kenal secara pribadi. Tidak jarang, di sesama tetangga masih ada ikatan darah atau silsilah kekerabatan. Di samping itu, warga Marunda pun masih punya banyak kesempatan untuk berinteraksi. Pengajian rutinan, misalnya, biasanya sekaligus menjadi ajang untuk bercengkrama.
Derap pembangunan bukan tak menyentuh Marunda. Sejak awal tahun 1980-an, masalnya, di bagian wilayah barat Marunda telah dibangun kawasan industri raksasa: Kawasan Berikat Nusantara (KBN). Akibatnya, satu RW, dua RT, dan kantor kelurahan terpaksa dipindahkan ke Marunda Baru.
Perkampungan warga "tergusur" di Marunda Baru kini sudah ditata rapi, mirip kompleks perumahan di perkotaan. Selain lorong-lorong kampung yang beraspal, Marunda Baru juga sudah dilengkapi sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial. Di sana, kini ada alun-alun kelurahan yang bisa dipakai lapangan bola dan sekolah menengah atas.
Simbol pembangunan lainnya, di Marunda kini sudah berdiri dua sekolah tinggi di bidang pelayaran. Salah satunya, Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), merupakan reinkarnasi dari Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) yang dulunya ada di Jalan Gunung Sahari.
Namun, kehadiran simbol-simbol "kota" itu tak langsung menyulap kehidupan warga Marunda. Dengan penduduk sekitar 13 ribu jiwa, perubahan status sosial di Marunda masih berlangsung sangat lamban. Ini jika komposisi penduduk menurut jenis pekerjaan bisa menjadi ukuran.
Data terakhir, dari sekitar tujuh ribu penduduk usia produktif di Marunda, sekitar 55 persennya bekerja di sektor tani dan nelayan. Jika dibandingkan dengan komposisi mata pencaharian warga Jakarta secara keseluruhan, data ini sangat menusuk mata. Maklum, di tahun 2002, warga Jakarta yang bekerja di sektor pertanian tidak lebih dari 0,9 persen.
Jika ditarik ke belakang, sebagian besar warga Marunda memang bekerja sebagai nelayan tradisional. Penuturan Yahya, 72 tahun, memberi gambaran tradisi sebagaian besar warga Marunda tempo dulu. Berbekal alat sero, pancing, atau jaring, kata Yahya, warga Marunda menghidupi sanak famili dengan menangkap ikan di laut. Turun di pagi buta, sekitar pukul 04.00, mereka baru naik ke darat ketika hari menjelang siang, sekitar pukul 10.00.
Tapi, lain dulu lain sekarang. Pekerjaan sebagai nelayan, kata Yahya, tak begitu lagi diminati warga asli Marunda. Pasalnya, penghasilan sebagai nelayan tak begitu menjanjikan. "Kini, nangkap ikan sulitnya setengah mati. Dulu, orang sini bisa naik haji dengan berbekal sero. Tak perlu jual tanah segala," kata Yahya mengenang masa lalunya.
Yahya sendiri sudah lama berhenti sebagai nelayan. Ia pun tak berniat mewariskan pekerjaan itu kepada anak cucunya. Kecuali, atas kemauan mereka sendiri. Buktinya, dari tiga anak dan empat menantu lelakinya, kini hanya satu yang masih suka melaut. "Itu pun, pendapatannya kagak bisa diarep-arep," ujar Yahya dengan logat Betawi yang sangat kental.
Kini, memang masih ada ratusan warga Marunda yang bekerja sebagai nelayan. Namun, menurut penuturan sejumlah warga, nelayan yang masih tersisa itu umunya bukan penduduk Marunda asli. Mereka adalah pendatang dari berbagai daerah, seperti Bugis, Jawa, dan Madura.
Dalam mencari kerja, generasi muda Marunda kini lebih berorientasi ke darat. Namun, karena terbentur rendahnya pendidikan, generasi muda Marunda umumnya hanya terserap di tingkat pekerja kasar. Petani tambak, buruh pabrik, atau tukang ojek menjadi ajang profesi mereka.
Farhan, 27 tahun, misalnya, sejak kecil tak pernah bermimpi jadi nelayan. Pemuda tamatan SMA program sosial itu lebih bercita-cita menjadi pegawai negeri atau pegawai kantoran.
Namun, mencari pekerjaan di daratan ternyata bukan hal gampangan. Sehingga, dua tahun lalu, Farhan nekat menjadi buruh di salah satu pabrik pengolahan kayu. Itu pun hanya bertahan satu setengah tahun. Sejak enam bulan silam, Farhan memilih keluar alias menganggur. "Saya kan masih muda. Kalau ada, saya mau alih profesi lah," ujarnya polos. Farhan seolah ingin menyuarakan aspirasi pemuda Marunda lainnya: ogah turun ke laut, tapi masih bingung harus pergi ke mana. (lintass)



Berita Media Online Jakarta Utara dari hal : http://www.jakartautara.com/article.php?storyid=8058

Cikal Bakal Wilayah Tugu


Kawasan Tugu dewasa ini dibagi menjadi dua kelurahan, yaitu Kelurahan Tugu Selatan dan Tugu Utara, termasuk wilayah Kecamatan Koja, Kota Administrasi Jakarta Utara.



Tugu berupa prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara diperkirakan dibuat pada abad kelima Masehi, ditemukan dikampung Batu Tumbuh, dijadikan sebutan bagi kawasan tersebut. Prasasti tersebut memberitakan tentang dibuatnya saluran air sepanjang 6122 busur, atau kurang lebih 11 Kilometer, dalam waktu 21 Hari. Hal itu membuktikan bahwa 16 abad yang lalu saluran air di pantai utara kawasan Jakarta dan sekitarnya sudah diperlukan, untuk mengatur pengairan, baik untuk penanggulangan bahaya banjir atau pun untuk pertanian.
Tugu mulai disebut – sebut pada tahun 1661 yaitu tahun ditempatkannya 23 orang Kristen asal Benggala dan Koromandel. Lima belas tahun kemudian. Jumlahnya meningkat menjadi 40 atau 50 keluarga dan ditempatkan seorang guru di sana. Setengah abad kemudian, 1735, dibangunlah sebuah gereja dari tembok, yang pada tahun 1740 dibakar oleh orang – orang Cina yang memberontak. Pada tahun 1744 dibangun lagi gereja baru atas biaya seorang pejabat VOC Justinus Vinck.
Prasastinya sendiri, yang berbentuk bulat hampir menyerupai kerucut, sehingga baris – baris hurufnya dituliskan melingkar, sebanyak 5 baris berhuruf Palawa, dewasa ini disimpan  di Museum Nasional Replikanya dapat disaksikan di Museum Sejarah Jakarta, di Taman Fatahillah. (juc)



Berita Media Online Jakarta Utara dari hal : http://www.jakartautara.com/article.php?storyid=8071

Sampur


Pantai Sampur termasuk obyek wisata atau tempat melancong masa lalu yang terletak dipinggir pantai. Nama ini berasal dari kata yang diberikan oleh orang Belanda untuk tempat peristirahatan dipinggir pantai zandpoort. Sedangkan masyarakat pribumi menggunakan istilah Sampur. Untuk masa sekarang Sampur hampir hilang dari peta kota Jakarta karena pantai ini telah dikembangkan untuk perluasan pelabuhan peti kemas Tanjung Priok.

Pantai Sampur disukai oleh noni noni dan sinyo sinyo (sebutan untuk muda mudi orang Belanda). Begitu  juga dengan masyarakat pribumi, banyak yang berkunjung ke pantai sampur ini. Sebelum pantai Ancol dikembangkan sebagai obyek wisata pantai yang disebut dengan Pantai Bina Ria Ancol, pantai sampur merupakan obyek wisata pilihan utama diteluk Jakarta.



Berita Media Online Jakarta Utara dari hal : http://www.jakartautara.com/article.php?storyid=8070

Marunda


Kawasan Marunda sekarang menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Kota Administrasi Jakarta Utara. Namanya diambil dari nama sungai yang mengalir di situ yaitu Kali Marunda.

Marunda adalah sebutan setempat bagi semacam pohon mangga yang aroma buahnya wangi menyengat, biasa disebut lembem atau kebembem. Nama ilmiahnya: Mangifera Laurina BI (Fillet 1888:210).
Nama kawasan itu mulai disebut sebut pada pertengahan di tepi sebelah barat Kali Marunda. Kubu tersebut pada tahun 1664 dipindahkan ke tepi sebelah barat Kali Bekasi, dikenal dengan sebutan Wagt Barangcassi. Dengan keputusan pimpinan VOC di Batavia tanggal 19 September 1747, ditetapkan bahwa di Marunda dibangun lagi kubu pertahanan  yang pengurusannya diserahkan kepada Justinus Vinck, Tuan tanah yang antara lain memiliki Pasar Senen, yang sangat berkepentingan untuk menjaga rumah peristirahatannya (Landhuis Cilincing) berikut tanah tanah di sekitarnya. (De Haan 1911, (II):408).



Berita Media Online Jakarta Utara dari hal : http://www.jakartautara.com/article.php?storyid=8066

Asul Usul Nama Pluit


Kawasan Pluit yang kini dikenal dengan perumahan mewahnya itu merupakan sebuah kelurahan, Kelurahan Pluit, termasuk wilayah Kecamatan Penjaringan, Kota administrasi Jakarta Utara.

Menurut peta yang diterbitkan  oleh Topographisch Bureau Batavia, 1903, lembar H II dan III, demikian pula pada peta Plattegrond van  Batavia, yang dibuat oleh Biro Arsitek di Batavia sekitar tahun 1935, sebutan bagi kawasan itu adalah Fluit, lengkapnya Fluit Muarabaru. Menurut kamus Belanda – Indonesia (Wojowasito, 1978:196), fluit berarti:
1. “suling”; 2. “bunyi suling”; 3. “roti panjang – sempit “.
Rupanya nama kawasan itu tidak ada hubungannya dengan suling, atau pluit semacam pluit wasit sepakbola, atau pluit polisi lalu – lintas. Demikian pula dengan roti panjang – sempit. Ternyata nama kawasan tersebut berasal dari kata fluit, yang lengkapnya: fluitschip, yang berarti “kapal (layar) panjang berlunas ramping”, seperti yang dijelaskan dalam verklarend Handwoordenboek der Nederlandse Taal (Koenoen – Endepols, 1948:281).
Sekitar tahun 1660 di pantai sebelah timur muara. Kali Angke diletakan sebuah fluitschip, bernama Het Witte Paert, yang sudah tidak laik laut, dijadikan kubu pertahanan untuk membantu Benteng Vijhoek yang terletak di pinggir Kali Grogol, sebelah timur Kali Angke, dalam rangka menanggulangi serangan  serangan sporadis yang dilakukan oleh pasukan bersenjata Kesultanan Banten. Kubu tersebut kemudian dikenal dengan sebutan De Fluit (De Haan 1935:104).
Sebutan Fluit yang berubah menjadi Pluit, ternyata berlanjut sampai dewasa ini, mengingatkan kita pada suasana sekitar pertengahan abad ke-17. (juc)



Berita Media Online Jakarta Utara dari hal : http://www.jakartautara.com/article.php?storyid=8068

Dibalik Nama Pluit


Kawasan Pluit yang kini dikenal dengan areal perumahan mewahnya itu merupakan sebuah nama kelurahan yakni Kelurahan Pluit dimana termasuk kedalam wilayah Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Pemukiman elite yang dihuni oleh berbagai macam ethnis menghiasai kawasan Pluit. Kendati beragam ethnis namun kekompakannya untuk bersama-sama memajukan wilayah Jakarta Utara cukup mengesankan.

Menurut peta yang diterbitkan oleh Topographisch Bureau Batavia, 1903, lembar H II dan III, demikian pula pada peta Plattegrond van Batavia, yang dibuat oleh Biro Arsitek di Batavia sekitar tahun 1935, sebutan bagi kawasan itu adalah Fluit, lengkapnya Fluit Muarabaru. Menurut kamus Belanda – Indonesia (Wojowasito, 1978:196), fluit berarti:
1. “suling”; 2. “bunyi suling”; 3. “roti panjang – sempit “.
Rupanya nama kawasan itu tidak ada hubungannya dengan suling, atau pluit semacam pluit wasit sepakbola, atau pluit polisi lalu – lintas. Demikian pula dengan roti panjang – sempit. Ternyata nama kawasan tersebut berasal dari kata fluit, yang lengkapnya: fluitschip, yang berarti “kapal (layar) panjang berlunas ramping”, seperti yang dijelaskan dalam verklarend Handwoordenboek der Nederlandse Taal (Koenoen – Endepols, 1948:281).
Sekitar tahun 1660 di pantai sebelah timur muara. Kali Angke diletakan sebuah fluitschip, bernama Het Witte Paert, yang sudah tidak laik laut, dijadikan kubu pertahanan untuk membantu Benteng Vijhoek yang terletak di pinggir Kali Grogol, sebelah timur Kali Angke, dalam rangka menanggulangi serangan serangan sporadis yang dilakukan oleh pasukan bersenjata Kesultanan Banten.
Kubu tersebut kemudian dikenal dengan sebutan De Fluit (De Haan 1935:104). Sebutan Fluit yang berubah menjadi Pluit, ternyata berlanjut sampai dewasa ini, mengingatkan kita pada suasana sekitar pertengahan abad ke-17. (hatakehafiz)



Berita Media Online Jakarta Utara dari hal : http://www.jakartautara.com/article.php?storyid=10415

Sejarah Kampung Tugu


Pada tahun 1641, VOC atawa Kompeni berhasil menaklukkan Malaka, kota dagang Portugis di Malaysia, yang kala itu merupakan saingan utama Batavia. Salah satu benda peninggalan Portugis yang diboyong Belanda dari Malaka adalah 'meriam si jagur' -- kini disimpan di Musium Sejarah DKI Jakarta, setelah selama 200 tahun pernah dikekramatkan.

Dan, sebagai lazimnya mereka yang kalah perang kala itu, maka VOC pun memboyong tawanan perang ke Batavia. Terdiri dari orang-orang Portugis dan dan orang dari daerah yang diduduki Portugis kala itu, seperti Goa, Malabar, dan Coramandel. Konon, nama Jl Roa Malaka di Jakarta Barat berasal dari mereka.

Di Batavia, setelah mengganti agamanya dari Katolik jadi Protestan, mereka dibebaskan dari budak menjadi mardika atau mardijkers. Sampai akhir abad ke-19, agama Katolik dilarang di Indonesia. Tawanan Portugis dari Malaka yang tidak setuju pindah agama dari Katolik ke Protestan ditempatkan di Flores, Nusatenggara Timur.

Agama Katolik baru dibolehkan di zaman Daendels (1808), ketika Belanda ditaklukkan Prancis. Di Tugu sendiri kemudian terjadilah perkawinan-perkawinan terutama dengan suku-suku yang beragama Kristen. Seperti orang Banda, yang di Batavia diberi tempat sendiri, yakni Kampung Banda(n). Pada tahun 1661 gereja di Batavia dengan persetujuan VOC memindahkan sebanyak 23 KK (150 jiwa) yang diberi nama 'Mustisa' (Mestiezen) yang berarti campuran.

Mereka diberi tempat 20 km sebelah tenggara Batavia, yaitu Kampung Toegoe (Tugu sekarang ini). Nama Tugu berarti paal, batas (grenspaal). Ada juga yang mengartikannya batu persinggahan atau dari kata Portuguese. Yang jelas sampai saat ini Kampung Tugu merupakan kampung Kristen tertua di Indonesia bagian Barat dengan segi-segi sejarahnya tersendiri.

Sejak 1661, yakni sejak mendiami Kampung Tugu, mereka disebut orang Tugu. Tapi oleh Muslim sekitarnya mereka disebut 'orang serani' berasal dari kata Nasrani. Orang Tugu merupakan keluarga besar, karena perkawinan-perkawinan yang terjadi setelah mereka berada di tempat baru itu. Dalam kehidupan sehari-hari mereka bertani, berburu babi yang dibuat dendeng asin, yang dikenal dengan nama 'dendeng Tugu'. Mereka juga menangkap ikan di kali Tugu (kali Cakung) atau di laut. Hasilnya untuk keperluan sendiri.

Kesibukan lain tidak banyak terdapat karena kehidupan di Tugu untuk beberapa ratus tahun adalah semacam natuurleven (kehidupan alam bebas), tanpa pengaruh luar lainnya. Pada waktu-waktu luang seniman (penggemar seni keroncong) membuat keroncong untuk hiburan sendiri. Umumnya pada malam hari anak-anak muda (sampai sekarang) berkumpul dengan bergantian tempat, untuk membuat keramaian sendiri: seni musik keroncong atau rabu-rabu. Kini, keroncong yang berasal dari Portugis dan telah berusia lebih 350 tahun itu telah meluas di berbagai tempat di tanah air.

Bahasa sehari-hari mereka, yaitu dialek Portugis Tugu, dapat mereka pertahankan sampai tahun 1935. Kini sudah tidak banyak lagi dipergunakan, karena orang-orang tua sudah meninggal dunia. Di samping itu sejarah dendeng tugu juga dikuatirkan akan lenyap. Karena daerah tempat berburu kini sudah lenyap dan sangat jauh seperti Cabang Bungin dan Cabang Empat. Apalalgi ketika tentara Jepang masuk (1942), senapan mereka dirampas.

Beberapa kata Indonesia yang berasal dari bahasa Portugis cukup banyak. Seperti bangku (dari kata benco), jendela (janela), meja (mesa), sepatu (sapatu), gardu (garda), keju (aquijo), bendera (bandaera), dan topi (capyo). Seperti dikemukakan oleh Samuel Quito (65), salah seorang tokoh Masyarakat Tugu, ketika mereka dipindahkan ke desa ini, Tugu masih berupa rawa-rawa dan sarang nyamuk malaria. Oleh pemerintah kolonial mereka sengaja diisolir agar 'mati pelan-pelan'. Tapi karena fisik orang Tugu kuat-kuat mereka dapat bertahan di tempat yang mematikan itu.

Sejak 1661 -- mulai dari tibanya di Tugu -- mereka dilayani oleh jamaat Portugis di Batavia. Khotbahnya dengan bahasa Portugis. Baru pada 1678, Ds Melchior Leydecker membangun sebuah gereja dari kayu, yang juga berfunfsi sebagai sekolah. Kala itu merupakan gereja dan sekolah pertama di Batavia. Ds Melchior yang dikenal sebagai pendiri Kampung Tugu adalah seorang ahli obat-obatan. Ia tinggal di Tugu dan dari sinilah ia menerjemahkan kitsn injil dari bahasa Belanda ke Melayu. Pekerjaan ini belum selesai, dan ia keburu dipanggil Tuhan pada 16 Maret 1701, dan dimakamkan di Kampung Tugu. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Ds Petrus Van de Vorm, dan selesai tahun itu juga.

Pada tahun yang sama pendeta bangsa Portugis menyalin kitab injil dari bahasa Yunani ke bahasa Portugis. Juga di kampung Tugu, DS Amelda Pareira, yang semasa hidupnya seorang Katolik yang patuh, kemudian pada umur sekitar 14 tahun ia turut dengan seorang pendeta Belanda ke Batavia. Sejak usia remaja itu dia dididik menjadi pendeta untuk jemaat Portugis di Jakarta. (mm/puser)


Pengirim / Sumber : muchrojimahmad.blogspot.com



Berita Media Online Jakarta Utara dari hal : http://www.jakartautara.com/article.php?storyid=8428

Tanjung Priok Berasal dari Alat Penanak Nasi


Menarik mengungkap asal muasal nama tempat di Jakarta yang hingga kini masih menjadi misteri. Apalagi belum semua orang mengetahui latar belakang nama suatu tempat di ibu kota yang penuh sejarah itu. Siapa yang tak kenal kawasan Tanjungpriok, Jakarta Utara.

Wilayah paling utara Jakarta ini seperti tak pernah tidur dengan kesibukan pelabuhannya. Ada satu yang membekas kenapa kawasan tersebut dinamakan Tanjungpriok, yaitu keberadaan makam Mbah Priok di kawasan Terminal Peti Kemas (TPK) Koja.

Warga sekitar juga mempercayai bahwa nama Tanjungpriok berasal dari alat penanak nasi atau priok.Cerita Tanjungpriok sarat dengan perlawanan masa penjajahan Belanda. Kompeni yang menguasai hampir seluruh nusantara seperti tak terbendung dengan perlawanan senjata.

Tak ingin budaya timur yang sopan dan santun tersapu budaya barat, beberapa ulama mulai menyiarkan Islam ke seantero nusantara. Seperti yang dilakukan Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad ulama asal Ulu Palembang yang sahid ketika akan menyiarkan Islam ke Batavia.

Menurut Habib Ali, keturunan langsung Mbah Priok, ulama yang dilahirkan pada tahun 1727 masehi di Ulu Palembang ini memiliki nama asli Al Imam Al`Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad RA. Sejak kecil Habib Hasan memang tekun mempelajari dan mendalami agama Islam.

Pada tahun 1756, Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad RA bersama Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad RA pergi ke pulau Jawa dengan tujuan menyiarkan agama Islam bersama tiga orang azami dari Palembang dengan menggunakan perahu layar.

Perjalanan Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad RA yang memakan waktu dua bulan mendapat banyak rintangan. Salah satunya, ketika perahu Habib Hasan berpapasan dengan armada Belanda yang memiliki artileri lengkap. Tanpa peringatan, perahu Habib Hasan dihujani meriam oleh kapal Belanda. Hebatnya, tak satupun meriam berhasil mengenai perahu yang ditumpangi Habib Hasan.

Selain kapal Belanda, ternyata perahu yang ditumpangi Habib Hasan tak luput dari gulungan ombak. Gelombang dasyat terus menghajar perahu kecil, sehingga menghanyutkan semua perbekalan yang dibawa. Begitu ombak reda, hanya tersisa alat penanak nasi dan beberapa liter beras yang berserakkan.

Cobaan belum berakhir karena beberapa hari kemudian ombak besar kembali menggulung perahu Habib Hasan. Tak kuasa menahan gelombang besar, akhirnya perahu terbalik dan menewaskan 3 azami yang menyertai habib. Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad dan Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad RA selamat. Dengan kondisi yang lemah dan kepayahan, keduanya terseret hingga semenanjung yang saat itu belum bernama.

Ketika ditemukan warga, Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad sudah tewas sedangkan Muhammad Al Hadad masih hidup. Disamping keduanya, terdapat priuk dan sebuah dayung. Akhirnya warga memakamkan jenazah Habib Hasan tak jauh dari tempatnya ditemukan. Sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa dayung yang menyertainya. Sedangkan priuk diletakkan di sisi makam.

Lambat laun, dayung yang dijadikan nisan terus berkembang dan menjadi pohon Tanjung. Sementara, Priuk yang tadinya berada di sisi makam terus bergeser ke tengah laut. Bahkan warga sekitar mempercayai, selama 3-4 tahun sekali, priuk itu muncul di lautan dengan ukuran makin membesar sampai sebesar rumah. Dengan kejadian tersebut, orang sekitar menamakan daerah tersebut menjadi Tanjung Priuk dan ada juga sebutan Pondok Dayung yang artinya dayung pendek.

Sementara itu sewafat Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad, Habib Ali Al Haddad yang selamat menetap di daerah itu dan melanjutkan perjalanan sampai ke Pulau Sumbawa hingga menetap selamanya di pulau tersebut. Makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad yang awalnya berada di Pelabuhan Tanjungpriok, dipindah ke wilayah pelabuhan peti kemas Koja Utara oleh Belanda. Saat itu Belanda ingin membangun pelabuhan, namun pembangunan selalu gagal karena ada makam keramat di kawasan tersebut. Setelah makam dipindah baru pelabuhan bisa dibangun.

Makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad yang wafat pada tahun 1756, kemudian diurus oleh keluarganya yang sengaja pindah dari Ulu Palembang. Menurut Habib Ali, salah satu keturunan Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad, karena bersejarahnya, hingga saat ini peziarah rajin mengunjungi makam itu dan mencari ketenangan batin di kawasan tersebut. Bahkan setiap malam Jumat, peziarah di makam itu bisa berjumlah ratusan orang. (bjc/juc)



Berita Media Online Jakarta Utara dari hal : http://www.jakartautara.com/article.php?storyid=10113

Kampung Bandan, Kampung Para Budak


Pemandangan kumuh, kotor, langsung terlihat begitu kita melewati kawasan bernama Kampung Bandan di Jakarta Utara. 

Di kampung ini, seperti juga kehidupan liar di sepanjang rel kereta api, masalah kebersihan dan kesehatan bukan sesuatu yang mutlak harus ada. Perangkat MCK tak selalu digunakan dengan semestinya, itu pun kalau memang ada MCK yang layak.


Buku Asal Susul Nama Tempat di Jakarta terbitan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman tahun 2004 mencatat ada tiga kemungkinan asal muasal mengapa kawasan ini disebut Kampung Bandan. Pertama, kampung yang berlokasi di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa ini diperkirakan berasal dari kata Banda, pulau di Maluku.


Ditengarai ada sekumpulan masyarakat Banda, di zaman Batavia, yang menghuni kawasan ini. Penyebutan ini disebut lazim mengingat kasus lain punya kemiripan seperti penyebutan nama kampung China sebagai Pecinan, nama tempat memungut pajak atau cukai (bea) disebut Pabean, dan Pekojan sebagai perkampungan orang Koja (Arab).


Banda juga bisa berasal dari kata Banda dalam bahasa Jawa yang berarti ikatan - dibanda (diikat). Ini dihubungkan dengan peristiwa yang sering dilihat oleh warga pada zaman pendudukan Jepang. ketika itu Jepang sering membawa pemberontak dengan tangan terikat  melewati kampung ini untuk dieksekusi di Ancol.
 
Kemungkinan ketiga adalah bahwa Banda merupakan pengucapan dari kata  pandan. Pasalnya di masa lalu kampung ini dipenuhi pohon pandan sehingga warga menyebut Kampung Pandan - kemudian menjadi bandan.


Apapun, yang pasti sejarah menyebutkan, kampung ini merupakan penampungan budak dari Pulau Banda, Maluku,  ketika JP Coen menaklukkan pulau itu pada 1621. Pembantaian besar-besaran dilakukan Coen, mereka yang selamat diboyong ke Batavia. Dalam catatan Warta Kota, budak-budak tadi memberontak melawan VOC di Marunda.


Setelah periode perbudakan usai, tawanan tadi dipekerjakan di Pasar Ikan.  Pasalnya, kawasan kampung dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, yang otomatis dekat dengan Pasar Ikan. Mereka tetap mendiami kampung tersebut, tumbuh berkembang dan beranak pinak. Di kawasan itu akhirnya dibangun pula jalur kereta api, yaitu ketika Pelabuhan Tanjung Priok (baru) dibangun. Jalur kereta api itu untuk menghubungkan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Pelabuhan Tanjung Priok. Stasiun Kampung Bandan, inilah yang masih tersisa dari cerita ketika Jakarta masih bernama Batavia.


Selain stasiun sebuah masjid tua, Masjid Kampung Bandan, juga masih berdiri  dengan pemandangan jalan tol ke arah bandara. Di antara kekumuhan, kondisi tak sehat, kotor, berantakan, kawasan ini tetap layak menjadi tujuan wisata karena menyisakan stasiun dan masjid dari abad 19. Kampung Bandan dalam peta kawasan Kota Tua sesuai dengan Peraturan Gubernur No 34 tahun 2006 adalah batas bagian timur. Jadi tempat ini pun masuk dalam program revitalisasi Kota Tua. (kompas)



Berita Media Online Jakarta Utara dari hal : http://www.jakartautara.com/article.php?storyid=9375

 
 
Copyright © 2014 JAKARTA UTARA. All Rights Reserved. Powered by Lintas Daerah
Template by Creating Website and Kang Lintas