Pemerintahan    Pendidikan    Kesehatan    Pariwisata    Perhubungan    Pelabuhan    Dukcapil    Damkar    PU Jalan    PU Air    LMK    KBN    PKK    BPN    PMS    P2B    Tokoh   

Cegah Rabies, 1.615 Hewan Peliharaan Divaksin


Untuk menjaga wilayah DKI Jakarta bebas rabies serta melindungi warganya dari penyakit rabies, Sudin Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara telah melakukan vaksinasi terhadap 1.615 hewan untuk mengantisipasi penularan penyakit rabies di Jakarta Utara. Penyuntikan vaksin itu dilakukan terhadap hewan penyebar rabies (HPR) seperti anjing, kucing, dan kera.

Kasie Peternakan Sudin Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, Arifiana mengatakan, jumlah hewan pembawa rabies yang telah divaksin periode Januari-Juli 2012 sebanyak 1.615 hewan, terdiri dari 1.524 ekor anjing, 81 ekor kucing, dan 10 ekor kera. "Ribuan hewan tersebut kami vaksin dengan pelayanan jemput bola atau dari rumah ke rumah di 15 kelurahan di Jakarta Utara dengan biaya retribusi Rp 5.000 per ekor. Sedangkan, 16 kelurahan lagi akan selesai akhir tahun ini," ujar Arifiana, Senin (23/7).

Dikatakan Arifiana, ribuan hewan tersebut sangat rentan terhadap penularan penyakit rabies ke manusia, sehingga diberikan suntik vaksin rabisin sesuai standar dari Dinas Peternakan dan Kelautan DKI Jakarta. Suntik vaksin tersebut dilakukan minimal setiap satu tahun sekali. "Tujuannya memberikan kekebalan terhadap penyakit rabies kepada hewan pembawa rabies. Vaksinasi ini juga untuk melindungi masyarakat terhadap hewan pembawa rabies," katanya.

Saat pelayanan jemput bola itu dilakukan, lanjut Arifiana, pihaknya mengerahkan tiga orang petugas, yang terdiri dari, petugas pencatat, vaksinator, dan dokter hewan. Usai disuntik, petugas memberikan surat keterangan vaksinasi rabies, dan stiker vaksin anti rabies sebagai tanda bukti hewan itu sudah divaksin.

"Tahun ini kami targetkan 3.000 hewan pembawa rabies yang akan divaksin rabies. Hewan yang paling bahaya dengan gigitannya adalah anjing dengan presentasi penularan penyakit rabies ke manusia sebesar 90 persen, sedangkan 10 persen sisanya dari kucing dan kera," katanya.

Meski begitu, ditambahkan Arifiana, pihaknya masih menemui kesulitan saat melakukan penyuntikan vaksin rabies terhadap ribuan hewan-hean tersebut. Seperti, pemilik hewan yang sulit ditemui, hewan yang sulit dikendalikan saat dilakukan penyuntikan dan rendahnya tingkat kesadaran pemilik hewan untuk memberikan vaksin terhadap hewan peliharaannya. "Jika ada anjing atau hewan pembawa rabies lainnya berkeliaran, warga bisa melaporkannya kepada petugas untuk ditindaklanjuti," tandasnya.
Sumber : beritajakarta.com 

 

Pemkot Jakut Razia Makanan Berformalin


Bulan Ramadhan ini, Suku Dinas Dinas Pertanian, Perikanan dan Kelautan (Sudin P2K) Jakarta Utara mengintensifkan monitoring pemakaian bahan tambahan pangan berbahaya atau formalin untuk daging ayam dan sapi di pasar–pasar yang ada di Jakarta Utara. Hal ini dilakukan dengan tujuan memberikan keamanan bagi masyarakat uang akan mengkomsumsinya.
.
“Bulan Ramadhan permintaan daging ayam dan sapi di wilayah Jakarta Utara terus meningkat. Jika hal ini tidak kami lalukan dikhawatirkan situasi seperti saat ini dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggungjawab untuk menjual daging rusak seperti berformalin, busuk, glondong dan adanya kandungan bahan tambahan pangan yang bisa membahayakan konsumen,” kata Kepala Sudin P2K Jakarta Utara, Sri Wahyuni Sensusiwati.

Diakui oleh Kasudin, pihaknya melakukan pengawasan dengan cara sidak di pasar-pasar yang ada di Jakarta Utara. Bahkan pada sidak ini pihaknya mengambil 75 sampel berupa usus serta air rendaman karkas ayam dan daging yang dicurigai yang diduga sudah diberi cairan berbahaya.

Sasaran sidak itu antara lain Pasar Kalibaru, Pasar Bendungan Melayu, Pasar Pluit, Pasar Pendongkelan, Pasar Teluk Gong, Pasar Pluit, Pasar Mandiri, Pasar Warakas, Pasar Sukapura, Pasar Rawa Badak, Pasar Pademangan Timur, Pasar Pademangan Barat.

Dalam kegiatan itu 12 petugas diterjunkan secara serentak ke pasar-pasar. “Sempel itu jika terbukti adanya pemakaian bahan tambahan pangan yang tidak dibenarkan, maka daging ayam atau sejenisnya kami sita untuk selanjutnya kami musnahkan, “tutur Sri Wahyuni.

Walikota Jakut Bambang Sugiyono menjelaskan, sidak ke pasar-pasar ini dilakukan dalam upaya pemerintah Jakarta Utara memberikan layanan yang terbaik kepada masyarakat.

“Saya berharap dengan adanya sidak ini, masyarakat Jakarta Utara akan terhindar dari daging-daging yang membahayakan untuk dikomsumsi ini. Saya juga berharap kepada masyarakat untuk bekerja sama jika mengetahui adanya ada penjualan daging glondongan, berformalin atau lainnya agar secepatnya melaporkan agar secepatnya dapat di tindak lanjuti,”terangnya. Selain itu Walikota juga meminta kepada pihak Sudin P2K untuk terus meningkatkan pengawasan, jangan sampai ada orang – orang yang ingin mencari keuntungan sepihak seenaknya saja. Kalau terus dilakukan pengawasan langsung, tentunya para konsumen daging ayam dan sejenisnya di Jakarta Utara akan ikut merasa aman, tegasnya. 
 Sumber : poskotanews.com

Ribuan Nelayan Di Jakut Segera Dapat Raskin


Cuaca buruk yang melanda ibukota Jakarta dalam dua bulan terakhir, berdampak dengan hilangnya mata pencaharian para nelayan Jakarta Utara, sehingga mereka bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Untuk itu, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara bekerjasama dengan Perum Bulog DKI Jakarta akan memberikan beras miskin (raskin) kepada 4.000 nelayan kecil di Jakarta Utara.

Kasie Perikanan dan Kelautan Sudin Peternakan, Perikanan dan Kelautan (P2K) Jakarta Utara, Sri Hartati mengatakan cuaca buruk tersebut menyebabkan para nelayan tidak berani melaut, sehingga mereka tidak mempunyai penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. "Kami telah berkoordinasi kepada Dinas Sosial dan Perum Bulog DKI Jakarta mengenai bantuan raskin itu kepada nelayan kecil, dan Perum Bulog sendiri sudah memberi sinyal positif dengan bantuan raskin tersebut," kata Sri, Selasa (7/2).

Menurutnya, jumlah nelayan di Jakarta Utara pada saat ini mencapai 15.670 nelayan, dengan rincian terdapat 8.808 nelayan penetap atau memiliki KTP DKI Jakarta, dan 6.862 nelayan pendatang yang tidak memiliki KTP DKI Jakarta. "Kami hanya memberikan raskin kepada 4 ribu nelayan kecil yang mempunyai KTP DKI Jakarta," ujarnya.

Ditambahkannya, bantuan tersebut berdasarkan koordinasi antara Walikota Jakarta Utara, Dinas Sosial DKI Jakarta, Tagana (taruna tanggap darurat bencana), dan Dinas kelautan dan Perikanan DKI Jakarta, serta UPT/UPTD Pelabuhan Perikanan kepada Perum Bulog untuk memanfaatkan cadangan beras pemerintah (CBP). Hitungan rumusnya adalah seperempat kilogram beras x jumlah nelayan x 5 jiwa x 0,4 kg x 14 hari. "Kami sudah ajukan jumlah raskin sebanyak 112 ton beras untuk 4 ribu nelayan di Jakarta Utara. Rencananya bantuan itu akan disalurkan pada bulan Maret 2012 mendatang," ungkapnya.

Selain memberikan raskin, lanjut Sri, pihaknya juga memberikan bantuan pembinaan pelatihan teknis penangkapan kepada nelayan di Jakarta Utara. "Bantuan raskin kepada 4 ribu nelayan itu berasal dari nelayan Kamal Muara, Muara Angke, Cilincing, Marunda, Muara Baru, dan Kali Baru," ucap Sri.

Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono menambahkan pihaknya telah mendapatkan data dari Sudin (P2K) Jakarta Utara bahwa dari sekitar 15 ribu nelayan di Jakarta Utara, 4 ribu nelayan kecil diantaranya tidak punya usaha dan ini harus diberikan bantuan. "Saya sudah koordinasikan oleh Dinas Sosial DKI Jakarta untuk memberikan bantuan beras kepada nelayan yang akan menerima beras dari Perum Bulog. Sedangkan, bantuan dari Sudin P2K seperti alat dan sarana prasarana akan disalurkan," tandasnya. (Furqon).

 
 
Copyright © 2014 JAKARTA UTARA. All Rights Reserved. Powered by Lintas Daerah
Template by Creating Website and Kang Lintas