Sejumlah warga di lingkungan RW 13 dan 14 Kelurahan Tanjung Priok, Tanjung Priok, Jakarta Utara mengeluhkan pelayanan air pam. Pasalnya, sudah empat hari air pasokan air pam ke pemukiman warga kotor dan bau.
"Air tetap keluar tapi kotor dan mengeluarkan aroma seperti air got. Kami sudah beberapa hari tidak dapat menggunakan air pam, jadi kami tidak dapat mandi," ujar Erni, 25, warga RW 14 Tanjung Priok kepada jakartautara.com, Minggu (06/05/2012).
Ia mengaku untuk mendapatkan air bersih harus mencari ketempat hidran yang airnya normal atau beli melalui gerobak dorong. "Kalau beli satu pikul bisa Rp 5.000 tergantung jauh atau dekat. kalau seperti ini terus kami jadi kecewa. Pengeluaran terus bertambah padahal pendapatan tidak seberapa," kata ibu satu anak yang mengaku pekerja garmen itu.
Yanti, 27, warga RW 13 Tanjung Priok juga mengeluhkan hal yang sama. Ia terpaksa harus mengambil air sendiri karena tidak mempunya uang untuk beli melalui gerobak. "Kalau punya uang si maunya beli aja jadi tidak repot harus ngisi drum mandi dengan ember meskipun bayar tapi lebih murah dibanding beli pikulan atau gerobak. Kebetulan ada hidran yang airnya bersih dan tidak terlalu jauh dari tempat kami," ucapnya.
Ia berharap pihak perusahaan swasta yang mengelola pasokan air di wilayah tanjung Priok cepat tanggap. "Kalau perlu setiap ada gangguan pasokan air pengelola turunkan mobil tangki disini agar konsumen merasa diperhatiakan. Jangan kalau konsumen telat bayar saja cepat menagihnya sampai kerumah sedangkan pelayanan kerab mengorbankan konsumen," katanya.
"Mas disini (Tanjung Priok) ada ribuah pekerja buruh pelabuhan atau garmen kalau air mati seperti ini kami yakin banyak yang tidak mandi. Akibatnya bisa menimbulkan penyakit gatal gatal karena kerja mengeluarkan keringa sedangkan mau mandi tidak punya air," tambahnya.
Ribuan rumah warga yang tinggal di RW 011, 08 dan 20, Muara Angke, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara sejak tiga bulan lalu kesulitan air bersih, karena kondisi air selain keruh juga bau. 