Pemerintahan    Pendidikan    Kesehatan    Pariwisata    Perhubungan    Pelabuhan    Dukcapil    Damkar    PU Jalan    PU Air    LMK    KBN    PKK    BPN    PMS    P2B    Tokoh   

Acungkan Jari Tangan, Pemuda Tewas Dikeroyok

MUARA ANGKE (Pos Kota) – Hanya karena bertatapan mata, tetapi harus dibayar mahal dengan nyawa. Peristiwa tersebut terungkap saat dilakukannya rekonstruksi pembunuhan yang terjadi di Pelabuhan Ikan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara.

Dalam reka adegan ulang yang dilakukan anggota Reskrim Polsek Kawasan Sunda Kelapa, diketahui kejadian berawal pada 19 September 2011 sekitar pukul 01.30 dinihari, tujuh tersangka dan sejumlah saksi sedang duduk-duduk di depan warung nasi yang berlokasi di lantai II No. 16 Kios UPT BTPI Pelabuhan Muara Angke Jakarta Utara.

Posisi ke tujuh tersangka di depan warung yang sudah tutup dan posisi korban saat itu duduk sambil jongkok di lantai pas berhadapan dengan ketujuh tersangka.

Saat itu juga antara korban dengan tersangka saling bertatap mata dan korban lalu mengeluarkan kata-kata “Apa lu liatin gua, lu nggak suka,” ucap korban Jimi dan dijawab tersangka Asmadi, “Emangnya nggak boleh.”

Spontan korban lalu hendak memukul tersangka Asmadi tetapi di lerai ole tersangka lainnya Wendi, Rosadi. Namun korban tidak terima dan mengacungkan jari tengah kearah tujuh tersangka yang menterjemahkan sebagai isyarat pelecehan atau ledekan.

TIDAK PUAS

Kemudian Suciardi, tersangka lainya memukul Jimi (korban) sebanyak dua kali menggunakan tangan kosong mengenai bagian punggung korban. Tidak puas, Suci lalu memukul korban dengan tempat sampah yang terbuat dari Styrofoam ( busa ).

Namun Asmadi tersangka lainnya tiak puas teman-temannya hanya memukuli Jimi dengan tangan kosong. Dia lalu meraih gelas bergagang dan bangku lalu menghajarnya ke kepala korban bagian belakang. Disusul Asmadi menghunuskan pisau lipatnya ke bagian kiri korban dan tangan kanannya merangkul korban.

Mengetahui korbannya sekarat, ketujuh tersangka meninggalkannya dan Jimi berusaha meminta pertolongan lalu oleh warga yang melihat dilarikan ke RS Atma Jaya, tetapi nyawanya tidak tertolong. (dwi/b)

Kesulitan Air Bersih, Warga Muara Angke Mengeluh

Kesulitan Air Bersih, Warga Muara Angke MengeluhRibuan rumah warga yang tinggal di RW 011, 08 dan 20, Muara Angke, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara sejak tiga bulan lalu kesulitan air bersih, karena kondisi air selain keruh juga bau.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka warga terpaksa membeli air isi ulang untuk dikomsumsi, sedangkan untuk mandi cuci dan kakus MCK menggunakan air sumur.

Menurut H Kafidin, ketua RW 11, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, dirinya dan warga sekitar kesal dengan layanan PT Palyja yang dianggap buruk. “Kami dalam satu hari bisa membeli air lima pikul atau Rp 25 ribu itupun terkadang kurang karena keluarga kami cukup banyak. Yang lebih membuat kami sengsara lagi, sudah sulit mendapat air juga berebut dengan warga lainnya,” keluh Kafidin saat dihubungi via telepon selulernya Senin (13/11).

Dia juga menambahkan kesulitan air bersih itu terjadi sejak bulan Agustus hingga saat ini. Meskipun kami sudah beberapa kali meminta kepada pihak PT Palyja yang bertanggungjawab, namun hingga saat ini belum ada tindakan untuk meningkatkan pelayanan soal pasokan air.

Akibatnya kesulitan air bersih ini, beban hidup masyarakat di kelurahan Muara Angke yang sebagian besar nelatan menjadi bertambah. Untuk itu dia bersama warga berharap kepada pemerintah Pemkot Jakarta Utara untuk menindak lanjuti kesulitan warga.

Kekesalan yang sama juga diungkapkan oleh Suprato, warga RW 08, Muara Angke, Pluit, Penjaringan, , Jakarta Utara. Menurutnya, setiap pagi-pagi dirinya sudah keluar rumah dengan membawa gerobak yang berisi jerigen untuk membeli air bersih. Ini dilakukan karena selain untuk kebutuhan masak dan minum, juga akan digunakan kedua anaknya untuk bersekolah.

“Biasanya, sebelum saya berangkat kerja beli air dulu untuk keperluan masak dan mandi anak-anak, jika tidak mungkin kami seharian tidak ada mandi. Terkadang kami juga sekali sehari mandi, itu karena tidak ada uang untuk membeli air,”jelas Suparto, yang berkerja sebagai kuli bangunan.

Menanggapi hal itu, Sekertaris Kecamatan Penjaringan Yani Wahyu didampingi Sekertaris Kelurahan Pluit Awang, mengakui adanya kelurahan warga soal pasukan air bersih di 3 RW dan 31 RT yang ada di Muara Angke. Meski begitu pihaknya saat ini juga berupaya untuk menindak lanjuti keluhan warga tersebut dengan cara mengirim surat kepada pihak Palyja untuk meningkatkan pelayanan. “Memang kami sudah berusaha memfasilitasi antara warga dan pihak PT Palyja soal kesulitan air berih ini. Namun, sampai saat ini pasokan air tersebut kembali tersedat sehingga warga merasa kesulitan dengan pasokan air tersebut,”jelas Yani Wahyu.
 
Sumber / Link : poskota

 
 
Copyright © 2014 JAKARTA UTARA. All Rights Reserved. Powered by Lintas Daerah
Template by Creating Website and Kang Lintas