Pemerintahan    Pendidikan    Kesehatan    Pariwisata    Perhubungan    Pelabuhan    Dukcapil    Damkar    PU Jalan    PU Air    LMK    KBN    PKK    BPN    PMS    P2B    Tokoh   

Orang Australia Tembak dan Setrum Sapi Sebelum Dipotong


Rumah Pemotongan Hewan (RPH) milik Pemda PT Dharmajaya di Rawabadak, Jakarta Utara semakin sepi. Saat ini RPH Rawabadak hanya dikhususkan untuk pemotongan sapi lokal.

Juru Bicara RPH PT Dharmajaya Rawabadak Ramdhani mengatakan dulunya tempat ini masih bisa memotong sapi impor asal Australia. Tetapi ada sebuah kebijakan aneh yang membuat pemerintah daerah menuruti perintah eksportir sapi.

"Beberapa bulan ke belakang ada beberapa orang Australia datang ke tempat ini dan mengatakan tata cara motong kami menyiksa sapi," tutur Ramdhani kepada detikFinance di RPH Rawabadak Jakarta Utara, Kamis (22/11/2012).

Ramdhani menambahkan tata cara kami dalam memotong sapi sesuai dengan hukum syariah islam yaitu menghadap kiblat dan memotong dengan menggunakan alat tajam. Menurutnya mereka (orang Australia) apa yang kami lakukan menyiksa sapi-sapi itu. Kami dianjurkan untuk memotong sesuai dengan cara mereka yaitu ditembak atau disetrum.

"Ini aneh, cara kami sudah benar tetapi kok dipermasalahkan. Mereka menghendaki sapi ditembak atau disetrum untuk tidak terlalu menyiksa sapi. Ini cara yang aneh," paparnya.

Ramdhani tetap bersikukuh untuk memotong sesuai syariah islam yang sesungguhnya. Dengan kejadian ini, khusus Rumah Pemotongan Sapi Impor dipindahkan ke daerah Karawaci dan mulai diberlakukan tahun lalu.

"Tahun lalu mulai diberlakukan. Jadi dipindahkan ke daerah Karawaci. Mereka menganggap tempat kami tidak layak untuk motong sapi impor padahal kami mempertahankan hukum islam oleh karena itu kami hanya mengandalkan juragan sapi yang motong sapi lokal," cetusnya.


Sumber : detik.com


27 Ekor Unggas Di Musnahkan, Cegah Flu Burung

Paska tewasnya Puguh Dwi Yanto (23) warga Jalan Baru Ancol Selatan RT 10/6 No 30 Sunter Agung, Tanjungpriok, Jakarta Utara, yang diduga suspect flu burung, rupanya membuat Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara dan Sudin Peternakan, Perikanan dan Kelautan (P2K) Jakarta Utara menggelar sweeping unggas. Alhasil, sebanyak 27 unggas dimusnahkan dengan cara dipotong dan dibakar.

Pada kegiatan tersebut, ditemukan lebih dari 500 unggas peliharaan yang tersebar di dua areal ternak milik warga Amir RT8/06 dan milik Ardi RT10/06 Sunter Agung, Tanjungpriok, Jakarta Utara, serta areal adu tangkas burung merpati yang dimiliki beberapa warga setempat. Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono bersama tim Sudin (P2K) Jakarta Utara juga membakar satu kandang ternak ayam milik Amir dan memusnahkan seluruh ternak unggasnya sebanyak 27 ekor, diantaranya 20 ekor entok, 5 ekor ayam, dan 2 ekor angsa.

Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono mengatakan kegiatan hari ini untuk memonitor ke lapangan dan beberapa unggas disembelih dan dimusnahkan, serta kandangnya dibakar. "Saya minta yang lain juga mengkuti, termasuk tempat pangkalan untuk bermain burung merpati. Disana mereka sudah menunjukkan sertifikasi, tetapi saya minta mereka mengikuti aturan yang ada melalui Sudin Peternakan dan Perikanan Jakarta Utara, kalau mereka membandel terpaksa kami akan tutup," kata Bambang, Senin (9/1).

Menurutnya, mulai Minggu (8/1) kemarin tim Sudin Peternakan dan Perikanan Jakarta Utara telah mengambil 63 sampel unggas, dan hasilnya masih menunggu. Namun, bila hasil
di laboratorium Balai Kesehatan Hewan dan Ikan DKI Jakarta menyatakan positif flu burung, semua unggas yang ada disini akan dimusnahkan. "Dengan adanya kejadian ini, mudah-mudahan menjadi hikmah supaya kita bisa hidup lebih bersih dan sehat," ujarnya.

Bambang menghimbau kepada warga RT10/06 agar semua unggasnya dicek kembali, dan sesuai Perda 4 tahun 2007 bahwa terhadap unggas-unggas yang berkeliaran supaya diambil, dan untuk dipelihara harus memiliki sertikasi dan harus diperbaharui selama 6 bulan sekali di Sudin (P2K) Jakarta Utara, karena dengan adanya sertifikasi ini kesehatan unggas akan terjamin. "Tetapi, kepada unggas yang berkeliaran saya minta kepada Lurah dan Camat untuk melakukan pendeteksian agar masalah ini tidak menyebar," ucapnya.

Sementara itu, dirinya merasa prihatin atas meninggalnya Puguh Dwi Yanto (23) yang terkena suspect flu burung. Sebab, dari awalnya korban memang suka bermain burung merpati dan juga merawat burung yang sakit. Dari situ korban sakit demam tinggi dan dibawa ke RS Satyanegara selama beberapa hari. "Karena diduga adanya suspect flu burung, sehingga dirujuk ke Sulianty Saroso dan disana ada perbaikan rehab ventilator, sehingga tidak ada ruangan. Ketika dibawa ke RSUD Tangerang korban disana meninggal dunia," ungkapnya.

Ditambahkannya, di Jakarta sendiri hanya terdapat 3 rumah sakit yang mempunyai rujukan untuk penyakit flu burung, yaitu RS Gatot Subroto, RS Sulianty Saroso, dan RS Persahabatan. "Kami telah menyemprotkan disinfektan Beusecurity kepada rumah korban dan juga telah mengambil sampel cairan hidung, tenggorokan kepada kerabat dekat korban," tuturnya.

Kasie Pengawasan dan Pengendalian Sudin peternakan dan perikanan Jakarta Utara Muhammad Nasir menambahkan sebanyak
27 unggas milik Amir RT8/06
dimusnahkan dengan cara dipotong dan dibakar, serta satu kandang dibakar. Lima paket kandang milik Ardi RT10/06 juga dibakar. Selain itu, pihaknya juga memeriksa sertifikat 500 burung merpati dengan perawatan dan pemeliharaan yang benar. "Pemilik unggas yang kami bakar itu sudah rela untuk dibakar, karena mereka mengetahui sebelumnya ada dugaan suspect flu burung, agar virusnya tidak menyebar," ungkapnya.

Ketua LMK RW06, Didi Sumardi mengatakan pada pangkalan burung ini terdapat 5 lapak dan 75 pasang burung merpati. Ratusan burung tersebut merupakan milik warga setempat yang ditampung disini. "Kami sudah membuat sertifikasi, dan juga memberikan vaksin 6 bulan sekali, serta kandang juga setiap hari selalu dibersihkan. Sampai saat ini belum ditemukan burung yang mati disini, tetapi ada beberap burung yang gejalanya sakit dan langsung ditangani," tandasnya.

Seorang Pemuda Di Duga Meninggal Karena Flu Burung

Seorang pemuda yang belakangan diketahui bernama Puguh Dwi (23), warga Jl Baru Ancol Selatan, RT 10/06, Sunter Agung, Tanjungpriok, Jakarta Utara tewas akibat diduga suspect flu burung. Pria yang kesehariannya bekerja di bengkel las ini diketahui memiliki unggas jenis burung merpati di sekitar tempat tinggalnya.

Sriyati (48), ibu korban menuturkan, anaknya itu awalnya mengeluh badannya menggigil dan menderita panas tinggi hingga 39 derajat celcius seusai merayakan tahun baru, Minggu (1/1) lalu. Setelah diberi obat, panas yang diderita korban sempat turun. Namun, keesokan harinya korban kembali merasakan panas tinggi hingga menggigil. "Akhirnya, Senin (2/1) langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Satyanegara, Sunter. Oleh dokter, anak saya hanya divonis menderita sakit maag dan dibolehkan pulang," ujar Sri, ditemui di kediamannya, Minggu (8/1).

Setelah itu, dikatakan Sriyati, keesokan harinya, Selasa (3/1) kondisi Puguh membaik dan hanya dirawat di rumah. Namun, hari Rabu siang (4/1) kondisinya menurun hingga tidak bisa berjalan, sehingga dibawa lagi ke rumah sakit Satyanegara dan dirawat hingga Sabtu (7/1) sore hingga masuk ruang ICU isolasi. Dari keterangan dokter, korban divonis penyakit maag, sesak nafas, DBD, jantung, dan gejala flu burung.

Karena keterbasan alat di RS Satyanegara, lanjut Sriyati, pada Sabtu (7/1) sore pihak RS Satyanegara akhirnya merujuk Puguh ke RS Sulianti Saroso. Namun, saat itu korban tidak mendapatkan kamar karena penuh. Pihak keluarga juga berusaha untuk mengontak RS Persahabatan, namun lagi-lagi, tidak ada kamar kosong.

"Setelah itu pihak RS Satyanegara merujuk Puguh ke RSUD Tangerang. Namun, saat sampai di RSUD Tangerang nyawa korban sudah meninggal, dan sempat diberikan alat pacu jantung untuk memancing jantung Puguh. Tapi hasilnya sia-sia. Korban meninggal hari Sabtu (7/1) sekitar jam 19.00 dan langsung dimandikan dan dimasukkan ke dalam peti mati," ucapnya.

Puguh yang merupakan anak pasangan dari Sriyati (48) dan Mariono (58) ini merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Hampir setiap sore, Puguh selalu memainkan dan berhubungan langsung dengan burung merpati kesayangannya. "Puguh punya beberapa burung merpati peliharaan, tetapi burung peliharaannya dititipkan ke rumah tetangga yang berjarak 200 meter dari rumah. Puguh pernah memegang burung merpati yang sudah sakit dan berhubungan langsung dengan burung yang sudah mati di selokan, sehingga diduga Puguh suspect flu burung," kata Sriyati.

Selain menewaskan Puguh, lanjut Sriyati, adik korban yang diketahui bernama, Adra Soraya Ramadani (5) yang merupakan anak keempatnya, sejak hari Sabtu (7/1) kemarin juga dirawat di ICU khusus flu burung RS Persahabatan Jakarta Timur dengan gejala demam, batuk, dan pilek.

Kasie Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, Arifiana menambahkan, sebanyak 43 unggas yang berada di sekitar rumah korban telah diambil sampelnya. Ke-43 unggas tersebut diantaranya burung merpati 31 ekor, burung ocehan 2 ekor, entok 2 ekor, dan ayam kampung 8 ekor. "Hasilnya akan dilihat 3 hari di laboratorium Balai Kesehatan Hewan dan Ikan DKI Jakarta," ujarnya.

Menurutnya, dengan kondisi musim hujan seperti saat ini sangatlah rawan terhadap kesehatan unggas. "Begitu kondisi tubuh menurun, masyarakat tidak boleh pelihara unggas dan juga tidak boleh unggas berada di pemukiman. Kejadian ini baru pertama kali terjadi di Sunter, dan besok rencananya tim kami akan menggelar sweeping terhadap unggas di wilayah ini," tuturnya.

Kasie Pengendalian Kesehatan Masyarakat Sudin Kesehatan Jakarta Utara Ati Sukmaningsih menambahkan, korban diduga suspect flu burung. Hal ini berdasarkan pemeriksaan Litbangkes Kemenkes RI yang dikirim dari RS Satyanegara yang diambil dari sempel korban pada cairan hidung, tenggorokan, dan darah korban.

"Sudah ada 8 orang kerabat dekat yang kontak dengan korban semasa hidupnya telah diberikan tamiflu obat anti virus flu burung, dan diambil cairan hidung dan tenggorokannya. Selanjutnya akan dipantau 10 hari sejak korban dinyatakan flu burung," jelasnya.

Selain itu, rumah korban juga diberikan cairan disinfektan agar tidak terjadi penularan flu burung.

330 Hewan Pembawa Rabies Diamankan

Untuk melindungi warganya dari penyakit yang ditularkan hewan pembawa rabies (HPR), Sudin Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara secara rutin menggelar operasi penangkapan hewan rentan rabies seperti anjing, kucing, dan kera liar. Hasilnya, sebanyak 330 hewan pembawa rabies berhasil diamankan petugas selama periode Januari-September tahun ini.

Kasie Pengawasan dan Pengendalian Sudin Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, Muhammad Nasir menegaskan wilayah DKI Jakarta sebenarnya masih termasuk daerah bebas rabies, terlebih Jakarta Utara. Sebab, pihaknya secara rutin melaksanakan penangkapan hewan pembawa rabies yang tidak dipelihara sesuai dengan ketentuan. "Sasaran kami menangkap anjing-anjing liar, kucing, dan kera yang tidak disukai dan dipelihara secara baik oleh masyarakat. Inilah yang menjadi sasaran kami, karena khawatir hewan tersebut bisa menularkan penyakit. Meskipun kasusnya belum ada, kami hanya berjaga-jaga agar masyarakat terbebas dari penyakit yang bisa tertular dari hewan ke manusia," kata Nasir, Kamis (27/10).

Ditambahkannya, dengan operasi ini, pihaknya juga mempertahankan wilayah DKI Jakarta bebas dari penyakit rabies. Terlebih hingga kini, penyakit tersebut belum ditemukan obatnya, dan hanya bisa dicegah melalui vaksin. "Kalau sudah terserang rabies, dalam waktu 24 jam tidak bisa tertolong. Hal ini yang memicu kami untuk melakukan perlindungan masyarakat melalui penangkapan hewan-hewan yang diduga menularkan penyakit rabies," ucap Nasir.

Berdasarkan data Sudin Peternakan, Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara, lanjut Nasir, jumlah hewan pembawa rabies selama periode Januari hingga September 2011 terjaring sebanyak 330 ekor. Rinciannya, anjing sebanyak 18 ekor, kucing 309 ekor, dan kera 3 ekor. Ke-330 hewan pembawa rabies tersebut antara lain, ditemukan di Kecamatan Pademangan, Penjaringan, dan Tanjungpriok. Hewan-hewan tersebut kemudian diserahkan ke Balai Kesehatan Hewan dan Ikan (BKHI) di Ragunan, Jakarta Selatan. "Hewan-hewan itu terjaring karena permintaan masyarakat. Sebab, keberadaannya liar dan meresahkan, serta tidak ada pemiliknya," katanya.

Pihaknya, tambah Nasir, mengimbau masyarakat yang memelihara hewan pembawa rabies agar memeliharanya dengan baik dengan mengurung atau memasangkan rantai yang diikatkan ke leher hewan serta tidak dilepas secara sembarang. Pemiliknya juga diminta melakukan vaksinasi anti rabies setiap tiga bulan, enam bulan atau setahun sekali tergantung kemampuan dari pemiliknya. "Kami juga mengadakan vaksinasi rabies dengan membayar biaya retribusi Rp 5.000 per hewan. Biasanya kami umumkan dan diadakan di setiap kelurahan setiap bulan," tandasnya.

 
 
Copyright © 2014 JAKARTA UTARA. All Rights Reserved. Powered by Lintas Daerah
Template by Creating Website and Kang Lintas